Otoritas kesehatan Brasil mengonfirmasi dua kasus kematian akibat hantavirus di negara bagian Minas Gerais dan Rio Grande do Sul hingga Senin (11/5/2026). Infeksi ini dilaporkan menyerang warga di wilayah pedesaan dan dipastikan tidak memiliki kaitan dengan wabah serupa yang terjadi di kapal pesiar Argentina pada awal April lalu.
Sekretariat Kesehatan Rio Grande do Sul melaporkan satu kematian terjadi di Paulo Bento, sementara satu kasus kontaminasi lainnya terdeteksi di Antônio Prado. Di Minas Gerais, seorang pria berusia 46 tahun asal Carmo do Paranaíba meninggal dunia setelah terpapar virus melalui kontak dengan tikus liar di area pertanian.
Kementerian Kesehatan Brasil mencatat bahwa penularan paling umum terjadi di daerah agraris melalui urine, air liur, dan kotoran tikus liar. Pihak berwenang menegaskan bahwa jenis virus yang ditemukan di Brasil berbeda dengan strain Andes yang memicu transmisi antarmanusia di kapal pesiar MV Hondius milik Oceanwide Expeditions.
Selain laporan kematian, negara bagian Paraná juga mengonfirmasi dua kasus positif hantavirus di wilayah Pérola D'Oeste dan Ponta Grossa pada Jumat (8/5/2026). Saat ini, 11 kasus tambahan sedang dalam proses investigasi oleh dinas kesehatan setempat untuk memantau potensi penyebaran lebih lanjut.
Berdasarkan data historis, tren kasus hantavirus di Rio Grande do Sul menunjukkan fluktuasi selama enam tahun terakhir. Puncak infeksi tertinggi di wilayah tersebut terjadi pada tahun 2022 dengan total sembilan orang yang terkontaminasi.
| Tahun | Jumlah Kasus |
|---|---|
| 2025 | 8 kasus |
| 2024 | 7 kasus |
| 2023 | 6 kasus |
| 2022 | 9 kasus |
| 2021 | 3 kasus |
| 2020 | 1 kasus |
Gejala hantavirus di Brasil sering kali berkembang menjadi sindrom kardiopulmoner yang diawali dengan demam, nyeri otot, dan mual. Masyarakat yang beraktivitas di gudang, jalur lintas hutan, atau lokasi panen diimbau menggunakan alat pelindung diri dan menghindari penggunaan sapu yang dapat menerbangkan debu terkontaminasi.