Penurunan nilai tukar rupiah yang terjadi belakangan ini dilaporkan belum memengaruhi pertumbuhan dana simpanan di PT Bank CIMB Niaga Tbk secara signifikan. Tren ini muncul di tengah koreksi data simpanan mata uang lokal pada industri perbankan nasional.
Berdasarkan data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) per April 2026, total nilai simpanan rupiah di perbankan menyusut 2,0% dibanding Maret 2026, dan turun 1,5% jika dikomparasikan dengan Desember 2025. Sebaliknya, simpanan valuta asing (valas) melonjak 10,2% dari Desember 2025.
Meski secara industri terjadi penurunan simpanan rupiah, CIMB Niaga mencatatkan kondisi yang berbeda. Porsi simpanan di bank ini, khususnya dana murah atau CASA, masih didominasi oleh mata uang rupiah per April 2026, seperti dilansir dari Keuangan.
"Per April 2026, CASA kami tumbuh 14% secara tahunan dengan produk tabungan tumbuh 9% secara tahunan. Rata-rata simpanan kami didominasi rupiah," kata Lani saat dihubungi Rabu (3/6/2026).
Presiden Direktur CIMB Niaga, Lani Darmawan, menjelaskan bahwa pihaknya belum melihat adanya lonjakan pertumbuhan yang signifikan pada simpanan valas perusahaan. Ia menegaskan ketersediaan simpanan rupiah saat ini masih berada dalam kondisi yang sangat memadai.
Mengenai aspek likuiditas, Lani memastikan bahwa jumlah simpanan yang ada masih mencukupi untuk memenuhi kebutuhan penyaluran kredit mendatang. Di sisi lain, ia mengakui bahwa permintaan kredit di pasar saat ini sedang mengalami perlambatan.
Lemahnya permintaan kredit tersebut membuat dampak dari pelemahan nilai tukar rupiah belum begitu terasa bagi pihak bank. CIMB Niaga kini berkomitmen untuk terus mendorong pertumbuhan CASA hingga akhir tahun 2026.