Bitcoin Depot Ajukan Kebangkrutan dan Tutup Seluruh Jaringan ATM

Bitcoin Depot Ajukan Kebangkrutan dan Tutup Seluruh Jaringan ATM

Raksasa penyedia anjungan tunai mandiri (ATM) Bitcoin asal Atlanta, Bitcoin Depot, resmi menghentikan seluruh operasional layanannya setelah mengajukan perlindungan kebangkrutan Bab 11 secara sukarela pada Senin (18/5/2026).

Dilansir dari CNBC Indonesia, bisnis perusahaan yang terdaftar di bursa efek Nasdaq ini mengalami kejatuhan akibat pemberlakuan kewajiban kepatuhan dan aturan yang dinilai semakin rumit di tingkat negara bagian.

Langkah hukum tersebut diambil di Pengadilan Kepailitan AS untuk Distrik Selatan Texas guna mendukung penghentian operasional yang teratur serta memfasilitasi penjualan aset-aset perusahaan.

Sebelum jaringan dinonaktifkan secara total, Bitcoin Depot mengoperasikan 9.276 kios yang tersebar di Amerika Serikat, Kanada, dan Australia yang berfungsi mengonversi uang tunai ke mata uang kripto.

Laporan dari news.bitcoin.com menyebutkan bahwa regulasi yang diperketat mencakup pembatasan nilai transaksi, pemeriksaan identitas, peringatan penipuan, persyaratan perizinan, hingga peningkatan biaya operasional.

Tekanan ini diperparah oleh gugatan hukum tingkat tinggi dari jaksa agung di Massachusetts dan Iowa atas tuduhan memfasilitasi kasus penipuan kripto.

Berdasarkan data penegak hukum, kerugian akibat penipuan ATM kripto melonjak hingga 58 persen dari tahun sebelumnya, dengan total mencapai rekor 389 juta dolar AS pada tahun lalu.

Selain tekanan regulasi, kinerja keuangan Bitcoin Depot pada kuartal pertama tahun 2026 ambruk dengan penurunan pendapatan sebesar 49 persen secara tahunan.

Perusahaan mencatat kerugian bersih sebesar 9,5 juta dolar AS, sementara laba kotor melonjak turun hingga 85 persen menjadi tersisa 45 juta dolar AS.

"Negara-negara bagian memberlakukan kewajiban kepatuhan yang makin ketat, termasuk batasan transaksi baru, dan di beberapa yurisdiksi, pembatasan atau larangan langsung terhadap operasi BTM (Bitcoin ATM). Operator menghadapi peningkatan litigasi dan penegakan peraturan," kata Alex Holmes, CEO Bitcoin Depot.

Kebijakan hukum baru tersebut memicu peningkatan biaya kepatuhan yang secara langsung menggerus volume transaksi di ribuan kios milik perusahaan.

"Pengembangan aturan terbaru telah berdampak pada bisnis dan keuangan Bitcoin Depot. Di bawah kondisi saat ini, model bisnis perusahaan tak bisa bertahan," ia menambahkan.

Manajemen kemudian memilih jalur likuidasi aset di bawah pengawasan pengadilan, yang juga berimbas pada penutupan operasional entitas internasional mereka.

“Lingkungan regulasi bagi operator BTM telah berubah secara signifikan.”

Pernyataan tersebut disampaikan di tengah proses restrukturisasi, di mana seluruh entitas luar negeri termasuk di Kanada akan dilikuidasi sesuai hukum yang berlaku.

“Jaringan BTM perusahaan telah dinonaktifkan.”

Penutupan total jaringan ini menandai akhir dari operasional perusahaan yang didirikan sejak 2016 dan sempat menguasai layanan transaksi bitcoin tunai di 47 negara bagian Amerika Serikat.

Artikel terkait

Rekomendasi