Penutupan Selat Hormuz akibat perang Iran memicu transformasi besar-besaran pada sistem energi dunia setelah distribusi minyak dan gas global mengalami gangguan parah. Jalur laut strategis tersebut selama ini menjadi rute utama pengiriman komoditas energi internasional.
Blokade ini menyebabkan hilangnya pasokan hampir satu miliar barel minyak global sebagaimana dilansir dari Money. Para pemimpin perusahaan minyak dan gas dunia menilai kondisi tersebut akan terus memburuk selama jalur distribusi belum dibuka kembali sepenuhnya.
Kepala Eksekutif SLB, Olivier Le Peuch, memberikan penegasan bahwa krisis ini telah menyingkap betapa rapuhnya rantai pasokan energi saat ini.
"Ini akan mendorong perubahan struktural mendasar di seluruh lanskap energi," ujar CEO Baker Hughes Lorenzo Simonelli.
Simonelli menjelaskan bahwa fokus pemerintah kini bergeser pada pembangunan infrastruktur yang lebih tangguh dan diversifikasi aset agar tidak bergantung pada satu jalur distribusi saja.
"Ini bukan hanya tentang meningkatkan pasokan energi," kata Simonelli.
Investasi pada energi rendah karbon seperti nuklir dan panas bumi diperkirakan akan meningkat pesat demi menjamin keamanan nasional.
"Ini tentang infrastruktur energi yang kuat dan tangguh serta redundansi yang lebih besar, diversifikasi infrastruktur, dan mengurangi ketergantungan pada satu aset skala besar," lanjut Simonelli.
Ia juga memprediksi adanya peningkatan cadangan energi strategis di berbagai negara untuk mengantisipasi ketidakpastian di masa depan.
"Akan ada peningkatan persediaan global di atas tingkat historis untuk memastikan keamanan energi menjadi prioritas utama," kata Simonelli.
CEO Halliburton, Jeffrey Miller, turut memberikan pandangan bahwa isu keamanan energi kini bukan lagi sekadar wacana di tingkat pemerintahan.
"Bukan lagi sekadar bahan pembicaraan," kata Miller.
Penyempitan pasar minyak akibat gangguan pasokan ini diyakini Miller akan mengubah fundamental pasar secara total.
"Pasar sekarang secara fundamental lebih ketat," ujar Miller.
Di sisi lain, CEO Exxon Mobil, Darren Woods, menyoroti kerentanan negara-negara Asia yang selama ini sangat bergantung pada pasokan minyak mentah dan gas dari Timur Tengah.
"Jelas, orang-orang akan menilai kembali keamanan energi mereka dan bagaimana mereka memastikan bahwa, ke depannya, mereka tidak memiliki paparan yang sama," ujar Woods.
Kondisi ini juga memberikan posisi tawar lebih besar bagi minyak mentah Amerika Serikat yang ekspornya melonjak drastis selama konflik berlangsung.
CEO Diamondback Energy, Kaes Van’t Hof, menyebutkan bahwa minyak serpih AS kini menjadi salah satu pilar utama bagi kestabilan energi dunia saat ini.
Kenaikan harga minyak yang diprediksi tetap tinggi setelah perang berakhir akan memicu pergeseran alokasi investasi ke proyek lepas pantai di wilayah baru.
"Afrika mewakili salah satu peluang jangka panjang yang paling menarik, dengan basis sumber daya minyak dan gas yang belum dikembangkan secara signifikan," kata Olivier Le Peuch.
Perusahaan jasa ladang minyak terbesar dunia tersebut melihat adanya potensi besar pengembangan sumber daya yang belum terjamah di benua tersebut.
"Kami memperkirakan alokasi portofolio akan bergeser lebih menguntungkan ke wilayah ini seiring waktu," lanjut Le Peuch.