Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) telah menjangkau 100 juta penduduk Indonesia sejak diluncurkan pada 2025 dengan melibatkan lebih dari 10.000 puskesmas di seluruh tanah air. Capaian masif ini disampaikan oleh Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, M Qodari, dalam jumpa pers di Jakarta, Rabu (6/5/2026).
Data akumulatif tersebut menunjukkan pertumbuhan peserta yang signifikan dari tahun sebelumnya hingga awal tahun ini. Sebagaimana dilansir dari Nasional, perluasan jangkauan layanan kesehatan ini terus dilakukan guna memenuhi target cakupan seluruh populasi nasional.
Kepala Bakom RI M Qodari merinci pembagian jumlah peserta yang telah memanfaatkan fasilitas kesehatan tersebut dalam kurun waktu satu setengah tahun terakhir.
"Sepanjang tahun 2025, CKG telah melayani lebih dari 70 juta peserta. Memasuki tahun 2026 sampai dengan awal Mei 2026, jumlah tersebut telah bertambah lebih dari 30 juta jiwa. Total sudah 100 juta penduduk Indonesia mendapatkan CKG," ujar Qodari, Kepala Bakom RI.
Meskipun angka partisipasi telah menembus angka 100 juta, pemerintah menilai tantangan penyediaan layanan kesehatan gratis ini masih sangat besar. Hal tersebut merujuk pada jumlah penduduk Indonesia yang kini hampir menyentuh angka 290 juta jiwa.
"Perjalanan kita masih panjang, karena penduduk Indonesia sekarang 290 juta. Baru 1/3. 289 (juta)," ucap Qodari, Kepala Bakom RI.
Selain cakupan umum, Kementerian Kesehatan juga memberikan perhatian khusus pada kesehatan generasi muda melalui program skrining di lingkungan sekolah. Sejak awal Januari hingga 3 Mei 2026, sebanyak 4,8 juta anak sekolah di 48 ribu institusi pendidikan telah menjalani pemeriksaan kesehatan.
Hasil pemeriksaan tersebut mengungkap temuan medis yang cukup mengkhawatirkan, di mana sekitar 663 ribu anak atau 22,1 persen dari total yang diperiksa terdeteksi mengalami kenaikan tekanan darah. Temuan ini mendorong perlunya tindakan investigasi medis lebih lanjut.
"Artinya sudah harus ada suatu analisis yang lebih mendalam, kok anak-anak kita sudah mulai darah tinggi. Tekanan darah tinggi ini kalau terus berlanjut berujung pada gangguan jantung," imbuh Qodari, Kepala Bakom RI.