Danantara Dorong Inovasi Teknologi AI Guna Dongkrak Investasi Pasar Modal

Danantara Dorong Inovasi Teknologi AI Guna Dongkrak Investasi Pasar Modal

Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) menilai stagnansi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) disebabkan oleh kurangnya diversifikasi sektor teknologi, di luar faktor penyesuaian indeks MSCI yang tengah menjadi perhatian investor. Chief Investment Officer Danantara, Pandu Sjahrir, menyampaikan pandangan tersebut di Gedung Bursa Efek Indonesia pada Selasa (12/5/2026).

Kondisi pasar keuangan saat ini sedang menghadapi tekanan dari berbagai arah, termasuk dampak domino dari ketidakpastian geopolitik global terhadap sejumlah industri. Pandu menekankan pentingnya dunia korporasi di Indonesia untuk meningkatkan daya tawar melalui sektor kecerdasan buatan (AI) agar tetap kompetitif dibandingkan negara lain.

Pandu berpendapat bahwa regulator pasar modal sebenarnya telah mengantisipasi penyesuaian kebijakan MSCI dengan sangat baik. Masalah utama yang dihadapi pasar modal Indonesia saat ini menurutnya lebih berkaitan dengan kebutuhan inovasi sektor industri yang terdaftar di bursa.

"Jadi, bisa dibilang ini soal MSCI. Menurut saya, masalah MSCI sudah relatif teratasi. Mungkin ini soal kreativitas," ujarnya Pandu Sjahrir, Chief Investment Officer Danantara.

Performa bursa di Asia yang mencatatkan kinerja terbaik saat ini didominasi oleh Taiwan dan Korea Selatan. Hal tersebut dapat terjadi karena kedua negara tersebut berfokus pada pengembangan industri teknologi dan ekosistem kecerdasan buatan yang sedang menjadi tren global.

"Kenapa? Karena the story today di dunia itu hanyalah soal AI. Malah sekarang bukan lagi soal Artificial Intelligence, sekarang sudah mulai ngomong soal General Intelligence atau AGI," ungkap Pandu Sjahrir, Chief Investment Officer Danantara.

Dinamika pasar modal Indonesia yang mencatatkan penurunan sekitar 20 persen sejak awal tahun (year to date) disebabkan oleh ketergantungan pada sektor tradisional. Saat ini, emiten besar di tanah air masih didominasi oleh sektor perbankan dan perusahaan pertambangan.

"Karena kalau anda lihat tentang Indonesia, kita turun year to date 20%, dinamika di Indonesia yang listed hanya apa? Bank dan mining companies," ucap Pandu Sjahrir, Chief Investment Officer Danantara.

Perbandingan terlihat jelas pada kapitalisasi pasar satu perusahaan semikonduktor asal Taiwan, TSMC, yang mampu melampaui seluruh pasar Asia Tenggara. Korea Selatan juga mengalami pertumbuhan signifikan berkat kaitan erat industrinya dengan perkembangan teknologi AI global.

"Di Taiwan ada satu perusahaan TSMC, satu perusahaan TSMC market capnya lebih besar dari seluruh Asia Tenggara. Satu, itu Taiwan. Korea year to date kurang lebih 80% karena has to do with AI," imbuh Pandu Sjahrir, Chief Investment Officer Danantara.

Pandu menyayangkan belum adanya emiten dalam negeri yang mengikuti tren AI untuk memperkuat fundamental pasar modal. Ia berpendapat bahwa bisnis energi seharusnya mulai berintegrasi dengan kebutuhan perkembangan teknologi kecerdasan buatan tersebut.

"Belum ada satupun yang mengikuti trend AI. Padahal untuk AI berkembang seharusnya business energy yang mengikuti itu," katanya Pandu Sjahrir, Chief Investment Officer Danantara.

Meskipun saham sektor perbankan masih memberikan hasil dividen yang menarik, inovasi tetap menjadi kunci utama pertumbuhan jangka panjang. Penyegaran industri diperlukan agar bursa Indonesia tidak tertinggal lebih jauh dari dinamika pasar modal di negara-negara tetangga.

"Dari 15 tahun terakhir, I think banks you can hold 10-11 hari ini saya cek mandiri 11% dividend yield. I don't think it's ever touch that low. Jadi anda bayangin kalau sebagai seorang investor ini pasti sangat murah. Tapi what's the growth story? who is the next TSMC disini? Who can actually capitalize energy menjadi AI?," tutup Pandu Sjahrir, Chief Investment Officer Danantara.

Artikel terkait

Rekomendasi