Istilah gaslighting kembali menjadi perhatian publik menyusul insiden dalam Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI 2026 di Provinsi Kalimantan Barat pada Rabu (13/5/2026). Perilaku pembawa acara Shindy Lutfiana terhadap siswa SMAN 1 Pontianak dalam acara tersebut dinilai netizen sebagai bentuk manipulasi psikologis.
Perlakuan tersebut dilaporkan memicu dampak emosional yang signifikan bagi korbannya, termasuk perasaan rendah diri. Menanggapi fenomena tersebut, psikolog klinis Anastasia Sari Dewi memaparkan sejumlah konsekuensi kesehatan mental yang serius akibat tindakan manipulasi ini, sebagaimana dilansir dari Detik Health.
Penjelasan mengenai dampak kesehatan mental ini menitikberatkan pada tiga poin utama, yakni penurunan kepercayaan diri, peningkatan kecemasan, serta gangguan suasana hati atau mood yang ekstrem. Anastasia menekankan bahwa manipulasi verbal yang berulang dapat mengikis keyakinan individu terhadap realitas yang mereka alami.
"Pertama kurangnya percaya diri, korban gaslighting ini akan merasa tidak yakin dengan dia punya pemikiran dan perasaannya. Karena seringkali dimanipulasi atau dibolak-balik oleh lawan bicaranya," kata Anastasia saat dihubungi detikcom, Rabu (13/5/2026).
Kurangnya rasa percaya diri ini kemudian meluas hingga ke penilaian terhadap nilai-nilai pribadi yang dimiliki korban. Hal ini terjadi karena respon yang diterima tidak sesuai dengan ekspektasi sosial atau moral yang seharusnya berlaku.
"Dia menjadi kurang percaya diri dengan value yang dia punya, karena setelah melakukan sesuatu yang benar atau yang baik, belum tentu responsnya seperti yang dia pelajari. Hal baik berbuah baik," sambungnya.
Selain masalah kepercayaan diri, rasa cemas yang meningkat menjadi dampak kedua yang dialami korban setelah menerima perlakuan manipulatif. Kecemasan ini sering kali muncul dalam bentuk ketakutan akan penilaian orang lain dan keraguan terhadap diri sendiri.
"Karena dia menjadi khawatir orang lain akan memahami atau tidak dengan yang kumaksud. Orang lain akan berpikir apa tentang aku? Orang lain akan merasa atau menilai aku cukup baik atau tidak? Jangan-jangan aku dinilai salah?" katanya.
Anastasia menambahkan bahwa pikiran-pikiran negatif tersebut terus menghantui korban sehingga menciptakan siklus kekhawatiran yang tidak berkesudahan. Kondisi ini membuat korban terus-menerus mempertanyakan kewajaran perilaku mereka sendiri di mata publik.
"Jangan-jangan aku dinilai berlebihan mungkin, atau aku dinilai yang tidak baik. Jadi intinya mengarah ke sana. Jadi gaslighting membuat diri korban cemas," sambungnya.
Konsekuensi fatal terakhir yang dapat menimpa korban adalah penurunan kondisi suasana hati yang mengarah pada kesedihan mendalam hingga risiko depresi klinis. Hal ini dipicu oleh ketidakmampuan korban dalam menghadapi tekanan mental yang bertubi-tubi.
"Jadi pada korban gaslighting biasanya ada yang juga kondisi di mana dia tidak mampu untuk berperang dengan pikiran overthinking, cemasnya, dan turunnya kepercayaan dirinya," katanya.
Rasa tidak berdaya ini sering kali dibarengi dengan pandangan pesimis terhadap masa depan dan kemampuan diri. Korban merasa terisolasi dan tidak mendapatkan pemahaman dari lingkungan sekitarnya.
"Lalu mengarah ke sensasi sedih yang mendalam atau depresi. Merasa tidak dipahami, merasa selalu salah, merasa aku tidak capable, merasa aku tidak ada masa depan baik," sambungnya.