Kemunculan jerawat secara terus-menerus sering kali mengganggu tingkat kepercayaan diri, kelancaran aktivitas sosial, hingga kualitas hidup seseorang. Penanganan masalah kulit ini kerap menghadapi tantangan besar karena sifatnya yang sering kambuh kembali setelah proses pengobatan dihentikan.
Masalah yang kerap berulang ini dipicu oleh metode terapi konvensional yang umumnya hanya fokus menyembuhkan gejala di permukaan kulit, tanpa menuntaskan faktor pemicu utamanya. Hal tersebut dikutip dari Suara berdasarkan penjelasan dr. Deasy Lius, Sp.D.V.E selaku Founder sekaligus Head Doctor BMDerma.
"Sering kali masalah jerawat itu kambuh, hilang lalu timbul kembali. Karena itu diperlukan pendekatan yang tidak hanya mengatasi jerawat yang sedang muncul, tetapi juga menyasar faktor penyebabnya," ujarnya.
Produk minyak atau sebum yang berlebih menjadi salah satu pemicu utama munculnya jerawat. Minyak yang bercampur dengan sel kulit mati akan menyumbat pori-pori, sehingga mempermudah bakteri berkembang biak dan memicu peradangan.
Perkembangan ilmu dermatologi saat ini mulai mengarah pada metode terapi yang menargetkan kelenjar minyak di dalam kulit secara lebih spesifik. Salah satu inovasi yang kini menarik perhatian adalah Aviclear, sebuah teknologi laser 1726 nanometer yang didesain khusus untuk mengobati jerawat aktif.
Berbeda dengan sistem laser konvensional, Aviclear bekerja secara selektif dengan langsung menyasar kelenjar sebasea. Mekanisme ini membuat produksi minyak berlebih dapat dikendalikan tanpa menimbulkan kerusakan pada jaringan kulit di sekitarnya.
Teknologi ini telah tersedia di Indonesia melalui BMDerma untuk membantu pasien yang mengalami kondisi jerawat sedang hingga berat. Kehadiran terapi ini menjadi alternatif baru bagi pasien yang selama ini bergantung pada konsumsi obat oral seperti isotretinoin.
Meskipun efektif untuk kasus-kasus tertentu, pemakaian obat isotretinoin wajib berada di bawah pengawasan ketat dokter karena memiliki sejumlah efek samping. Selain itu, obat oral tersebut juga tidak dapat dikonsumsi oleh semua profil pasien.
Melalui sistem laser yang mengendalikan produksi minyak langsung pada pusatnya, pasien kini memiliki opsi perawatan jangka panjang yang aman dari risiko ketergantungan obat minum. Berbagai studi klinis internasional juga telah menunjukkan hasil yang menjanjikan dari prosedur ini.
Tingkat kesembuhan jerawat dilaporkan terus membaik dalam beberapa bulan setelah pasien menjalani terapi. Tindakan ini sekaligus bekerja efektif dalam menekan risiko kemunculan jerawat baru di kemudian hari.
Kenyamanan dan Fleksibilitas Terapi untuk Berbagai Jenis Kulit
Prosedur perawatan ini dirancang untuk memberikan kenyamanan optimal bagi pasien lewat integrasi teknologi pendingin khusus. Sistem pendingin tersebut berfungsi mengurangi rasa tidak nyaman selama tindakan yang berlangsung sekitar 30 menit.
Pasien umumnya bisa langsung kembali beraktivitas normal setelah tindakan selesai tanpa perlu melewati masa pemulihan yang panjang. Kelebihan lainnya adalah teknologi ini aman diaplikasikan pada berbagai tipe serta warna kulit, termasuk bagi pemilik kulit sensitif.
Menurut dr. Deasy, kehadiran inovasi medis ini membuktikan bahwa penanganan masalah jerawat saat ini semakin personal dan berbasis pada sains terapan.
"Sebagai dokter, kami selalu mencari solusi yang efektif namun tetap mempertimbangkan keamanan pasien. Karena itu kami menghadirkan teknologi yang dapat menjadi alternatif bagi pasien dengan jerawat sedang hingga berat, kulit sensitif, remaja, maupun mereka yang khawatir terhadap penggunaan obat oral jangka panjang," katanya.
Kehadiran teknologi yang mampu menyasar akar masalah jerawat menjadi babak baru bagi dunia dermatologi dalam mengendalikan kondisi kulit yang selama ini dikenal rumit. Pendekatan spesifik ini memberikan harapan baru bagi pasien untuk mendapatkan hasil kesembuhan yang optimal dan bertahan lama.