Dokter Ingatkan Risiko Orangtua Kenalkan Parfum pada Anak Terlalu Dini

Dokter Ingatkan Risiko Orangtua Kenalkan Parfum pada Anak Terlalu Dini

Minat anak-anak dan remaja terhadap produk wewangian belakangan ini mengalami peningkatan signifikan. Tren berburu parfum di pusat perbelanjaan kini menjadi bagian dari gaya hidup generasi muda, seperti dikutip dari Lifestyle.

Kondisi tersebut memicu pertanyaan mengenai batas usia yang aman bagi anak untuk mulai menggunakan parfum. Para ahli medis memberikan perhatian khusus terkait kesehatan kulit, risiko iritasi, hingga keamanan bahan kimia yang terkandung dalam produk pewangi.

Bayi dan anak usia balita sangat tidak disarankan untuk menggunakan produk parfum. Wakil Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Banten, dr. Arifin Kurniawan Kashmir, SpA., MKes., CHt., FISQua memberikan penjelasan mengenai sensitivitas kulit pada kelompok usia tersebut.

“Kalau untuk bayi dan balita, parfum tidak direkomendasikan karena kulitnya masih sensitif, risiko untuk iritasi, dan juga penggunaan aerosol pada anak kecil juga beresiko untuk menyemprot ke mata, mulut, atau tertelan,” jelasnya.

Pandangan serupa disampaikan oleh Dokter Spesialis Dermatologi, Venereologi, dan Estetika dari Siloam Heart Hospital, dr. Atika Kamilia, Sp.DVE. Ia menegaskan bahwa intervensi produk wewangian sebaiknya ditunda, terutama bagi bayi yang masih berusia di bawah enam bulan hingga satu tahun.

Menurut dr. Atika Kamilia, Sp.DVE, perkembangan lapisan pelindung kulit bayi belum bekerja secara optimal. Hal ini membuat bahan pewangi kimia rentan memicu reaksi negatif seperti kemerahan, iritasi, hingga alergi pada kulit yang sensitif.

Oleh karena itu, menjaga kebersihan tubuh serta pakaian anak jauh lebih penting daripada sekadar menyamarkan aroma tubuh dengan parfum. Produk wewangian tidak boleh ditempatkan sebagai kebutuhan utama dalam perawatan bayi.

Batas Usia Aman Mengenal Wewangian

Fase usia sekolah dinilai menjadi momentum paling aman bagi orangtua untuk mengenalkan parfum kepada anak. Dr. Arifin Kurniawan Kashmir, SpA., MKes., CHt., FISQua menyebutkan bahwa pada periode ini anak sudah memiliki kemampuan komunikasi yang baik.

“Pendekatan yang paling aman pada saat anak usia sekolah, ketika anak sudah bisa paham instruksi, enggak menyemprot ke wajah, mulut, dan area luka, dan tidak berlebihan dalam penggunaannya,” ujarnya.

Di sisi lain, anak yang menginjak usia tiga hingga lima tahun sebenarnya sudah bisa mulai diperkenalkan dengan produk wewangian. Namun, dr. Atika Kamilia, Sp.DVE menekankan bahwa penggunaannya harus tetap dibatasi dan bersifat minimal.

“Jadi sekitar usia 3–5 tahun, bila ingin mulai dikenalkan, sebaiknya sangat minimal, gunakan sesekali saja, dan pilih formula ringan atau hypoallergenic,” katanya.

Orangtua juga diingatkan untuk tidak memberikan parfum kategori dewasa kepada anak-anak. Pilihan terbaik adalah produk yang dirancang khusus untuk anak, seperti baby cologne yang telah melewati pengujian klinis secara medis.

“Jika memang ingin memberikan wewangian saat anak sudah lebih besar di atas 1 atau 2 tahun, pilihlah produk yang memang diformulasikan khusus untuk anak yang sudah lolos uji dermatologi, dan bukan parfum orang dewasa,” jelas dr. Atika Kamilia, Sp.DVE.

Langkah seleksi produk ini menjadi krusial mengingat konsentrasi alkohol dan zat pewangi pada parfum dewasa memiliki kadar yang jauh lebih tinggi daripada produk khusus anak.

Penggunaan Parfum dan Kebersihan Remaja

Remaja memang sudah diperbolehkan memakai parfum secara lebih bebas. Kendati demikian, dr. Arifin Kurniawan Kashmir, SpA., MKes., CHt., FISQua mengingatkan agar produk ini tidak diaplikasikan sebagai rutinitas harian yang berlebihan.

“Untuk anak remaja, parfum boleh digunakan tapi diposisikan sebagai mungkin kosmetik atau produk sesekali, bukan jadi ritual hariannya,” katanya.

Ia menyoroti kekeliruan anggapan bahwa parfum merupakan jalan keluar instan untuk meredam bau badan selama masa pubertas. Penanganan masalah aroma tubuh pada remaja seharusnya difokuskan pada aspek higienitas.

“Sebab, kalau argumentasinya adalah masalah bau badan pada saat anak remaja. Solusinya sebenarnya bukan parfum, tapi evaluasi kebersihan,” ujarnya.

Edukasi mengenai perubahan fisik selama pubertas, kebiasaan mengganti pakaian secara berkala, serta menjaga tubuh tetap kering sehabis beraktivitas berat perlu ditanamkan pada remaja.

Selain itu, orangtua diminta waspada jika anak mengalami masalah bau badan yang muncul terlalu dini. Gejala tersebut biasanya diikuti oleh indikator lain seperti pertumbuhan rambut di area ketiak atau kemaluan, jerawat, serta lonjakan tinggi badan yang drastis.

Artikel terkait

Rekomendasi