Penurunan kadar hormon estrogen selama masa menopause memicu berbagai gangguan kesehatan gigi dan mulut serius seperti mulut kering dan peradangan gusi. Fenomena medis ini dilaporkan memengaruhi perempuan pada masa transisi hormonal, sebagaimana dilansir dari Lifestyle pada Rabu (13/5/2026).
Kondisi mulut kering yang sering diabaikan dapat berkembang menjadi komplikasi yang lebih berat, termasuk peningkatan sensitivitas gigi hingga kerusakan tulang di sekitar gigi. Berkurangnya aliran air liur menjadi faktor kunci yang mempercepat penumpukan bakteri merugikan di rongga mulut.
"Aliran air liur berperan besar dalam mencegah gigi berlubang dan mencegah penumpukan biofilm bakteri pada gigi," kata Lior Tamir, dokter gigi kosmetik di San Mateo, California, AS.
Risiko kemunculan karies atau gigi berlubang menjadi jauh lebih tinggi ketika produksi air liur menurun drastis. Masalah ini diperparah dengan kerentanan jaringan gusi yang meningkat seiring dengan fluktuasi hormon yang dialami perempuan paruh baya.
"Pendorong utamanya adalah penurunan estrogen, dan pada tingkat yang lebih rendah, progesteron," kata Richard Lipari, dokter gigi kosmetik dari Lipari & Mangiameli Dentistry, New York.
Hormon estrogen memiliki fungsi vital dalam menjaga kepadatan tulang dan mendukung kesehatan jaringan gusi secara keseluruhan. Ketika produksi hormon ini melambat, stabilitas gigi dapat terancam akibat pengeroposan tulang penyangga.
"Saat kadarnya menurun, aliran air liur berkurang, mikrobioma mulut bergeser, dan respons peradangan menjadi lebih jelas, membuat jaringan gusi lebih rentan," ujar Richard Lipari.
Gejala gangguan mulut ini sering kali muncul lebih awal pada masa perimenopause sebelum siklus menstruasi benar-benar berhenti. Banyak perempuan melaporkan adanya pendarahan gusi atau gusi sensitif sejak memasuki usia 40-an.
"Perubahan-perubahan ini belum tentu dimulai pada hari menopause dimulai karena sering muncul selama perimenopause, ketika kadar hormon berfluktuasi," kata Richard Lipari.
Penyesuaian rutinitas perawatan di rumah sangat disarankan oleh para ahli untuk memitigasi dampak hormonal tersebut. Penggunaan produk spesifik seperti obat kumur pelumas dan pasta gigi dengan kandungan nano-hydroxyapatite menjadi solusi proteksi enamel.
"Banyak perempuan mulai menyadari gejala seperti mulut kering, gusi sensitif, atau peningkatan pendarahan pada usia 40-an, sebelum menopause dicapai," sambung Richard Lipari.
Selain perawatan mandiri, penggunaan teknologi sikat gigi elektrik dianggap lebih efektif dalam membersihkan plak yang membandel. Getaran pada alat tersebut mampu menjangkau sela-sela gigi secara lebih menyeluruh dibandingkan penyikatan manual.
"Kekuatan getar sikatnya membuat mulut terasa seperti gigi telah dibersihkan secara menyeluruh, seolah-olah dilakukan di klinik gigi," ucap Brian Kantor, dokter gigi kosmetik.
Para spesialis juga menekankan pentingnya frekuensi kunjungan ke dokter gigi yang lebih intensif, yakni setiap tiga hingga empat bulan sekali. Langkah pencegahan lainnya mencakup hidrasi tubuh yang cukup serta pembatasan konsumsi alkohol dan kafein.