Chef Arnold Naikkan Harga Menu Restoran Akibat Lonjakan Dolar

Chef Arnold Naikkan Harga Menu Restoran Akibat Lonjakan Dolar

Kenaikan nilai tukar dolar terhadap rupiah yang kini menembus angka Rp17.622 mulai membawa dampak serius pada sektor bisnis kuliner di Indonesia.

Kebijakan sulit ini diambil oleh salah satu juri MasterChef Indonesia, Chef Arnold Poernomo, yang terpaksa menyesuaikan harga hidangan di restoran miliknya.

Melalui unggahan di platform Threads, seperti dikutip dari Suara, juru masak profesional tersebut menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada para pelanggan.

Penyesuaian tarif menu tersebut terpaksa dilakukan karena biaya operasional dan pengadaan bahan baku yang melonjak tajam, bukan demi meraup keuntungan pribadi secara sepihak.

"Mohon maaf saya harus menaikan harga daging di resto saya. Ini bukan kami overpriced atau mau morotin customer karena dollar naik dan karena daging untuk restaurant semuanya import," tulis Chef Arnold dalam unggahannya.

Pengusaha kuliner ini memberikan kepastian bahwa kebijakan ini bersifat dinamis dan akan ditinjau kembali begitu situasi perekonomian serta harga pasokan kembali stabil.

"Mohon maaf sekali lagi, nanti kalau harga turun saya akan turunkan harga yang sesuai," lanjutnya.

Pernyataan tersebut langsung mendapat beragam respons dari para pengguna internet yang mempertanyakan alasan tidak digunakannya komoditas lokal.

Menjawab pertanyaan tersebut, Chef Arnold membeberkan komparasi karakteristik antara pasokan domestik dengan standar internasional untuk segmen restoran premium.

Struktur daging sapi lokal dinilai memiliki karakteristik yang cenderung lebih keras akibat rendahnya kandungan marbling atau serat lemak jika dibandingkan dengan komoditas luar negeri.

"Sapi itu banyak tipenya. Sapi di Indonesia dagingnya itu keras karena marblingnya. Sapi yang dikembang biakan di Indonesia itu sapi import," jelas Chef Arnold.

Guna mempertahankan konsistensi rasa dan kualitas sajian, restoran miliknya mengandalkan pasokan dari tiga negara produsen utama.

Wilayah pelonggaran pasokan tersebut mencakup Amerika Serikat, Australia, hingga Jepang, serta dipastikan bebas dari metode rekayasa tekstur.

"Daging untuk resto itu US, Australian, Japanese. Kita tidak pake meltique," imbuhnya.

Sebagai informasi, daging meltique merupakan produk yang mendapatkan perlakuan khusus berupa suntikan lemak nabati demi mendapatkan tekstur menyerupai kualitas wagyu.

Kendati telah memberikan penjelasan teknis, ruang digital tetap dipenuhi oleh komentar miring yang mengaitkan keluhan tersebut dengan konstelasi politik masa lalu.

Sejumlah pengguna media sosial mengaitkan keluhan ekonomi ini dengan sikap politik Chef Arnold yang sempat memberikan dukungan kepada pasangan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka.

Bahkan, terdapat komentar yang meminta dirinya secara langsung menyampaikan protes mengenai kondisi stabilitas ekonomi nasional kepada sang wakil presiden.

"Sobat lu Gibran mana Chef, Suruh omongin dikitlah. Berguna dikit gitu jadi wapres," tulis salah satu netizen.

Selain kritik politis, beberapa pihak menilai konten yang diunggah cenderung tidak sensitif terhadap situasi kelompok masyarakat kelas bawah.

"Ini dia lagi ngejek rakyat kecil nggak sih. Karena rakyat kecil kan nggak makan di restonya dia," tulis salah satu netizen.

Tudingan miring mengenai indikasi merendahkan kelompok masyarakat tertentu tersebut langsung dibantah keras melalui sebuah pernyataan balasan.

Sorotan yang dilemparkan murni merupakan bentuk keresahan terhadap fluktuasi nilai mata uang yang dampaknya dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa memandang preferensi politik.

"Ga! saya nyindir Dollar dan effectnya ke semua kalangan... persetan dibilang 01 02 03 007 buzzer kampret... Masih 1 negara urip matek ya negaranya sama," jawab Chef Arnold.

Artikel terkait

Rekomendasi