Dunia Medis Resmi Ubah Nama PCOS Menjadi PMOS

Dunia Medis Resmi Ubah Nama PCOS Menjadi PMOS

Dunia medis secara resmi mengubah nama gangguan hormonal Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) menjadi Polyendocrine Metabolic Ovarian Syndrome (PMOS) guna memperjelas kondisi kesehatan pasien. Perubahan identitas medis ini dilakukan untuk menghapus persepsi keliru bahwa penderita selalu memiliki kista besar di ovarium mereka.

Langkah besar ini diambil setelah konsensus global yang melibatkan 56 organisasi pasien dan profesional selama 14 tahun terakhir sebagaimana dilansir dari Detik Health. Istilah baru tersebut dirancang untuk mencakup aspek metabolisme dan sistem endokrin yang selama ini sering terabaikan dalam diagnosis lama.

Dr Alla Vash-Margita dari Yale School of Medicine menjelaskan bahwa penamaan kista ovarium sebelumnya justru menyederhanakan masalah yang sebenarnya jauh lebih kompleks secara sistemik.

"Ada banyak stigma dan mitos terkait nama ini. Orang-orang mengira mereka memiliki kista besar, padahal tidak," ujar Alla Vash-Margita kepada CNN.

Penggunaan nama baru ini diharapkan dapat meningkatkan pendanaan riset untuk kesehatan wanita yang selama ini dinilai masih minim. Selain itu, status PMOS sebagai gangguan metabolik kompleks diharapkan mampu mempermudah akses jaminan kesehatan dan asuransi bagi para pasien di berbagai negara.

Dr Muhammad Fadli, SpOG memberikan klarifikasi mengenai kebingungan pasien yang sering merasa ovariumnya bersih saat pemeriksaan USG meski mengidap kondisi ini.

"Orang awam bilang polycystic, harusnya ada kista banyak dong? Padahal itu bukan kista. Kalau kista kan cairannya besar-besar. Ini folikel-folikel kecil yang tidak bisa berkembang karena masalah di hormon dan kelenjarnya," tegas Fadli kepada detikcom.

Fadli menambahkan bahwa pemahaman baru ini sangat krusial bagi pasien di Indonesia agar pengobatan yang diberikan bisa lebih tepat sasaran melalui terapi gaya hidup. Fokus penanganan kini beralih pada perbaikan metabolisme dasar daripada sekadar upaya menghilangkan kista fisik yang sebenarnya tidak ada.

"Penyebab utamanya adalah metabolisme yang terganggu. Bisa jadi ada sakit gula atau penumpukan lemak. Jadi 1st line therapy-nya adalah perbaikan gaya hidup. Jika metabolismenya diperbaiki, kelenjar akan mengeluarkan hormon yang seimbang, dan pasien bisa hamil di kemudian hari," tutup Fadli.

Pergeseran definisi ini didasarkan pada temuan sejak tahun 1980-an yang menghubungkan kondisi hormon pria yang tinggi dengan resistensi insulin. Dr Andrea Dunaif dari Mount Sinai menyebutkan bahwa kaitan erat antara gangguan reproduksi dan sistem pengirim pesan kimiawi tubuh menjadi alasan penyematan kata metabolic dalam nama PMOS.

Dr Christina Boots dari Northwestern University turut menyoroti potensi besar dari perubahan nomenklatur ini terhadap masa depan penelitian medis wanita. Dengan diakuinya PMOS sebagai kondisi metabolik seperti diabetes, kolaborasi multidisiplin antara dokter kandungan, ahli gizi, dan psikolog kini menjadi standar baru dalam perawatan pasien.

"Ada banyak stigma dan mitos terkait nama ini. Orang-orang mengira mereka memiliki kista besar, padahal tidak," ujar Alla Vash-Margita kepada CNN.

Artikel terkait

Rekomendasi