Dokter Ungkap Alasan Konsumsi Matcha Bisa Picu Rambut Rontok

Dokter Ungkap Alasan Konsumsi Matcha Bisa Picu Rambut Rontok

Popularitas minuman matcha yang terus meningkat di media sosial kini diiringi dengan pembahasan mengenai efek sampingnya terhadap kesehatan tubuh. Salah satu dampak negatif yang ramai dibicarakan adalah masalah kerontokan hingga penipisan rambut secara mendadak.

Kekhawatiran para pencinta teh hijau ini mendapat tanggapan dari para ahli medis, seperti dilansir dari Wolipop. Matcha rupanya tidak menjadi penyebab langsung dari kerontokan rambut yang terjadi secara tiba-tiba.

Heather Viola, seorang dokter perawatan primer sekaligus asisten profesor kedokteran internal umum di Mount Sinai, menjelaskan bahwa kerontokan erat kaitannya dengan kadar zat besi. Rambut manusia akan menjadi lebih rapuh dan mudah rontok apabila simpanan zat besi di dalam tubuh mengalami penurunan.

Senyawa aktif yang terkandung di dalam matcha dapat mengikat zat besi non-heme di saluran pencernaan. Proses kimiawi ini menyebabkan tubuh mengalami kesulitan dalam menyerap nutrisi penting tersebut dari makanan yang dikonsumsi.

Batasan pasti mengenai jumlah konsumsi matcha yang dapat memengaruhi kadar zat besi memang belum diketahui secara pasti. Namun, hasil penelitian menunjukkan dampak yang cukup signifikan dari konsumsi harian.

"Meski tidak dibatasi, penelitian menunjukkan bahwa 1 sampai 2 gelas matcha bisa mengurangi penyerapan zat besi non-heme 60 sampai 70 persen,"

kata Dr. Viola seperti yang dikutip dari Vogue.

Penurunan efisiensi penyerapan zat besi ini umumnya terjadi jika matcha diminum berdekatan dengan waktu makan. Kelompok orang yang menerapkan pola makan vegan, vegetarian, atau sudah memiliki riwayat anemia menjadi pihak yang paling rentan terdampak.

Meminum matcha setiap hari sebenarnya tidak selalu memicu dampak buruk bagi tubuh karena herba ini kaya akan khasiat. Meski demikian, segala bentuk konsumsi yang melewati batas wajar tetap berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan fisik.

Menurut penjelasan Dr. Viola, beberapa efek samping yang dapat muncul meliputi iritasi pada lambung serta gangguan fungsi pencernaan. Risiko lainnya adalah potensi kontaminasi logam berat seperti timbal hingga kemunculan stres berat pada organ hati akibat dosis yang terlampau tinggi.

Matcha juga memiliki kandungan yang bekerja serupa dengan kafein di dalam tubuh. Efek stimulan ini dapat memicu timbulnya rasa cemas, gangguan tidur atau insomnia, sakit kepala, serta interaksi negatif dengan jenis obat-obatan tertentu.

Guna mengantisipasi dampak buruk tersebut, pengaturan waktu minum dan kombinasi makanan menjadi kunci penting. Langkah alternatif ini memungkinkankan seseorang tetap menikmati matcha tanpa harus menghentikan konsumsinya secara total.

Samantha Dieras, selaku direktur layanan nutrisi rawat jalan di Mount Sinai Hospital, memberikan panduan mengenai waktu konsumsi yang aman bagi tubuh.

"Kamu bisa minum matcha satu atau dua jam sebelum konsumsi makanan yang kaya akan zat besi agar tidak berefek negatif pada tubuh,"

saran Dieras. Penyerapan nutrisi juga dapat dioptimalkan dengan mengonsumsi makanan yang kaya vitamin C secara bersamaan.

Dr. Viola menyarankan takaran konsumsi harian matcha yang aman berada pada kisaran 2 hingga 3 gram, atau setara dengan 2 sampai 3 cangkir. Konsumen juga diimbau untuk membatasi penambahan gula maupun sirup agar nilai kesehatannya tetap terjaga.

Beberapa kelompok individu disarankan untuk menghindari kebiasaan minum matcha setiap hari demi keselamatan kesehatan. Kategori ini mencakup ibu hamil atau menyusui, orang dengan sensitivitas kafein tinggi, serta pasien yang sedang menjalani pengobatan medis tertentu.

Larangan serupa juga berlaku bagi orang yang sedang mengalami masalah kekurangan zat besi serta gangguan pada organ hati.

"Jika kamu sehat dan membatasi asupan matcha tiap harinya, ini akan berefek baik sebagai rutinitas sehari-hari,"

kata Dr. Viola.

Faktor Lain Pemicu Kerontokan Rambut

Pandangan berbeda disampaikan oleh Hadley King, seorang dokter kulit bersertifikasi yang praktik di New York City. Menurutnya, matcha dan teh hijau justru berpotensi baik bagi rambut karena kaya antioksidan dan memiliki agen antiinflamasi.

Dr. King menilai bahwa gangguan kerontokan rambut pada seseorang pada dasarnya dipicu oleh multi-faktor yang kompleks. Faktor dominan yang paling sering ditemukan di lapangan meliputi pengaruh genetik atau keturunan, kondisi stres, hingga fluktuasi hormon.

Ditinjau dari aspek pemenuhan nutrisi harian, defisiensi zat seperti vitamin B, zinc, serta vitamin D turut andil dalam merusak kekuatan rambut. Kurangnya asupan protein yang memadai juga menjadi stimulus lain yang mempercepat kerontokan rambut.

Guna mengetahui penyebab pasti dari penipisan rambut yang dialami, Dr. King menyarankan masyarakat untuk segera melakukan pemeriksaan medis secara mendalam kepada dokter ahli.

Artikel terkait

Rekomendasi