Gaya hidup sehat dan mindful kini menjadi tren yang sangat digandrungi oleh berbagai kalangan masyarakat.
Tren tersebut memicu lahirnya beragam rekomendasi aktivitas kebugaran seperti pilates, padel, lari, hingga konsumsi suplemen dan perawatan kesehatan yang membutuhkan biaya besar.
Padahal, seperti dikutip dari Lifestyle, gaya hidup sehat yang dapat memperpanjang usia sebetulnya bisa diraih melalui lima metode yang sederhana dan ramah di kantong.
Fondasi utama dari kesehatan tubuh yang optimal berakar pada kebiasaan tidur yang berkualitas tinggi.
Penerapan pola tidur yang konsisten secara rutin dapat membantu proses istirahat tubuh berjalan dengan jauh lebih maksimal.
Pendiri Longevity Place, dr. Poonam Desai menyarankan masyarakat untuk tidur dan terjaga pada jam yang relatif sama setiap harinya.
Menurut dokter praktik tersebut, tubuh manusia akan menjadi lebih mudah beradaptasi ketika mempunyai ritme biologis yang stabil.
Ia juga mengingatkan bahwa takaran kebutuhan tidur bagi setiap individu tidak selalu sama.
Seseorang tidak harus memaksakan diri tidur selama delapan jam penuh apabila kondisi tubuh sudah terasa bugar setelah beristirahat enam atau tujuh jam.
Memperbanyak Makanan Utuh dan Memasak Sendiri
Langkah selanjutnya untuk menjaga kesehatan adalah dengan meningkatkan konsumsi makanan utuh atau whole food.
Seorang peneliti kedokteran fungsional dengan pengalaman lebih dari 35 tahun, dr. Frank Lipman, mengimbau masyarakat untuk rutin mengonsumsi sayuran, biji-bijian utuh, serta protein dalam menu makanan harian.
Pandangan tersebut sejalan dengan penuturan dr. Poonam yang menyatakan bahwa kebiasaan memasak sendiri di rumah efektif mengurangi asupan makanan ultra-proses dan produk kemasan.
Selain memberikan keuntungan dari segi finansial karena lebih hemat, metode ini membuat kontrol terhadap asupan nutrisi harian menjadi lebih baik.
"Memenuhi pola makan dengan sayuran, serat, dan protein adalah cara mudah untuk makan demi umur panjang," kata dr. Poonam.
Mengurangi Duduk dan Lebih Banyak Bergerak
Durasi duduk yang terlalu lama dalam aktivitas sehari-hari diketahui memiliki dampak yang buruk bagi kondisi kesehatan tubuh.
Oleh karena itu, dr. Poonam mengimbau masyarakat untuk mengusahakan tubuh tetap aktif bergerak melalui tindakan-tindakan ringan.
"Semakin sedikit Anda duduk, semakin baik," ujar dr. Poonam.
Untuk menunjang aktivitas fisik, dr. Frank memberikan rekomendasi berupa latihan angkat beban sebanyak dua hingga tiga kali dalam seminggu serta rutin berjalan kaki setiap hari.
Menjaga Hubungan Sosial yang Sehat
Faktor penentu panjangnya usia seseorang ternyata tidak hanya terbatas pada pengelolaan pola makan dan olahraga semata, melainkan juga dipengaruhi oleh interaksi sosial.
Studi yang dilakukan oleh Harvard selama delapan dekade membuktikan adanya korelasi kuat antara tingkat kebahagiaan, hubungan interpersonal, dan pemanjangan usia.
"Pastikan Anda menghabiskan waktu dengan orang-orang yang memulihkan energi Anda," tutur dr. Frank.
Memberi Waktu bagi Tubuh dan Pikiran untuk Beristirahat
Banyak individu yang sering kali dihinggapi rasa bersalah ketika memilih untuk tidak melakukan aktivitas apa pun di tengah jadwal harian yang padat.
Namun, dr. Poonam menegaskan bahwa meluangkan waktu untuk berdiam diri bukanlah sebuah tindakan yang negatif.
Mengistirahatkan otak dengan tidak melakukan aktivitas dinilai krusial dalam menjaga kesehatan jangka panjang.
Ia menganjurkan masyarakat untuk meluangkan waktu sekitar satu hingga dua menit setiap hari demi duduk dalam keheningan total tanpa adanya gangguan eksternal.
Ritual kecil tersebut bermanfaat dalam membantu sistem tubuh mengelola level stres dan kecemasan secara lebih optimal.
Di sisi lain, dr. Frank mengingatkan bahwa esensi dari hidup sehat bukan berarti seseorang harus mengeliminasi seluruh bentuk kesenangan hidup.
Tindakan sesekali seperti mengonsumsi makanan manis atau menikmati waktu santai bersama keluarga merupakan elemen penting dalam menjaga keseimbangan hidup.
"Kesenangan sesekali bukanlah kompromi terhadap praktik umur panjang. Itu justru bagian darinya," kata dr. Frank.