Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta menemukan belasan anak yang pernah dititipkan di daycare Little Aresha mengalami penyimpangan perkembangan berdasarkan hasil skrining massal. Temuan tersebut diperoleh setelah psikolog klinis memeriksa ratusan anak eks daycare tersebut di Balai Kota Yogyakarta pada Selasa (19/5/2026), dilansir dari Detik Health.
Pemeriksaan menggunakan pedoman Stimulasi, Deteksi, Intervensi Dini Tumbuh Kembang (SDIDTK) ini menyasar 153 anak untuk memantau kesesuaian usia dengan perkembangan mereka. Selain masalah psikologis, tim medis juga menemukan belasan anak mengalami gangguan pertumbuhan fisik.
Kepala Bidang Kesehatan Dinkes Kota Yogyakarta, Aan Iswanti, merinci hasil pemeriksaan psikologis terhadap ratusan anak tersebut. Pihaknya kini merujuk anak-anak yang terindikasi mengalami gangguan ke puskesmas setempat.
"Hasilnya ini 12 anak mengalami penyimpangan perkembangan, 19 anak berada dalam kategori meragukan, dan 122 anak berada dalam kondisi perkembangan normal," terang Aan dalam konferensi pers di Balai Kota Yogyakarta, Selasa (19/5/2026), dikutip dari detikJogja.
Petugas medis mengidentifikasi beberapa jenis gangguan perkembangan yang dialami oleh para korban. Kondisi tersebut bervariasi mulai dari keterlambatan kemampuan bicara hingga indikasi perilaku hiperaktif.
"Memang penyimpangan itu ada beberapa kategori, mulai dari yang speech delay atau keterlambatan bicara," ucap Aan.
Pihak Dinkes menegaskan bahwa anak-anak dengan gejala tersebut membutuhkan penanganan medis lebih lanjut melalui rujukan puskesmas.
"Kemudian gejala ke arah autis, ADHD itu tadi banyak gerak, jadi lebih hiperaktif gitu dibanding dengan teman sebayanya atau seusianya, sehingga ini yang perlu dirujuk," sambungnya.
Evaluasi kesehatan fisik juga dilakukan melalui pengukuran antropometri terhadap 149 anak oleh nutrisionis. Pemeriksaan ini mendeteksi adanya gangguan status gizi pada sejumlah anak balita eks daycare tersebut.
"Jadi, ini tidak bisa disebut sebagai gizi buruk ya, jadi sangat jauh berbeda. Ini baru suatu kondisi tahap awal dari kekurangan gizi pada anak balita," tutur Aan.
Pengukuran berbasis standar antropometri ini mampu mendeteksi penurunan berat badan yang secara kasat mata sering kali tidak terlihat.
"Kalau kita lihat secara fisik bahkan ada yang tidak tampak kekurangannya, tapi karena kita melaksanakan pengukuran tumbuh kembang ini berdasarkan standarnya, antropometri, sehingga bisa diketahui ada beberapa anak berat badannya kurang dan gizi kurang," tambahnya.
Hingga saat ini, baru separuh dari anak yang mengalami masalah gizi mendatangi puskesmas. Sembilan anak lainnya dilaporkan masih menyelesaikan rangkaian pemeriksaan psikologis mereka.
Aan menegaskan bahwa pendampingan dan tindak lanjut kasus akan terus dilakukan bersama tim kesehatan setempat demi mengoptimalkan pemulihan para korban.
"Jadi, kalau misalnya pada saat dilaksanakan di Puskesmas dibutuhkan untuk rujukan ke fasilitas kesehatan yang lebih tinggi tingkatannya, misalnya rumah sakit, sudah disiapkan Rumah Sakit Pratama, RSUD Kota Yogyakarta, dan apabila ternyata dibutuhkan rujukan yang lebih tinggi lagi, RSUP Dr Sardjito juga sudah siap," tegas Aan.
Pihak dinas kesehatan juga telah berkoordinasi dengan rumah sakit rujukan terkait penyediaan tenaga medis spesialis.
"Kita sudah melaksanakan koordinasi dengan rumah sakit tersebut, khususnya untuk psikolog dan juga untuk dokter anaknya. Jadi, Insya Allah kalau memang dibutuhkan rujukan yang lebih tinggi sudah siap dilayani," pungkasnya.