Grup pemberi pinjaman yang dipimpin oleh Delta Air Lines menyepakati pemberian fasilitas pinjaman berjangka sebesar 100 juta dolar AS untuk mendukung rencana pertumbuhan dan modernisasi armada Wheels Up Experience Inc. pada laporan kuartal pertama tahun 2026.
Langkah strategis ini mencakup pinjaman berjangka PIK tiga tahun tanpa jaminan dengan kapasitas tambahan sebesar 100 juta dolar AS serta peningkatan fasilitas pembiayaan pesawat. Kesepakatan tersebut diproyeksikan menambah likuiditas sekitar 165 juta dolar AS pada kuartal kedua 2026 guna mendanai investasi armada jangka panjang.
Berdasarkan data keuangan yang dirilis Wheels Up, perusahaan mencatat pendapatan sebesar 168,9 juta dolar AS pada kuartal pertama 2026, yang menunjukkan penurunan 5 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Meski demikian, total pemesanan kotor naik 10 persen mencapai 267,2 juta dolar AS yang didorong oleh pertumbuhan sektor carter.
Secara operasional, Wheels Up telah menyelesaikan modernisasi armada dengan kini hanya mengoperasikan jet tipe Phenom dan Challenger. Perusahaan melaporkan tingkat penyelesaian penerbangan mencapai 98,9 persen dan kinerja ketepatan waktu sebesar 82,7 persen, sementara tingkat keterlambatan lebih dari tiga jam turun menjadi 2,0 persen.
Laporan tersebut juga merinci kerugian bersih sebesar 83,0 juta dolar AS atau 2,29 dolar AS per saham. Defisit Adjusted EBITDAR tercatat sebesar 18,3 juta dolar AS, menunjukkan sedikit perbaikan sebesar 3 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu.
"Adjusted EBITDAR loss of $18.3 million, a 3% improvement over last year" tulis Wheels Up dalam pengungkapan metrik profitabilitas perusahaan.
Meskipun terdapat perbaikan operasional, arus kas yang digunakan untuk aktivitas operasi membengkak menjadi 99,6 juta dolar AS. Posisi kas dan setara kas perusahaan tercatat sebesar 54,1 juta dolar AS pada 31 Maret 2026 di tengah beban liabilitas total yang mencapai 1,38 miliar dolar AS.
"An unsecured term loan credit facility (the “Term Loan Facility”) in an aggregate maximum" jelas laporan tersebut mengenai struktur permodalan baru untuk mendukung rencana pertumbuhan tahunan.
Pencapaian operasional lainnya mencakup peningkatan keandalan layanan bagi pelanggan jet privat. Efisiensi penggunaan armada jet yang dikendalikan sepenuhnya diklaim menjadi faktor utama di balik penguatan metrik kinerja tersebut.
"Wheels Up achieved a Completion Rate of 99% (up 2 points year-over-year)" ungkap manajemen perusahaan terkait efisiensi tugas yang mencapai titik akhir sesuai rencana.
Nilai pemesanan kotor per perjalanan juga mengalami lonjakan signifikan di tengah transisi bisnis perusahaan. Fokus pada segmen jet privat tetap menjadi prioritas utama dalam strategi pemulihan ekonomi maskapai tersebut.
"Private Jet Gross Bookings per Live Flight Leg $24,786 vs $18,843, up 32%" papar data Wheels Up mengenai pertumbuhan nilai transaksi per leg penerbangan.
Perusahaan terus memantau efektivitas layanan melalui durasi keterlambatan untuk menjaga kepercayaan konsumen. Metrik ini menjadi indikator penting dalam menilai risiko eksekusi jadwal penerbangan.
"3+ Hour Delay Rate | 2.0 % | | 5.0 % | | (3) pp" catat laporan tersebut menunjukkan penurunan drastis tingkat keterlambatan panjang dibandingkan periode sebelumnya.
| Indikator Keuangan (Q1 2026) | Nilai (Dolar AS) | Keterangan |
|---|---|---|
| Pendapatan GAAP | 168,9 Juta | Turun 5% YoY |
| Kerugian Bersih | 83,0 Juta | 2,29 Dolar per Saham |
| Pemesanan Kotor | 267,2 Juta | Naik 10% YoY |
| Pinjaman Baru | 100 Juta | Tenor 3 Tahun (12% PIK) |
Manajemen Wheels Up mengharapkan peningkatan pemanfaatan armada dan efisiensi biaya dapat menekan laju pembakaran kas pada periode mendatang. Fokus utama perusahaan saat ini tetap pada eksekusi rencana pertumbuhan multi-tahun dengan dukungan likuiditas dari grup Delta.