Banyak calon orang tua menganggap bahwa gangguan ginjal pada anak hanya bisa diidentifikasi setelah bayi lahir. Padahal, pemeriksaan rutin selama masa kehamilan sebenarnya dapat mendeteksi sejumlah kelainan bawaan pada saluran kemih dan ginjal, seperti dilansir dari Medcom.
Langkah deteksi sejak dini ini krusial untuk dilakukan. Keterlambatan dalam mendiagnosis kondisi tersebut berisiko memicu kerusakan ginjal permanen yang dapat memengaruhi kualitas hidup anak sampai dewasa.
Dokter Spesialis Bedah Anak Konsultan Urologi Anak, dr. Ronald Sorongku, Sp.BA, Subsp.U.A (K), FIAPS, menjelaskan bahwa perkembangan teknologi pencitraan saat ini sangat membantu mengenali beragam kelainan urologi kongenital ketika janin masih dalam kandungan.
"Banyak kelainan saluran kemih dan ginjal pada anak sebenarnya sudah bisa diketahui sejak masa kehamilan melalui pemeriksaan khusus USG fetomaternal. Semakin dini kondisi ini terdeteksi, semakin besar peluang untuk mencegah kerusakan ginjal permanen dan mempertahankan fungsi ginjal anak dalam jangka panjang," ujar dr. Ronald.
Salah satu jenis kelainan yang paling sering diidentifikasi selama masa kehamilan adalah hidronefrosis kongenital. Kondisi ini merujuk pada pelebaran ginjal yang terjadi akibat adanya hambatan pada aliran urine.
Pemeriksaan USG kandungan umumnya menjadi momen pertama ditemukannya indikasi gejala ini. Meski demikian, dr. Ronald mengingatkan para orang tua bahwa operasi tidak selalu menjadi jalan keluar bagi setiap kasus hidronefrosis.
"Banyak orang tua langsung panik ketika mendengar adanya pelebaran ginjal pada janin. Padahal, tidak semua kasus harus dioperasi. Yang terpenting adalah pemantauan yang tepat, evaluasi fungsi ginjal secara berkala, dan menentukan waktu intervensi yang sesuai bila memang diperlukan," jelasnya.
Pemeriksaan lanjutan yang lebih mendetail biasanya akan dijalankan oleh dokter setelah bayi dilahirkan. Penanganan medis ini meliputi USG saluran kemih, renogram atau skintigrafi ginjal, hingga pemindaian radiologi lain yang disesuaikan dengan kebutuhan.
Rangkaian evaluasi pascabersalin tersebut berfungsi membantu tim medis menilai tingkat fungsi organ, memetakan risiko kerusakan, sekaligus merumuskan tindakan penanganan yang paling efisien.
Utamakan Penanganan Melalui Pendekatan Multidisiplin
Menurut dr. Ronald, penanganan terhadap kelainan urologi yang menimpa anak tidak dapat dilakukan secara mandiri atau terpisah. Kolaborasi multidisiplin yang melibatkan lintas dokter spesialis sangat diperlukan untuk mengoptimalkan kesembuhan.
Tim dokter yang terlibat mencakup spesialis fetomaternal, obstetri dan ginekologi, neonatologi, radiologi, urologi anak, bedah anak, hingga rehabilitasi medik. Sinergi ini memastikan rencana perawatan tersusun rapi dari masa kehamilan, proses kelahiran, hingga pemantauan tumbuh kembang anak.
"Ketika kelainan sudah diketahui sejak dalam kandungan, orang tua memiliki waktu untuk memahami kondisi anaknya, memilih fasilitas kesehatan yang tepat, serta mempersiapkan langkah penanganan sejak awal. Hasilnya tentu akan jauh lebih baik dibandingkan jika diagnosis baru diketahui setelah muncul komplikasi," kata dr. Ronald.
Identifikasi prenatal ini tidak hanya menolong dokter menentukan metode persalinan yang paling aman. Langkah ini juga mempermudah pengawasan pertumbuhan organ ginjal, kandung kemih, serta volume cairan ketuban yang menjadi indikator vital kesehatan janin.
Melalui pemeriksaan kehamilan berkala, orang tua tidak sekadar mengamati pertumbuhan fisik janin. Pemeriksaan ini juga menjadi momentum emas untuk mendeteksi gangguan bawaan yang berisiko mengancam masa depan anak.
"Tujuan utama kami bukan sekadar melakukan operasi. Yang paling penting adalah menjaga fungsi ginjal anak tetap optimal sepanjang hidupnya. Dengan deteksi dini, monitoring yang tepat, dan kolaborasi multidisiplin, banyak anak dapat tumbuh sehat dan terhindar dari komplikasi serius di kemudian hari," tutur dr. Ronald.