PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA) mengamankan ketahanan operasional di tengah fluktuasi pasar minyak dunia melalui diversifikasi pasokan bahan baku hasil kemitraan strategis global pada Selasa (5/5/2026). Langkah ini dilakukan melalui kolaborasi dengan Glencore guna memperluas sumber energi dan mengurangi ketergantungan pada jalur pasokan konvensional.
Emiten milik Prajogo Pangestu ini menguji berbagai jenis minyak mentah dari kawasan Amerika Latin, Amerika Utara, Afrika Barat, hingga Asia Tenggara. Fleksibilitas ini menjadi strategi utama perusahaan dalam menjaga kelangsungan produksi saat menghadapi dinamika geopolitik global yang tidak menentu.
Chief Financial Officer Chandra Asri Group Andre Khor menjelaskan bahwa kemampuan perusahaan dalam pengadaan global menjadi pembeda di industri. Kapasitas pengolahan berbagai jenis minyak memungkinkan perseroan melewati hambatan distribusi tradisional yang sering terjadi di wilayah konflik.
"Gangguan geopolitik, terutama risiko eskalasi di Timur Tengah yang berdampak pada Selat Hormuz, secara historis menciptakan kecemasan dalam rantai pasok. Namun, kemampuan kami dalam perluasan jenis minyak mentah dan pengadaan global memungkinkan perusahaan melewati hambatan konvensional," ujar Andre Khor, Chief Financial Officer Chandra Asri Group.
Penerapan strategi tersebut terbukti efektif menjaga kelancaran operasional meskipun pasar energi global sedang mengalami volatilitas tinggi. TPIA kini bertransformasi membangun rantai pasok yang lebih adaptif untuk mendukung ekspansi bisnis di level regional.
Optimalisasi minyak mentah kompetitif ini membantu perseroan mempertahankan utilisasi tinggi dan kualitas produk unggul. Dilansir dari Market, Chandra Asri mencatatkan lonjakan laba bersih kuartal I/2026 sebesar US$205 juta atau tumbuh 954,2 persen secara tahunan.
EBITDA perusahaan juga mengalami kenaikan signifikan mencapai US$421 juta. Andre Khor menyebutkan bahwa pertumbuhan kinerja keuangan ini didorong oleh kontribusi segmen energi yang kini menyumbang 60 persen dari total pendapatan perusahaan.
"Proses integrasi berbagai aset strategis tersebut berjalan sesuai rencana dan mulai memberikan dampak finansial yang nyata. Penyelesaian transaksi bersama mitra global menjadi kunci keberhasilan integrasi dan penciptaan nilai tambah bagi Grup," ujar Andre Khor, Chief Financial Officer Chandra Asri Group.
Fokus perusahaan saat ini tertuju pada integrasi kilang Aster di Singapura yang diakuisisi pada 2025 dan jaringan ritel bahan bakar Esso. Ekspansi ini memperkuat pendapatan berulang perusahaan di samping bisnis utama di sektor petrokimia.
Selain itu, perseroan sedang mengembangkan proyek Chlor-Alkali dan Ethylene Dichloride (CA-EDC) dengan investasi senilai US$800 juta. Fasilitas baru tersebut ditargetkan dapat beroperasi secara penuh pada tahun 2027 mendatang.
Guna menghadapi kondisi kelebihan pasokan di industri petrokimia, manajemen meluncurkan strategi ROAR yang mencakup peremajaan inti bisnis, keberlanjutan, akselerasi merger dan akuisisi, serta reimajinasi model bisnis.
"Strategi ini merupakan peta jalan perusahaan untuk bertransformasi menuju solusi energi, kimia, dan infrastruktur terintegrasi," jelas Andre Khor, Chief Financial Officer Chandra Asri Group.