Dokter Edukator Masalah Estetika Muslim, dr Anisa Charismawati, menyoroti tren operasi hidung atau rhinoplasty yang dilakukan dengan alasan medis berupa penyakit sinusitis. Fenomena ini memicu diskusi luas setelah sang dokter mengunggah edukasi mengenai perbedaan prosedur fungsional dan estetika hidung melalui media sosial miliknya.
Dilansir dari Suara, dr Anisa menyampaikan pesan terbuka kepada publik agar tidak menggunakan kondisi medis sebagai pembenaran untuk mengubah bentuk fisik secara permanen. Ia menekankan pentingnya menjaga niat awal dalam menjalani prosedur medis tertentu di area wajah.
"Kalau hidung udah kembali ke fitrahnya bisa napas yowes stop, jangan pakai alibi penyakit buat diembel-embelin dipercantik dimancungin itu idung," tulis dr Anisa.
Sentilan ini muncul di tengah maraknya prosedur kecantikan yang sering dikaitkan dengan perbaikan fungsi organ tubuh. Dalam unggahannya, ia juga menyinggung beberapa tren prosedur medis lain yang dianggap serupa dengan fenomena rhinoplasty saat ini.
"Habis melasma, lanjut gigi boneng vs rhinoplasty sekarang sinusitis vs rhinoplasty. Saya tak dakwah aja dok, punten gaes ilmu agama gratis jangan sampai dibutakan dunia," sambung dr Anisa.
Komentar tersebut memicu spekulasi di kalangan warganet yang mengaitkan kritik tersebut dengan figur publik tertentu, termasuk YouTuber Ria Ricis yang sebelumnya mengaku menjalani operasi hidung demi kesehatan. dr Anisa kemudian memberikan peringatan mengenai beban yang dialami oleh para praktisi spesialis Telinga, Hidung, dan Tenggorokan (THT).
"Kasian dokter THT gegara sinusitis diklaim operasinya bisa mancungin hidung, yang sinusnya enggak perlu operasi pada minta op ke dokter THT dan jadi pada kena todong operasi after sinus harus mancung," ucap dr Anisa.
Menurutnya, tidak semua kasus sinusitis memerlukan tindakan pembedahan dan ia menegaskan bahwa prosedur operasi sinus secara teknis tidak ditujukan untuk menambah tinggi hidung. Hal ini bertujuan untuk mengklarifikasi miskonsepsi yang beredar di tengah masyarakat.
"Jangan mau dibohongi oknum ya gaes. Enggak semua sinusitis harus operasi dan operasi sinus enggak bikin mancung," tegas dr Anisa.
Dalam tinjauan medis, dr Anisa menjelaskan bahwa penanganan polip atau sinus berfokus pada pemulihan fungsi pernapasan dan berada di bawah wewenang spesialis THT. Prosedur tersebut tidak melibatkan perubahan bentuk hidung menjadi lebih ramping atau mancung.
"Memperbaiki hidung yang miring atau septoplastik agar dia bisa bernapas kembali seperti normal pada umumnya," imbuh dr Anisa.
Ia membedakan antara septoplasty yang bertujuan mengembalikan fungsi hidung ke posisi asalnya dengan rhinoplasty yang berfokus pada estetika visual. Fokus utama dari tindakan medis fungsional adalah memastikan pasien dapat bernapas dengan normal tanpa mengubah bentuk luar.
"Itu pun dilakukan hanya berfokus pada mengembalikan tulang hidung yang miring ke tempat asalnya tanpa melakukan perubahan bentuk sama sekali agar bisa kembali bernapas seperti normal pada umumnya," terang dr Anisa.
Dilihat dari sudut pandang fikih, dr Anisa menyatakan bahwa tindakan medis yang bertujuan mengembalikan manfaat fungsi tubuh hukumnya diperbolehkan. Namun, ia menekankan adanya fatwa yang melarang jika tujuan utamanya murni untuk merubah bentuk ciptaan Tuhan.
"Siapa bilang bukan urusan kita? Dosanya memang milik masing-masing tapi tugas mengingatkan milik bersama karena jika sama sama lalai azabnya bisa jadi milik bersama. Makanya Allah perintahkan ini bukan tanpa alasan," pungkas dr Anisa.