PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) meluncurkan aplikasi digital baru bernama Qita di Jakarta pada Jumat (29/5/2026) untuk memperluas ekosistem digital perbankan nasional melalui strategi multiaplikasi. Langkah ini mengikuti tren bank-bank besar yang menyasar segmen nasabah spesifik.
Aplikasi Qita hadir di Play Store dengan fitur pengelolaan keuangan seperti Smart Bill Manager, Wealth Tracker, dan Instant Update. Kehadiran platform baru dari emiten bersandi BBRI ini dilansir dari Keuangan di tengah pertumbuhan agresif aplikasi utama mereka, BRImo.
Hingga Maret 2026, pengguna BRImo tumbuh 18,6 persen secara tahunan (YoY) mencapai 47,8 juta dengan nilai transaksi melonjak 29,4 persen YoY menjadi Rp2.042,2 triliun. Transformasi digital ini menjadi penopang utama pertumbuhan dana murah perseroan.
"Hadir sebagai teman finansial digital yang modern, inklusif, dan dirancang untuk menjawab kebutuhan nyata nasabah," demikian deskripsi aplikasi Qita, dikutip Jumat (29/5/2026).
Pihak manajemen internal belum memberikan posisi pasti Qita dalam ekosistem perbankan mereka. Di sisi lain, direksi menekankan pentingnya akselerasi saluran digital terhadap pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) yang kini naik 9,4 persen YoY menjadi Rp1.555,1 triliun pada kuartal I-2026.
"Pertumbuhan dana murah BRI didorong oleh transformasi digital, dengan seluruh kanal mencatatkan akselerasi dobel digit," ujar Aquarius Rudianto, Direktur Network & Retail Funding BRI.
Strategi multiaplikasi ini sebelumnya telah diterapkan oleh PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) melalui BCA mobile dan myBCA. Platform myBCA mencatat pertumbuhan frekuensi transaksi sebesar 45 persen YoY dan kenaikan pengguna hingga 57 persen YoY pada kuartal I-2026.
"Melalui aplikasi myBCA, kami menghadirkan hub finansial yang menghubungkan kebutuhan perbankan nasabah," ujar Hera F. Haryn, Executive Vice President Corporate Communication & Social Responsibility BCA.
Aplikasi tersebut dikembangkan sebagai pusat layanan finansial digital yang mencakup investasi hingga pembayaran QRIS. Manajemen menegaskan bahwa aplikasi pendahulu tetap dipertahankan untuk kebutuhan transaksi harian yang ringan.
Persaingan ini juga melibatkan Bank Mandiri yang mengandalkan Livin' by Mandiri untuk segmen ritel dengan capaian 39 juta pengguna atau tumbuh 27 persen YoY.
"Seluruh kapabilitas digital Bank Mandiri sejatinya merupakan sarana untuk menjangkau nasabah secara efektif dan efisien hingga ke wilayah terluar," ujar Novita Widya Anggraini, Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri.
Di sisi lain, PT Bank Negara Indonesia (BNI) mencatat pertumbuhan dari aplikasi wondr by BNI yang memiliki 13 juta pengguna dengan nilai transaksi Rp454 triliun atau tumbuh 113 persen YoY.
"Platform digital menjadi salah satu pendorong utama penguatan dana murah perseroan," ujar Hussein Paolo Kartadjoemena, Direktur Finance & Strategy BNI.
Kenaikan adopsi digital turut dirasakan oleh PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) lewat aplikasi Bale by BTN. Hingga April 2026, pengguna aplikasi tersebut mencapai 4,1 juta user dengan volume transaksi Rp44,2 triliun.
"Hal ini mencerminkan semakin tingginya adopsi layanan perbankan digital oleh masyarakat yang mengutamakan kemudahan, kecepatan, dan fleksibilitas dalam bertransaksi," ujar Thomas Wahyudi, SEVP Digital Business BTN.
Pihak BTN memproyeksikan tren pertumbuhan transaksi digital ini akan terus berlanjut hingga akhir tahun. Perseroan menargetkan pengguna aplikasi digital mereka dapat melampaui angka 5 juta user pada akhir tahun 2026.
Pertumbuhan agresif juga dibukukan oleh PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) lewat aplikasi BYOND by BSI yang diluncurkan akhir 2024. Hingga Maret 2026, pengguna BYOND mencapai 9,8 juta dengan volume transaksi sekitar Rp200 triliun.
"Transformasi digital membuktikan bahwa layanan syariah semakin diminati, terlebih karena kemudahan akses, aman, dan mudah," ujar Wisnu Sunandar, Corporate Secretary BSI.
Peluncuran aplikasi baru di tengah keberadaan aplikasi lama dinilai sebagai bagian dari strategi segmentasi layanan dan transisi teknologi perbankan.
"Strategi multi-app kemungkinan besar bukan standar baru yang permanen, melainkan strategi transisi teknis dan segmentasi," ujar Myrdal Gunarto, Investor Relation and Research (IRRD) Economist Bank Tabungan Negara (BTN).
Aplikasi lama yang berbasis arsitektur monolithic dinilai memiliki keterbatasan dalam menampung fitur baru yang kompleks. Pembuatan aplikasi baru dengan sistem microservices dianggap lebih aman bagi basis pengguna aktif.
"Membangun aplikasi baru dengan arsitektur microservices dan cloud-native jauh lebih aman dibanding membongkar aplikasi utama yang sudah digunakan jutaan pengguna aktif harian," katanya.
Aplikasi baru seperti Qita diproyeksikan menyasar segmen digital native atau Gen Z dengan proposisi nilai yang berbeda. Namun, manajemen perbankan diingatkan untuk mengantisipasi risiko kanibalisasi produk.
"BRImo tetap sangat sukses sebagai motor transaksi ritel dan inklusi keuangan. Aplikasi baru biasanya ditujukan untuk proposisi nilai yang berbeda seperti segmen digital native, Gen Z, atau layanan finansial yang lebih personal," imbuhnya.
Risiko kebingungan nasabah dapat muncul jika fungsi masing-masing aplikasi tidak dikomunikasikan secara jelas oleh pihak perbankan.
"Jika pemisahan proposisi nilainya tidak dikomunikasikan dengan tajam, nasabah bisa bingung harus menggunakan aplikasi yang mana untuk kebutuhan tertentu," katanya.
Selain itu, bank harus bersiap menghadapi biaya akuisisi pengguna yang lebih besar untuk membangun kesadaran merek. Penguasaan ekosistem digital dinilai menjadi kunci utama dalam merebut dana murah masyarakat.
"Aplikasi digital sekarang menjadi core engine profitabilitas bank. Mulai dari pendorong fee based income, efisiensi operasional, hingga perebutan dana murah atau CASA," ujarnya.
Bank dengan pengalaman pengguna terbaik berpotensi besar menjadi rekening utama nasabah. Pengendapan dana transaksi harian tersebut akan memperlebar margin bunga bersih perbankan.
"Ketika dana transaksi harian mengendap di sana, bank mendapatkan CASA murah yang pada akhirnya menekan cost of fund dan memperlebar margin bunga bersih," tutup Myrdal Gunarto.