Beban Biaya E-commerce Tekan Margin Keuntungan Pelaku UMKM

Beban Biaya E-commerce Tekan Margin Keuntungan Pelaku UMKM

Sejumlah pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) mengeluhkan tingginya beban biaya layanan pada platform e-commerce yang berdampak signifikan terhadap penurunan margin keuntungan mereka. Kondisi ini dilaporkan terjadi seiring meningkatnya biaya administrasi, ongkos logistik, hingga beban iklan di berbagai aplikasi belanja daring pada Senin (11/5/2026).

Kenaikan biaya operasional ini dialami langsung oleh Fitria Harmeliani, seorang pelaku usaha di sektor home and living, sebagaimana dilansir dari Suara. Besaran biaya layanan tersebut dinilai sangat memberatkan para pengecer dan pelaku UMKM kecil yang memiliki selisih keuntungan sangat tipis sejak awal produksi.

"Biaya admin yang makin ga masuk akal, sedangkan margin kita udah tipis banget, buat UMKM kecil bener-bener kegerus," ujar Fitria, pelaku usaha home and living.

Beban yang harus ditanggung para penjual tidak terbatas pada komisi tetap platform, melainkan mencakup kebutuhan biaya tambahan untuk promosi agar produk tetap kompetitif. Para pedagang merasa terpaksa mengalokasikan dana untuk iklan agar barang dagangan muncul di posisi teratas hasil pencarian konsumen.

Selain biaya promosi internal, sistem komisi untuk pihak ketiga juga menambah daftar potongan pendapatan yang diterima oleh para pemilik toko daring.

"Barang belum kejual aja kita udah mengeluarkan banyak biaya," ucap Fitria.

Fitria menjelaskan bahwa tekanan ekonomi juga berasal dari faktor eksternal berupa lonjakan harga bahan baku plastik yang meningkatkan modal produksi barang rumah tangga. Situasi ini menyebabkan gangguan pada rantai pasok karena beberapa pabrik terpaksa menghentikan kegiatan operasionalnya.

Langkah tersebut diambil produsen karena biaya produksi yang tinggi dianggap sudah tidak mampu tertutup oleh harga jual di pasar, sehingga memicu kelangkaan sejumlah stok barang.

"Plastik makin naik, harga modal produk jadinya naik. Banyak pabrik yang akhirnya berhenti produksi dulu karena ga nutup, jadinya banyak barang yang OOS," jelas Fitria.

Selain aspek biaya dan modal, mekanisme pengembalian barang atau retur di pasar digital turut menjadi poin keberatan bagi para penjual. Kebijakan ini sering kali dianggap tidak adil karena membebankan biaya pengiriman kembali kepada penjual meskipun kesalahan bukan berasal dari sisi pedagang.

Fitria mencatat banyak kasus di mana pembeli menuntut retur tanpa alasan yang kuat, namun penjual tetap harus menanggung kerugian ongkos kirim.

"Kadang seller nanggung ongkir pengembalian barang itu padahal kita udah kirim produk sesuai yang dibeli," katanya.

Kesulitan tersebut memaksa pelaku usaha kecil mengambil opsi untuk menaikkan harga jual produk di tengah persaingan pasar yang ketat. Namun, penyesuaian harga ini berpotensi menurunkan volume penjualan karena harus berhadapan dengan brand besar atau importir yang memiliki kekuatan modal lebih stabil.

"Satu-satunya cara emang naikin harga, tapi penjualan bisa drop karena ada importir dan brand yang kadang modalnya gede. Jadi nggak naikin harga," pungkas Fitria.

Artikel terkait

Rekomendasi