BGN Temukan Kandungan Boraks pada Makanan Gratis di Anambas

BGN Temukan Kandungan Boraks pada Makanan Gratis di Anambas

Badan Gizi Nasional (BGN) mengumumkan temuan zat kimia boraks dan kontaminasi bakteri pada menu Makanan Bergizi Gratis yang menyebabkan ratusan siswa di Air Asuk, Kabupaten Kepulauan Anambas, Kepulauan Riau mengalami keracunan pada Minggu (3/5).

Hasil investigasi tersebut dikonfirmasi setelah tim melakukan pemeriksaan dua tahap, yakni uji cepat oleh Dinas Kesehatan setempat serta uji laboratorium lanjutan oleh Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM). Fakta mengenai temuan zat berbahaya ini dilansir dari Detik Health.

Ketua Tim Investigasi BGN, Arie Karimah Muhammad, menjelaskan bahwa proses pengujian mendeteksi adanya kandungan berbahaya pada tiga jenis menu yang dikonsumsi oleh para siswa tersebut.

"Hasil rapid test menunjukkan adanya kandungan boraks pada menu telur kecap, tempe goreng, dan tumis sayuran, dengan kadar berkisar 100 hingga 5.000 mg/L," kata Arie, Minggu (3/5), dikutip dari Antara.

Boraks atau sodium tetraborate merupakan bahan kimia yang peruntukan aslinya adalah sebagai pembersih rumah tangga, bahan deterjen, pengawet kayu, hingga pestisida. Meski dilarang untuk pangan, zat ini kerap disalahgunakan oleh pihak tidak bertanggung jawab guna menambah kekenyalan dan daya simpan makanan.

Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Gizi Klinik Indonesia (PP PDGKI), dr Iflan Nauval, M.ScIH, SpGK, Subsp.KM, SpKKLP, AIFO-K, memaparkan risiko kesehatan yang mengintai konsumen akibat paparan zat tersebut.

"Long-term itu pasti akan timbul. Long-term consume dari boraksnya akan timbul banyak sekali efeknya, mulai dari dia bisa timbul reaksi alergi, bahkan beberapa penyakit bisa menimbulkan ke arah kanker, dan sebagainya," kata dr Iflan.

Gejala kesehatan yang muncul dapat dibedakan menjadi dampak jangka pendek dan jangka panjang. Menurut dr Iflan, reaksi tubuh terhadap zat kimia tersebut bisa terjadi secara spontan sesaat setelah makanan masuk ke dalam sistem pencernaan.

"Kalau short-term bisa jadi mulai, muntah bisa gitu," katanya.

Pihak PP PDGKI menekankan pentingnya pengawasan ketat dan kolaborasi antarinstansi dalam menjalankan program Makanan Bergizi Gratis demi menjamin keselamatan para siswa. Upaya pencegahan menjadi kunci agar zat berbahaya tidak kembali ditemukan dalam pasokan pangan sekolah.

Artikel terkait

Rekomendasi