Brand Lokal Keluhkan Kenaikan Biaya Marketplace Sejak Awal 2026

Brand Lokal Keluhkan Kenaikan Biaya Marketplace Sejak Awal 2026

Struktur biaya operasional pada sejumlah platform e-commerce mengalami kenaikan signifikan bagi para penjual sejak awal 2026. Penyesuaian ini mencakup komisi penjualan hingga beban logistik yang mulai memicu keluhan dari pelaku usaha.

Gelombang keberatan dari pedagang online terhadap kenaikan biaya admin kian meluas, terutama di kalangan brand lokal dan UMKM. Dilansir dari Suara, kondisi ini berdampak langsung pada penipisan margin keuntungan serta modal usaha para pelaku bisnis di Indonesia.

Tekanan biaya tersebut memaksa sebagian pelaku usaha untuk mengurangi ketergantungan pada platform besar. Banyak brand kini mulai beralih menggunakan website pribadi atau kanal penjualan langsung guna menghindari beban komisi marketplace yang dianggap memberatkan.

Kenaikan struktur biaya pada 2026 ini mencakup berbagai komponen, mulai dari komisi penjualan, biaya layanan logistik, hingga ongkos kirim retur. Selain itu, terdapat biaya promosi tambahan yang dinilai semakin membebani para penjual di platform digital tersebut.

Cliffton, Co-founder True to Skin, mengungkapkan bahwa kondisi bisnis pada tahun ini terasa semakin berat. Hal ini dipicu oleh kombinasi perlambatan ekonomi, lonjakan harga bahan baku, serta kenaikan biaya layanan di marketplace.

"Jujur, tahun 2026 ini cukup berat buat kami. Harga bahan baku dan packaging naik hampir 30 persen," tulis Cliffton melalui Instagram resmi brand tersebut dikutip Senin (11/5/2026).

Ia juga merinci kenaikan fee platform pada Februari 2026 yang melonjak dari 9,7 persen menjadi 10,95 persen. Angka ini masih ditambah dengan komisi dinamis 4 persen, boost program 4,5 persen, serta biaya packing dan pemasaran afiliasi.

"Artinya, cost kami naik cukup drastis. Kalau kami tidak menyesuaikan harga di platform tersebut, jujur saja, kami bakal rugi besar," tulis True to Skin.

Kebijakan Logistik Baru Bebani Penjual

Mulai 1 Mei 2026, para penjual juga harus menanggung biaya layanan logistik baru. Skema ini mewajibkan seller untuk berkontribusi dalam biaya pengiriman ke pembeli maupun ongkos kirim saat terjadi retur barang.

"Seller akan ikut kontribusi biaya pengiriman, termasuk ongkir ke pembeli dan ongkir retur," tulis unggahan tersebut.

Dampak serupa turut dirasakan oleh brand Noera by Reisha yang mengumumkan penyesuaian harga produk per 1 Mei 2026. Keputusan ini diambil sebagai respons atas meningkatnya harga bahan baku serta biaya operasional dari pihak platform.

"Mulai 1 Mei 2026 akan ada penyesuaian harga pada produk-produk Noera," tulis Noera.

Noera menyoroti perubahan skema gratis ongkir dan kenaikan biaya komisi yang memberikan pengaruh signifikan bagi operasional mereka. Beban retur yang kini dibebankan sebagian kepada penjual turut mengubah struktur keuangan usaha secara drastis.

"Tak hanya itu, adanya kenaikan biaya layanan dan logistik platform E-commerce turut memberikan dampak yang signifikan bagi operasional Noera," tulis Noera.

Diversifikasi Saluran Penjualan

Menghadapi tekanan biaya yang terus meningkat, sejumlah brand mulai memperkuat jalur distribusi alternatif. True to Skin telah resmi meluncurkan website resmi sendiri sebagai langkah strategis baru dalam memasarkan produk mereka.

"Kami mengambil langkah baru dan kami akan segera launch website resmi kami sendiri," tulis True to Skin.

Brand Noera juga menempuh strategi serupa dengan mendorong pelanggan melakukan pembelian langsung melalui WhatsApp. Langkah ini bertujuan untuk memberikan harga khusus kepada konsumen di luar skema promo marketplace.

Langkah lebih ekstrem diambil oleh brand fashion THENBLANK yang memilih melepas status Mall di marketplace. Mereka mengarahkan pelanggan untuk berbelanja melalui website atau WhatsApp resmi demi menjaga harga tetap kompetitif.

"Harga fair, cara baru belanja THENBLANK... kami memilih untuk memberikan harga terbaik di channel sendiri," tulis THENBLANK.

Tren meninggalkan platform tertentu juga mulai terlihat di kalangan penjual lain. Salah satunya adalah akun Watchstory.id yang secara terbuka menyatakan penghentian aktivitas penjualan di salah satu platform besar.

"Kami memutuskan untuk tidak berjualan di Tokopedia lagi," tulis akun tersebut.

Artikel terkait

Rekomendasi