PT CIMB Niaga Auto Finance (CNAF) berencana menghimpun dana segar melalui Penawaran Umum Berkelanjutan (PUB) Obligasi Berkelanjutan I dengan target total mencapai Rp5 triliun. Rencana aksi korporasi ini diawali dengan target emisi tahap pertama sebesar Rp1 triliun pada awal kuartal III/2026.
Langkah strategis ini diambil sebagai respons atas tren positif pertumbuhan penerbitan surat utang di industri pembiayaan nasional, sebagaimana dilansir dari Market. Pertumbuhan tersebut tercermin dari data PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) yang mencatat nilai emisi obligasi multifinance menyentuh Rp11,90 triliun pada kuartal I/2026, atau melonjak 42,7 persen secara tahunan.
Presiden Direktur CNAF, Ristiawan Suherman, memberikan penjelasan mengenai kondisi pasar saat ini yang dinilai sangat mendukung rencana ekspansi perusahaan pada Selasa (5/5/2026).
"Adanya pertumbuhan penerbitan obligasi perusahaan tentunya menjadi sebuah sinyal positif yang menandakan bahwa kondisi market masih kondusif. Kondisi ini memberikan dampak positif bagi perusahaan untuk memperkuat struktur modalnya," jelas Ristiawan.
Terdapat sejumlah pertimbangan utama bagi perseroan sebelum melepas obligasi ke pasar, mulai dari penentuan waktu penawaran yang tepat hingga kalkulasi minat investor. Ristiawan menekankan bahwa faktor-faktor tersebut krusial untuk memastikan penyerapan instrumen secara maksimal.
"Serta tingkat suku bunga yang tentunya akan berdampak pada biaya pendanaan. Sejauh ini CNAF melihat Obligasi masih menjadi salah satu sumber diversifikasi pendanaan yang cukup menarik bagi investor," tuturnya.
Sebelum rencana PUB ini bergulir, CNAF tercatat telah merilis Sukuk Wakalah Bi Al Istitsmar Berkelanjutan I CIMB Niaga Finance Tahap IV pada awal tahun 2026. Dana yang diperoleh dari instrumen syariah tersebut dialokasikan untuk memperkuat modal kerja di berbagai lini bisnis perusahaan.
"Kemudian, pembiayaan Syariah, pembiayaan kendaraan, properti, serta jasa penyelenggara porsi Haji," tutup Ristiawan.
Mengenai prospek industri secara luas, Fixed Income Analyst Pefindo, Ahmad Nasrudin, menyoroti besarnya kontribusi sektor multifinance terhadap pasar utang korporasi pada Senin (27/4/2026). Sektor ini tercatat menyumbang 20,1 persen dari total penerbitan surat utang nasional.
"Angka kuartal I/2026 juga sudah setara 31,2% dari total penerbitan multifinance sepanjang 2025 lalu yang mencapai Rp38,18 triliun. Ini menunjukkan emiten multifinance masuk pasar cukup awal," ungkap Ahmad.