BGN Temukan Cemaran Nitrit dalam Kasus Keracunan Makan Bergizi Gratis

BGN Temukan Cemaran Nitrit dalam Kasus Keracunan Makan Bergizi Gratis

Badan Gizi Nasional (BGN) mengidentifikasi cemaran zat kimia nitrit yang melebihi batas aman sebagai penyebab keracunan massal pada puluhan balita dan ibu menyusui di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Insiden ini terjadi setelah para korban mengonsumsi menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada pertengahan April 2026.

Setidaknya 63 warga di dua desa di Kecamatan Leles mengalami gejala keracunan sejak Rabu (15/4) hingga Jumat (17/4). Berdasarkan laporan investigasi akhir sebagaimana dilansir dari Detik Health, temuan nitrit pada menu tumis pakcoy di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Leles 2 Sukasirna mencapai angka yang signifikan.

Ketua Tim Investigasi Independen BGN, Arie Karimah Muhammad, memberikan rincian data perbandingan kadar zat kimia tersebut terhadap standar keamanan pangan internasional yang berlaku.

"Jika merujuk batas maksimum JECFA untuk nitrit, yakni 0,07 mg/kg berat badan per hari. Tumis pakcoy tersebut mengandung 11,85 mg/kg, maka temuan di SPPG Leles 2 Cianjur mencapai 169 kali lipat di atas batas aman," ujar Arie Karimah Muhammad, Ketua Tim Investigasi Independen BGN.

Pemeriksaan Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Jawa Barat terhadap sampel makanan tanggal 13, 14, 15, 17, dan 18 April 2026 menunjukkan hasil negatif terhadap bakteri patogen seperti Salmonella sp, S. aureus, E.Coli, dan B.cereus. Arie menjelaskan bahwa peningkatan kadar nitrit pada sayuran dapat dipicu oleh aktivitas bakteri atau faktor eksternal lainnya.

"Dugaan sumber cemaran lain dapat berasal dari penggunaan pupuk organik atau nitrogen berlebihan, air resapan tercemar kotoran manusia atau hewan, atau limbah pabrik kimia di sekitar lahan pertanian," ujar Arie Karimah Muhammad, Ketua Tim Investigasi Independen BGN.

Zat nitrit yang tinggi dalam tubuh dapat memicu methaemoglobinemia yang mengganggu kemampuan darah dalam mendistribusikan oksigen. Kondisi ini secara langsung berdampak pada kondisi fisik para pengonsumsinya.

"Akibatnya, tubuh bisa terasa lemas dan muncul sesak napas, karena sel-sel tubuh kekurangan oksigen," ujar Arie Karimah Muhammad, Ketua Tim Investigasi Independen BGN.

Artikel terkait

Rekomendasi