Aktivitas pelayanan kemanusiaan terasa hidup di Rumah Sehat Baznas yang terletak di Jalan Raya Lintas Pantai Timur Sumatera, Kecamatan Seputih Banyak, Kabupaten Lampung Tengah. Seperti dilaporkan oleh Cahaya, warga tampak tekun mengantre untuk mendapatkan pemeriksaan kesehatan di klinik sederhana tersebut.
Dua dokter perempuan yang merupakan ibu dan anak memilih untuk mengabdikan diri sebagai relawan kesehatan bagi masyarakat kecil di sana. Mereka adalah dr Intan Juliana O M.Epid Sp KKLP dan putrinya, dr Reza Khairunnisa.
Klinik ini menjadi tumpuan harapan bagi masyarakat sekitar yang kesulitan menjangkau fasilitas kesehatan karena kendala biaya. Pengelola tidak menetapkan tarif pasti kepada pasien, melainkan hanya menyediakan sebuah kotak infak di meja pendaftaran.
Warga yang memiliki kemampuan finansial dipersilakan mengisi kotak tersebut seikhlasnya, sedangkan warga yang tidak mampu tetap mendapatkan pelayanan medis yang sama.
“Kalau warga yang bisa berinfak ya silakan. Kalau enggak ada juga ya enggak apa-apa,” kata dr Intan kepada Kompas.com.
dr Intan menceritakan bahwa kotak infak tersebut sering kali berisi lembaran uang kecil dari masyarakat yang berobat.
“Bapak bisa lihat pecahan uangnya. Ada Rp 2.000, Rp 4.000. Bahkan ada yang bilang, ‘Bu Dok, saya terus terang enggak punya duit.’ Ya sudah, enggak apa-apa,” ujarnya.
Sebagai aparatur sipil negara yang bertugas di puskesmas setempat, dr Intan sudah puluhan tahun hidup di tengah masyarakat desa. Dirinya sudah lama memendam cita-cita membuka layanan kesehatan gratis bagi warga miskin sebelum akhirnya bergabung dengan Rumah Sehat Baznas pada 2023.
Niat mulia tersebut lahir setelah dirinya terinspirasi oleh sosok almarhum Prof dr Aznan Lelo yang dikenal melayani pasien hanya dengan menyediakan kotak infak seikhlasnya.
“Kalau masyarakat berobat, dr Aznan enggak pakai bayaran, dia pakai kotak infak aja seikhlasnya. Jadi tukang becak dan siapapun semuanya,” katanya.
Keinginan untuk bergerak mandiri sempat terkendala modal finansial yang tidak ia miliki.
“Saya senang kayak gitu, tapi ya apa ya mampu saya, saya enggak punya modal,” ujarnya.
Kesempatan itu terbuka lebar saat dirinya mendapat informasi bahwa Baznas sedang mencari dokter relawan untuk wilayah Lampung Tengah.
“Saya dengar ini membutuhkan dokter relawan, ini cocok. Modalnya dari dia (Baznas), jasanya biar dari saya. Saya tenaga aja dan pikiran,” katanya.
Bagi dr Intan, kesempatan bergabung dengan lembaga tersebut merupakan jawaban atas impian yang selama ini ia panjatkan.
“Mungkin saya pikir, oh ini jawaban Allah. Cita-cita yang saya apa itu, mungkin ya inilah tempatnya, wadahnya,” ucapnya pelan.
Perjalanan dan Tantangan Pelayanan
Perjalanan karier dr Intan dipenuhi oleh berbagai kisah perjuangan di daerah pedalaman. Alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara ini langsung ditempatkan di daerah terpencil yang belum teraliri listrik saat awal diangkat menjadi PNS.
“Saya ditempatkan di Sido Binangun dulu. Enggak ada lampu. Enggak ada ojek. Sendiri. Ya Allah kok saya dapat di tengah kebun singkong,” kenangnya sambil tertawa.
Sebagai perempuan asal Medan, ia juga sempat mengalami kesulitan saat harus menyesuaikan diri dengan bahasa dan budaya masyarakat Jawa pedesaan di lokasi tugasnya.
“Di sini kan Jawa, mayoritas. Saya orang Medan. Bahasa Jawa halus. Pusing lah kepala saya Russo,” katanya.
Di tempat penugasan tersebut, ia bertemu jodohnya yang juga berprofesi sebagai tenaga kesehatan, dan memutuskan menjadi mualaf sebelum mereka menikah.
Semangat pengabdian ini sekarang diturunkan kepada dr Reza Khairunnisa, putrinya yang merupakan lulusan Universitas Muhammadiyah Surakarta, untuk ikut melayani masyarakat desa.
“Saya ajak ke sini. Menanamkan nilai-nilai,” kata dr Intan lantas mengungkapkan bahwa suaminya meninggal 40 hari lalu.
dr Reza menyambut baik ajakan tersebut demi menjaga nilai kepedulian di tengah dunia yang makin materialistis.
“Kita cintanya pengen kaya raya, tapi pengen ngabdi juga,” timpal dr Reza sambil tersenyum saat ditanya harapan ke depannya sebagai dokter.
Rumah Sehat Baznas Lampung Tengah didukung oleh sekitar 19 tenaga medis dan nonmedis yang melayani pengobatan umum, kesehatan ibu dan anak, home care, hingga perawatan luka diabetes ke rumah pasien.
“Jadi ada yang enggak bisa dibawa ke sini, luka-luka DM, ya kita dipanggil,” kata dr Intan.
Pihak klinik bahkan kerap membantu menyediakan ambulans bagi pasien miskin hingga fasilitas penjemputan jenazah warga yang meninggal dunia.
“Yang enggak bayar, yang bayar yang kasih infak dia di situ Gobel,” katanya.
Operasional pelayanan kemanusiaan ini tetap berjalan meski sering menghadapi tantangan keterlambatan biaya operasional dan pemenuhan stok obat-obatan.
“Kalau operasional telat, ya telat saya bayar obat. Nanti ditanya-tanya jatuh tempo,” ujarnya.
Kendati dihadapkan pada situasi sulit, dr Intan menegaskan komitmennya untuk terus memberikan kebermanfaatan bagi sesama.
“Sedekah enggak nunggu kaya,” katanya singkat.