Edi Utomo Jalani 700 Kali Cuci Darah Akibat Gagal Ginjal Stadium 5

Edi Utomo Jalani 700 Kali Cuci Darah Akibat Gagal Ginjal Stadium 5

Edi Utomo (26) mendadak viral di media sosial setelah membagikan kisah perjuangannya melawan penyakit gagal ginjal kronis stadium 5 sejak tahun 2019. Pemuda ini kini rutin menjalani prosedur cuci darah sebanyak dua kali dalam seminggu untuk menyambung hidupnya.

Hingga saat ini, total prosedur medis yang telah ia lalui diperkirakan mencapai hampir 700 kali. Sebagaimana dilansir dari Detik Health, Edi berupaya memberikan edukasi kepada masyarakat luas melalui akun Instagram pribadinya agar orang lain tidak mengalami kondisi medis serupa.

"Tujuan ngonten ya ingin membagikan pengalaman saya biar banyak orang yang nggak kena gagal ginjal seperti saya," ungkap Edi.

Riwayat kesehatan Edi menunjukkan bahwa kegagalan fungsi ginjal tersebut berawal dari masalah tekanan darah tinggi atau hipertensi. Ia meyakini kondisi ini dipicu oleh kebiasaan mengonsumsi mi instan secara berlebihan dalam jangka panjang.

"Aku nggak merokok dan nggak ngopi. Jadi yang menyebabkan hipertensi aku itu kebanyakan makan mi instan," kata Edi.

Selama masa pertumbuhannya, Edi mengaku sering mengonsumsi lebih dari dua bungkus mi instan dalam sehari. Kadar natrium yang tinggi pada bumbu produk tersebut dinilai menjadi faktor utama melonjaknya tekanan darah yang ia alami.

"Mi instan itu kan bumbunya asin banget. Nah, natrium itu bikin tensi naik, jadi hipertensi. Aku kalau makan mi instan itu hampir setiap hari dan itu biasanya lebih dari satu. Itu terjadi selama aku masih kecil sampai gede," sambung Edi.

Gejala awal yang dirasakan Edi bermula dari rasa meriang saat terkena angin serta penurunan stamina yang signifikan selama beberapa bulan. Kondisi tersebut berlanjut pada munculnya rasa mual yang terus-menerus sebelum akhirnya didiagnosis secara medis.

"Sekitar 2-3 bulan dari yang kayak berasa meriang, ini tenaga juga habis, beda kayak biasanya," ceritanya.

Awalnya, Edi mengira gejala mual dan muntah tersebut hanyalah masuk angin biasa sehingga ia hanya mengonsumsi obat-obatan umum. Namun, kondisinya justru memburuk hingga menimbulkan rasa nyeri pada area perut.

"Terus selang 3 bulanan, aku pulang ya itu muncul rasa mual muntah. Mual muntah sama kayak orang mau masuk angin gitu. Mau muntah, tapi nggak keluar muntahnya," sambung Edi.

Pemeriksaan medis awal sempat menduga adanya gangguan lambung, namun pengobatan yang diberikan tidak membuahkan hasil. Edi akhirnya dilarikan ke rumah sakit saat kondisi fisiknya benar-benar melemah dan baru diketahui bahwa ginjalnya sudah rusak permanen.

"Aku udah drop banget nggak kuat ngapa-ngapain. Aku dibawa ke RS di daerah tempatku, jadi baru ketahuan kalau aku sakit gagal ginjal kronis udah langsung stage 5," ungkap Edi.

Saat pertama kali dirawat, tekanan darah Edi menyentuh angka 200 yang mengharuskannya langsung menjalani cuci darah. Ia menegaskan bahwa gagal ginjal akibat hipertensi seringkali tidak menunjukkan gejala awal yang nyata sebelum akhirnya kondisi tubuh merosot tajam.

"Tensi udah tinggi banget di 200-an, langsung stage 5 harus wajib cuci darah. Dan kalau gagal ginjal kronis karena hipertensi rata-rata nggak ada gejala, langsung drop gitu aja," ceritanya lagi.

Kini kondisi kesehatan Edi cenderung stabil meski ia tetap mudah merasa lelah dalam menjalani aktivitas harian. Selain cuci darah rutin, ia harus disiplin mengonsumsi obat hipertensi dan membatasi asupan makanan yang mengandung natrium, kalium, dan kolesterol.

"Gejala yang dirasakan sekarang mungkin gampang capek aja. Cuci darah seminggu 2 kali. Total udah hampir 700 kali," katanya.

Edi juga diwajibkan menghindari konsumsi daging, susu, makanan kemasan, serta buah-buahan tertentu seperti belimbing. Ia pun tidak diperbolehkan mengangkat beban berat pada lengan yang digunakan sebagai akses pembuluh darah untuk proses hemodialisis.

"Untuk aktivitas nggak boleh angkat-angkat berat di lengan yang ada ciminonya (akses pembuluh darah untuk cuci darah)," tandas Edi.

Artikel terkait

Rekomendasi