Dokter Bantah Nyeri Leher Belakang Jadi Tanda Kolesterol Tinggi

Dokter Bantah Nyeri Leher Belakang Jadi Tanda Kolesterol Tinggi

Kadar kolesterol yang melonjak tinggi kerap dikaitkan dengan munculnya rasa nyeri atau sensasi cenat-cenut pada leher bagian belakang. Namun, anggapan yang berkembang di masyarakat ini ternyata tidak sesuai dengan fakta medis.

Dilansir dari Detik Health, spesialis jantung dan pembuluh darah dr BRM Ario Soeryo Kuncoro, SpJp(K) menjelaskan bahwa rasa sakit pada area belakang leher tidak memiliki hubungan dengan tingkat kolesterol seseorang. Menurutnya, gangguan tersebut biasanya dipicu oleh posisi atau postur tubuh yang keliru.

"Mitos itu, muncul sakit di otot leher bukan karena kolesterol," kata dr Ario.

Pandangan serupa juga disampaikan oleh spesialis gizi klinik dr Diana F Suganda. Ia menyatakan bahwa penumpukan kolesterol di dalam tubuh umumnya sama sekali tidak memunculkan indikasi yang spesifik.

"Jadi nggak ada tuh yang orang bilang ,'oh sakit nih di leher berarti kolesterol tinggi', belum tentu," ujarnya.

Langkah mendeteksi kadar lemak darah ini hanya bisa dipastikan melalui tes laboratorium medis. Penegasan mengenai absennya gejala khas pada kondisi ini juga diutarakan oleh spesialis penyakit dalam dr Muhammad Imanuddin.

dr Muhammad Imanuddin menguraikan bahwa lonjakan kolesterol Low Density Lipoprotein (LDL) atau kolesterol jahat sering kali terjadi tanpa disadari pasien. Kendati demikian, beberapa orang terkadang mengeluhkan sejumlah kondisi fisik tertentu.

Keluhan yang dialami pasien tersebut meliputi pembengkakan di area kaki, tangan, maupun seluruh bagian tubuh. Selain itu, rasa nyeri juga bisa terasa pada area kaki, tangan, pundak, hingga leher.

"Untuk mengetahui apakah kolesterol tinggi atau tidak, sebaiknya diperiksakan kadar kolesterol total, trigliserida, kolesterol LDL dan Kolesterol HDL pada pasien di faskes atau rumah sakit terdekat," sambungnya.

Pemeriksaan fisik luar memang tidak dapat dijadikan acuan tunggal untuk menentukan diagnosis. Walau begitu, berat badan berlebih atau obesitas dapat menjadi salah satu indikator awal yang patut diwaspadai.

Spesialis penyakit dalam dr Ray Ratu, SpPD menerangkan bahwa obesitas dipicu oleh akumulasi lemak berlebih yang tidak sebanding dengan postur ideal tubuh. Kondisi ini masuk ke dalam kelompok gangguan sindrom metabolik.

"Obesitas itu suatu kondisi kegemukan terjadinya penumpukan lemak di dalam tubuh yang berlebihan atau peningkatan berat badan yang tidak sesuai proporsional pasien atau individu tersebut," ucapnya.

Sindrom metabolik sendiri mencakup berbagai gangguan kesehatan yang saling berkaitan. Beberapa di antaranya meliputi tekanan darah tinggi (hipertensi), kadar kolesterol pekat (hiperkolesterolemia), kencing manis (diabetes mellitus), serta asam urat tinggi (hiperurisemia).

Meski risiko mengintai kelompok obesitas, dr Ray Ratu, SpPD mengingatkan bahwa bentuk tubuh besar bukan jaminan mutlak seseorang pasti mengidap masalah kolesterol. Peluang terjadinya gangguan metabolik ini hanya jauh lebih besar jika dibandingkan dengan individu berbobot normal.

"Jadi, tidak serta merta memang orang gemuk pasti kolesterol tinggi. Tidak. tetapi akan besar kemungkinan dia juga sudah membawa penyakit metabolik yang lain menjadi teman-temannya," tuturnya lagi.

Dikutip dari catatan Mayo Clinic, ada beragam aspek lain yang memicu penumpukan kolesterol jahat di dalam darah. Pola makan yang buruk akibat konsumsi lemak jenuh dari daging berlemak atau lemak trans pada makanan ringan menjadi pemicu utama.

Faktor berikutnya adalah kurangnya aktivitas fisik atau olahraga yang berguna untuk memicu pertumbuhan kolesterol baik. Konsumsi minuman beralkohol secara berlebihan dalam jangka panjang pun terbukti mampu mendongkrak angka kolesterol total.

Faktor usia juga memegang peranan penting dalam penurunan fungsi organ tubuh. Penyakit ini memang bisa menyerang segala usia termasuk anak-anak, tetapi kasusnya jauh lebih jamak ditemukan pada individu berumur di atas 40 tahun karena penurunan kemampuan organ hati dalam menyaring kolesterol jahat.

Artikel terkait

Rekomendasi