Firma komunikasi global Edelman baru saja merilis temuan terbaru mengenai pergeseran pola kepercayaan di tengah masyarakat Indonesia. Laporan bertajuk 2026 Edelman Trust Barometer Indonesia Report: Trust Amid Insularity ini menyoroti munculnya kecenderungan masyarakat untuk menarik diri ke dalam kelompok yang serupa.
Dilansir dari Money, data menunjukkan bahwa rata-rata 66 persen penduduk Indonesia saat ini memiliki pola pikir insular. Fenomena ini ditandai dengan munculnya keraguan untuk mempercayai individu yang memiliki perbedaan nilai, latar belakang, hingga sumber informasi.
Meskipun demikian, posisi Indonesia secara global masih tergolong kuat dengan indeks kepercayaan berada di angka 73. Skor ini mencakup evaluasi publik terhadap institusi pemerintah, sektor bisnis, media massa, hingga organisasi swadaya masyarakat (LSM).
Sektor pemberi kerja atau perusahaan tempat bekerja menjadi institusi yang paling dipercaya dengan angka mencapai 92 persen. Posisi selanjutnya diikuti oleh sektor bisnis sebesar 80 persen, pemerintah 68 persen, dan LSM yang mencatatkan angka 67 persen.
Laporan tersebut mengidentifikasi empat faktor utama yang memberikan tekanan besar terhadap stabilitas kepercayaan di Indonesia. Tekanan pertama berkaitan erat dengan kecemasan ekonomi, di mana 79 persen karyawan merasa khawatir akan potensi kehilangan pekerjaan akibat resesi.
Selain itu, sebanyak 77 persen responden menyatakan kecemasan mereka terhadap dampak konflik perdagangan global. Kekhawatiran ini terutama tertuju pada stabilitas perusahaan tempat mereka mencari nafkah sehari-hari.
Tekanan kedua terlihat dari penurunan optimisme terhadap masa depan generasi mendatang yang turun sembilan poin menjadi 56 persen. Ketiga, terdapat kesenjangan kepercayaan yang lebar hingga 26 poin antara kelompok masyarakat berpenghasilan tinggi dan rendah.
Krisis informasi menjadi tekanan keempat yang cukup signifikan dalam laporan tahun ini. Kekhawatiran terhadap intervensi asing dalam penyebaran informasi bohong meningkat drastis sebesar 15 poin hingga menyentuh angka 72 persen.
Insularitas Sebagai Krisis Kepercayaan Baru
Managing Director Edelman Indonesia, Nia Pratiwi, menjelaskan bahwa meski kepercayaan terhadap institusi masih kuat, cara masyarakat membangunnya telah berubah total. Menurutnya, publik kini menjadi jauh lebih selektif dalam berinteraksi.
“Masyarakat kini menjadi lebih selektif, lebih memilih hal-hal yang terasa familiar, dan menghindari interaksi dengan sudut pandang yang berbeda. Kepercayaan kini semakin terkonsentrasi dalam lingkaran yang lebih dekat dan personal, sehingga insularitas dapat dilihat sebagai sebagai krisis kepercayaan berikutnya,” ujar Nia Pratiwi.
Diatyka Widya Permata Yasih, Dosen Sosiologi Universitas Indonesia, menilai fenomena ini sebagai upaya individu mencari kendali di tengah ketidakpastian. Menurutnya, penarikan diri ke kelompok yang familiar adalah respons alami saat sistem eksternal terasa tidak konsisten.
“Dalam masa penuh ketidakpastian, orang cenderung menarik diri untuk mengembalikan sense of control dan identitas mereka. Fenomena ini bukan semata-mata soal mencari kenyamanan, melainkan mencerminkan ketimpangan pengalaman individu terhadap institusi dan akses ke sumber daya,” kata Diatyka.
Dampak Pola Insular di Dunia Kerja
Tren ini mulai memberikan pengaruh nyata di lingkungan profesional dan operasional perusahaan. Sebanyak 35 persen karyawan menyatakan akan mengurangi kontribusi pada proyek jika dipimpin oleh orang dengan pandangan politik berbeda.
Bahkan, 43 persen responden memilih untuk pindah divisi daripada bekerja di bawah atasan yang tidak sejalan secara nilai. Di sisi lain, 38 persen responden menyuarakan dukungan untuk membatasi operasional perusahaan asing meski berisiko memicu kenaikan harga barang.
Kondisi ini menuntut organisasi publik maupun privat untuk merancang ulang strategi interaksi mereka. Managing Director of Stakeholders Management & Communications Danantara Indonesia, Rohan Hafas, menekankan pentingnya transparansi dalam membangun kredibilitas.
“Sebagai sovereign fund yang melayani salah satu populasi terbesar di dunia, kami perlu berkomunikasi dengan cara yang tidak hanya kredibel secara institusional, tetapi juga benar-benar mudah diakses oleh masyarakat, sehingga media sosial menjadi sangat penting,” ucap Rohan.
Harapan publik terhadap peran CEO juga tercatat sangat tinggi, di mana 80 persen responden ingin pemimpin perusahaan aktif membangun kepercayaan. Selain itu, 81 persen responden menilai penting bagi pemimpin untuk tetap berinteraksi secara konstruktif dengan pihak yang melontarkan kritik.
Data komprehensif ini dikumpulkan oleh Edelman selama periode Oktober hingga November 2025. Studi global ini melibatkan total 33.938 responden yang tersebar di 28 negara, termasuk partisipasi aktif dari masyarakat Indonesia.