PT Carsurin Tbk (CRSN) menargetkan pertumbuhan pendapatan sebesar 22,42 persen pada tahun 2026 melalui penguatan layanan ekonomi hijau serta transformasi digital industri, sebagaimana dilansir dari Money pada Kamis (21/5/2026).
Emiten jasa testing, inspeksi, dan sertifikasi tersebut membidik pendapatan mencapai Rp 618,16 miliar, meningkat dari realisasi tahun 2025 yang tercatat sebesar Rp 504,96 miliar.
Direktur Utama Carsurin Erwin Manurung menjelaskan bahwa arah strategi pertumbuhan perusahaan difokuskan pada pemenuhan kebutuhan industri masa depan, khususnya di sektor teknologi dan keberlanjutan.
“Perseroan melihat peluang pertumbuhan yang sangat besar seiring meningkatnya kebutuhan terhadap layanan keberlanjutan, verifikasi emisi, ekosistem kendaraan listrik, pengujian mineral strategis, serta transformasi digital di berbagai sektor industri,” ujar Erwin Manurung, Direktur Utama Carsurin.
Langkah pengembangan saat ini mencakup sertifikasi gas rumah kaca (GRK), perdagangan karbon, pengujian baterai kendaraan listrik, hingga analisis jejak karbon dan sertifikasi biomassa demi mendukung industri nasional.
“Kami berkomitmen untuk terus menghadirkan layanan yang inovatif dan relevan dengan kebutuhan pasar,” kata Erwin Manurung, Direktur Utama Carsurin.
Selain memperkuat aspek digital lewat drone otonom dan analitik artificial intelligence (AI), perusahaan bersiap meluncurkan Carsurin Academy untuk publik guna meningkatkan kompetensi tenaga ahli domestik.
Operasional emiten berkode saham CRSN ini ditopang oleh jaringan infrastruktur yang mencakup 21 cabang dan 18 laboratorium di berbagai wilayah strategis Indonesia.
Dari sisi kinerja keuangan, peningkatan profitabilitas diproyeksikan tumbuh selaras dengan ekspansi bisnis serta langkah efisiensi operasional.
Perusahaan menetapkan target EBITDA sebesar Rp 91,200 miliar dan laba bersih Rp 17,520 miliar, bersamaan dengan proyeksi perbaikan rasio utang terhadap ekuitas (DER) dari 0,68 kali menjadi 0,30 kali.
“Carsurin tetap berkomitmen untuk memperkuat fondasi keuangan dan efisiensi operasionalnya, sebagaimana ditunjukkan oleh penurunan Debt-to-Equity Ratio yang diprakirakan menjadi 0,30x pada 2026, menegaskan strategi keuangan yang hati-hati dan ketergantungan pada modal internal,” ujar Theresia Ivonne, Direktur Carsurin.