Dokter Spesialis Ingatkan Jemaah Haji Waspadai Suhu 43 Derajat Makkah

Dokter Spesialis Ingatkan Jemaah Haji Waspadai Suhu 43 Derajat Makkah

Jemaah haji Indonesia mulai menghadapi tantangan cuaca ekstrem di Makkah dengan suhu udara mencapai 43 derajat Celsius yang memicu dehidrasi hingga kulit melepuh. Kondisi ini dilaporkan langsung dari klinik satelit Hotel Alhidayah Tower Company pada Senin (4/5/2026) sebagaimana dilansir dari Detikcom.

Dokter spesialis paru, Dessy Mizarti Zailirin, menjelaskan bahwa fenomena panas terik tersebut berdampak signifikan terhadap kondisi fisik para jemaah di Tanah Suci. Keluhan kesehatan yang muncul mulai dari kulit kering, rasa gatal, hingga luka bakar ringan akibat paparan matahari.

"Untuk edukasi terkait cuaca memang lumayan kasus suhunya 43 derajat Celcius, jadi pasien lebih sering mengalami kulit kering, gatal-gatal sampai melepuh," ujarnya Dessy Mizarti Zailirin, dokter spesialis paru.

Dessy memaparkan bahwa petugas medis telah memberikan penanganan intensif bagi jemaah yang terdampak gangguan kesehatan tersebut. Meskipun belum ditemukan lonjakan kasus dalam kategori berat, tindakan pencegahan terus disosialisasikan secara masif.

"Juga untuk yang misalnya kulit kering, pecah-pecah sampai melepuh itu, kita juga sudah melakukan perawatan," tambahnya Dessy Mizarti Zailirin, dokter spesialis paru.

Guna meminimalisasi risiko gangguan pernapasan dan sengatan panas, tim medis menyarankan jemaah untuk selalu menjaga kelembapan pada alat pelindung diri. Masker yang disemprot air dinilai efektif menjadi filter udara panas yang masuk ke paru-paru.

"Kenakan masker, dan untuk maskernya sedapat mungkin dilembabkan, dilakukan spray (disemprot) kepada masker dan dipasang," jelasnya Dessy Mizarti Zailirin, dokter spesialis paru.

Selain faktor eksternal, asupan cairan menjadi kunci utama menjaga stamina selama ibadah haji berlangsung. Jemaah ditekankan untuk tidak menunggu rasa haus muncul sebelum meminum air.

"Jemaah juga dianjurkan untuk banyak minum, terutama menggunakan oralitnya, dimasukkan ke dalam air dan minum sedikit-sedikit tapi sering. Dan jangan sampai menunggu haus baru minum," katanya Dessy Mizarti Zailirin, dokter spesialis paru.

Penggunaan oralit sering kali disalahpahami oleh sebagian besar jemaah sebagai obat khusus gangguan pencernaan. Padahal, kandungan elektrolit di dalamnya sangat krusial untuk menjaga keseimbangan mineral tubuh di tengah cuaca ekstrem.

"Banyak jemaah yang menganggap oralit itu hanya sebagai obat diare saja, padahal itu penting untuk stamina mereka," tambahnya Dessy Mizarti Zailirin, dokter spesialis paru.

Bagi jemaah yang memiliki kebiasaan merokok, tim kesehatan memberikan imbauan khusus untuk melakukan pembatasan konsumsi tembakau. Langkah ini penting untuk menghindari komplikasi pernapasan serius di tengah lingkungan yang gersang.

"Terutama yang merokok, sedapat mungkin kalaupun saat ini tidak bisa untuk berhenti langsung, paling tidak dikurangi sedikit-sedikit. Jangan sampai timbul keluhan batuk yang akan menyebabkan sesak nafas," ujarnya Dessy Mizarti Zailirin, dokter spesialis paru.

Terakhir, jemaah juga diingatkan untuk melindungi kesehatan kulit dengan penggunaan produk perawatan kulit secara rutin. Pengaplikasian pelembap secara berkala dapat mencegah kerusakan jaringan kulit akibat paparan radiasi ultraviolet yang tinggi.

"Pelembabnya (gunakan) sesering mungkin, tipis-tipis saja tapi sering," tambahnya Dessy Mizarti Zailirin, dokter spesialis paru.

Artikel terkait

Rekomendasi