PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk atau BSI memutuskan pembagian dividen tunai senilai Rp 1,51 triliun atau setara Rp 32,81 per saham pada Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST), Selasa (5/5/2026) malam. Keputusan ini diambil setelah perseroan membukukan kinerja positif sepanjang tahun buku 2025.
Dilansir dari Money, total dividen tersebut setara dengan 20 persen dari laba bersih perseroan tahun 2025 yang mencapai Rp 7,57 triliun. Sisa laba sebesar Rp 6,05 triliun atau 80 persen akan dialokasikan sebagai saldo laba ditahan untuk memperkuat struktur permodalan perusahaan.
Nilai dividen per saham yang dibagikan mengalami kenaikan signifikan sebesar 44 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya mencapai Rp 22,78 per saham. Porsi rasio pembayaran dividen juga meningkat dari 15 persen pada tahun lalu menjadi 20 persen untuk tahun ini.
Direktur Utama BSI Anggoro Eko Cahyo menjelaskan bahwa alokasi penggunaan laba bersih telah disepakati oleh para pemegang saham dalam pertemuan tersebut.
"Pemegang saham menyetujui dan menetapkan penggunaan laba bersih perseroan untuk tahun buku 2025 sebesar 20 persen atau sejumlah Rp 1.513.544.655.988 atau sebesar Rp 32,810.077 per saham ditetapkan sebagai dividen tunai," ujar Anggoro.
Dividen ini hanya diperuntukkan bagi pemegang saham yang namanya terdaftar dalam daftar pemegang saham perseroan pada tanggal pencatatan atau recording date.
"Informasi mengenai waktu pembagian dividen akan diumumkan lebih lanjut oleh manajemen BSI," kata Anggoro.
Manajemen menegaskan komitmen perusahaan untuk menjaga keseimbangan antara pemberian imbal hasil bagi investor dengan kebutuhan dana untuk pengembangan bisnis jangka panjang.
"Kami adalah bank syariah yang terus tumbuh terlebih setelah memiliki dual licence sebagai bank syariah dan juga bullion bank," ucap Anggoro.
Peningkatan laba bersih BSI sebesar 8,01 persen secara tahunan didorong oleh berbagai faktor strategis, termasuk pertumbuhan pembiayaan yang sehat dan efisiensi melalui akselerasi digital. Jumlah nasabah bank dengan kode emiten BRIS ini juga menembus angka 23 juta orang pada akhir 2025.
"Fundamental yang kuat juga mendorong kepercayaan masyarakat terhadap BSI," tutur Anggoro.