Tren produk perawatan kulit yang viral di media sosial sering kali memicu keinginan masyarakat untuk mencoba berbagai produk baru. Kebiasaan sering berganti produk ini kerap dilakukan demi mendapatkan hasil instan atau mencari formula yang paling sesuai.
Kebiasaan mengganti produk perawatan kulit ini sebenarnya diperbolehkan, terutama untuk jenis perawatan dasar yang digunakan sehari-hari. Hal tersebut disampaikan oleh dokter sekaligus edukator kecantikan kulit, dr. Giovanni Abraham, seperti dikutip dari Suara.
"Kalau basic skincare kayak serum-serum gitu boleh langsung ganti," ujar dr. Giovanni Abraham.
Meski diperbolehkan, proses pergantian produk tidak boleh dilakukan secara sembarangan karena kulit memerlukan waktu untuk beradaptasi dengan formula baru.
"Tapi gantinya enggak boleh sembarangan. Pertama, harus adaptasi, enggak boleh langsung semua," imbuhnya.
Dokter Giovanni Abraham memberikan contoh, apabila ingin menguji kecocokan tabir surya baru, pengguna sebaiknya hanya mengganti produk tersebut tanpa mengubah rangkaian perawatan dasar lainnya. Langkah ini memudahkan pengguna untuk mendeteksi dampak produk baru pada kulit.
"Bertahap satu-satu, misalnya kamu ganti sunscreen, ya sudah ganti sunscreen aja," terangnya.
Jangka waktu yang disarankan untuk menguji keamanan produk baru di kulit wajah adalah sekitar 2 minggu. Jika selama masa tersebut tidak muncul keluhan, pengguna baru diperbolehkan menambah produk lain secara bertahap.
"Jangan langsung ganti serum, krim bersamaan nanti kamu enggak tahu mana yang cocok mana yang enggak," pesannya.
Pengguna juga diimbau untuk mengenali produk yang dipakai sebelumnya, khususnya jika menggunakan krim racikan dokter. Konsultasi medis sangat diperlukan sebelum menghentikan krim dokter agar bahan aktifnya diketahui dan risiko efek samping dapat dihindari.
Mengenali tanda ketidakcocokan produk pada kulit wajah menjadi hal krusial bagi orang yang gemar mencoba kosmetik baru. Berdasarkan data dari Siloam Hospitals dan L'Oreal Paris, reaksi ketidakcocokan bisa berkisar dari iritasi ringan hingga peradangan.
1. Sensasi Gatal dan Perih
Munculnya rasa gatal setelah mengaplikasikan produk baru menjadi indikator awal ketidakcocokan. Kondisi ini biasanya dibarengi dengan sensasi panas atau menyengat yang menandakan adanya reaksi alergi terhadap zat tertentu.
2. Ruam dan Kemerahan
Kulit yang memerah setelah pemakaian produk mengindikasikan adanya peradangan. Pada beberapa kondisi, warna kemerahan ini diikuti oleh rasa terbakar yang bertahan dalam waktu cukup lama.
3. Kulit Kering Hingga Mengelupas
Formula kosmetik yang terlalu keras dapat merusak lapisan pelindung alami kulit. Dampaknya, kulit wajah akan kehilangan kelembapan, terasa kaku seperti tertarik, bersisik, bahkan mengelupas.
4. Timbul Jerawat atau Breakout
Erupsi jerawat yang mendadak menandakan produk tersebut menyumbat pori-pori atau memicu iritasi. Dalam istilah medis, kondisi jerawat akibat kosmetik atau produk perawatan ini disebut sebagai acne cosmetica.
5. Bruntusan dan Tekstur Kasar
Ketidakcocokan formula juga bisa memicu kemunculan bintik-bintik kecil atau bruntusan. Keberadaan bruntusan ini otomatis mengubah permukaan kulit wajah menjadi tidak rata saat disentuh.
6. Produksi Minyak Berlebih
Reaksi negatif tidak selalu berupa kulit kering. Pada beberapa jenis kulit, kandungan produk yang tidak sesuai justru merangsang kelenjar sebum bekerja lebih aktif sehingga wajah tampak mengilap dan kusam.