PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mempercepat diversifikasi bisnis ke sektor mineral non-batu bara seperti tembaga, emas, dan bauksit melalui serangkaian akuisisi strategis sejak akhir 2025 guna memperkuat portofolio pendapatan perusahaan pada masa mendatang.
Dilansir dari Money, langkah ekspansi emiten pertambangan ini mencakup pengambilalihan 100 persen saham tambang tembaga Wolfram dan 65 persen saham tambang emas Jubilee yang dijadwalkan mulai berproduksi komersial pada Agustus 2026.
Analis Sinarmas Sekuritas, Kenny Shan, menilai aset Wolfram memiliki nilai ekonomi yang kuat karena kesiapan operasional serta prospek kenaikan harga komoditas global yang dapat berdampak pada laba perusahaan, Selasa (5/5/2026).
"Wolfram akan menjadi kontributor laba jangka pendek dengan nilai ekonomi proyek yang jauh lebih baik, didorong oleh aset yang siap untuk diaktifkan kembali dan harga komoditas yang lebih kuat," tulis Kenny, Selasa (5/5/2026).
Tambang Wolfram di Australia ini diproyeksikan memproduksi 20.000 ton konsentrat tembaga per tahun, sementara tambang emas Jubilee memiliki target produksi sebesar 30.000 ons emas per tahun.
"Jubilee juga merupakan kontributor kinerja keuangan untuk jangka pendek dengan potensi margin yang kuat, didorong oleh sumber daya bermutu tinggi dan peningkatan produksi yang jelas," lanjut Kenny.
Perubahan bauran laba BUMI diprediksi akan terlihat mulai paruh kedua tahun 2026 seiring dengan masuknya aset-aset baru ini ke fase produksi komersial.
"Kami memproyeksikan adanya perubahan besar pada laba dari aset mineral mulai semester kedua tahun 2026. Hal ini didorong oleh operasional Wolfram dan Jubilee yang mulai memasuki fase produksi, sehingga menggeser bauran laba secara signifikan," ungkap Kenny.
Selain emas dan tembaga, BUMI menguasai 45 persen saham Laman Mining di sektor bauksit dengan cadangan 30 juta ton serta berencana mengakuisisi Loyal Metals (LLM) asal Australia senilai Rp 977 miliar.
"Kami yakin BUMI berada pada titik balik yang jelas, bertransisi dari perusahaan penghasil arus kas dari batubara menjadi platform pertambangan yang terdiversifikasi dengan kualitas pendapatan yang meningkat," jelas Kenny.
Kontribusi EBITDA dari sektor non-batu bara diproyeksikan melonjak dari angka satu digit menjadi 20 persen pada 2026 dan ditargetkan mencapai 40 persen pada 2027.