Carsurin Bidik Pendapatan Rp 618 Miliar pada 2026

Carsurin Bidik Pendapatan Rp 618 Miliar pada 2026

PT Carsurin Tbk (CRSN) membidik pertumbuhan kinerja yang lebih agresif pada tahun 2026. Emiten jasa pengujian, inspeksi, dan sertifikasi ini memproyeksikan pendapatan mampu menyentuh angka Rp 618,16 miliar.

Target tersebut mencerminkan kenaikan sebesar 22,4% jika dibandingkan dengan realisasi pendapatan pada tahun 2025 yang tercatat sebesar Rp 504,96 miliar, seperti dikutip dari Investasi.

Selain peningkatan pendapatan, CRSN juga mengincar perolehan EBITDA sebesar Rp 91,2 milar atau tumbuh sekitar 36%. Sementara itu, laba bersih ditargetkan mampu mencapai Rp 17,52 milar melalui perbaikan margin dan optimalisasi layanan bernilai tambah.

Direktur Carsurin Theresia Ivonne menjelaskan bahwa lini bisnis inspeksi tetap menjadi penopang utama pendapatan perseroan. Meski demikian, manajemen bakal memperkuat kontribusi dari segmen konsultasi, testing, dan laboratorium yang telah disokong oleh investasi dalam beberapa tahun terakhir.

"Segmen inspeksi tetap menjadi tulang punggung pendapatan kami, tetapi kami juga memperkuat bisnis konsultasi dan testing yang didukung fasilitas laboratorium baru," ujar Theresia.

Guna memuluskan target kinerja tersebut, CRSN mengalokasikan belanja modal atau capital expenditure sebesar Rp 24,3 miliar pada tahun 2026. Dana ini difokuskan untuk mendanai program digitalisasi, peningkatan produktivitas aset, serta efisiensi operasional internal.

Direktur Utama Carsurin Erwin Manurung mengungkapkan bahwa strategi pertumbuhan jangka panjang perusahaan bertumpu pada tiga pilar utama. Ketiga tema tersebut meliputi ekonomi hijau, ekonomi biru, dan program transisi energi nasional.

"Strategi pertumbuhan kami jelas terarah dan berakar kuat pada prioritas nasional Indonesia," jelasnya.

Pada lini ekonomi hijau, CRSN memperluas jangkauan layanan verifikasi dan sertifikasi emisi karbon. Langkah ini diperkuat dengan kepemilikan akreditasi ISO 14064 yang melengkapi kapabilitas sertifikasi gas rumah kaca milik perseroan.

"Kami memperoleh akreditasi ISO 14064 untuk nilai ekonomi karbon yang melengkapi kemampuan sertifikasi gas rumah kaca yang sudah ada," katanya.

Erwin menambahkan, akreditasi baru ini membuka potensi pendapatan dari sektor keberlanjutan. Peluang ini sejalan dengan meningkatnya kewajiban korporasi dalam menyusun laporan emisi karbon.

Layanan yang disediakan mencakup penilaian jejak karbon, analisis siklus hidup produk, verifikasi batas emisi, hingga perdagangan karbon. Selain itu, perusahaan menangkap peluang dari industri kendaraan listrik dengan meraih akreditasi pengujian baterai roda dua.

"Kami mendukung ekosistem kendaraan listrik yang berkembang pesat melalui layanan pengujian dan sertifikasi yang relevan dengan kebutuhan industri," ucap Erwin.

CRSN juga memperkuat posisinya pada rantai pasok mineral strategis melalui jasa pengujian bijih nikel untuk bahan baku baterai. Di sektor transisi energi, perusahaan mulai merambah pasar amonia dan bersiap mengembangkan layanan amonia biru.

Pada aspek operasional, perusahaan mengembangkan solusi digital terintegrasi berupa drone otonom, teknologi drone-in-a-box, serta analitik berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk sektor pertambangan.

"Dalam transformasi digital, kami menyediakan solusi terintegrasi berskala besar lintas industri, termasuk drone otomatis dan analitik berbasis AI," ujar Erwin.

Ekspansi infrastruktur juga terus berjalan dengan pembangunan fasilitas kantor dan laboratorium nikel baru di Halmahera Sofifi serta Morowali sepanjang 2025. Saat ini, perusahaan sedang menyelesaikan pembangunan kantor dan laboratorium mineral di Pontianak.

Artikel terkait

Rekomendasi