Stigma negatif dan minimnya akses informasi mengenai menstruasi di Indonesia memicu peningkatan risiko masalah kesehatan reproduksi. Kondisi ini juga berdampak pada tingginya potensi penularan infeksi menular seksual (IMS) serta HIV di kalangan generasi muda.
Seperti diberitakan oleh Suara, pemahaman yang baik tentang kesehatan menstruasi memiliki peran krusial dalam menjaga kesehatan reproduksi remaja. Literasi yang memadai dapat membantu mencegah berbagai risiko kesehatan berbahaya sejak dini.
Hambatan berupa kurangnya informasi yang benar mengenai menstruasi masih menjadi tantangan besar di berbagai negara, termasuk Indonesia. Budaya bungkam membuat remaja perempuan sering kali enggan bertanya saat menghadapi masalah reproduksi.
Dampaknya, banyak remaja tidak mengetahui cara mengelola masa menstruasi dengan aman dan higienis. Padahal, kesadaran ini mencakup pemahaman perubahan tubuh, kebersihan diri, hingga kemampuan mengambil keputusan terkait kesehatan seksual.
Kepala Biro Asia AIDS Healthcare Foundation (AHF), Dr. Chhim Sarath, menyatakan bahwa stigma yang melekat pada menstruasi berdampak langsung terhadap kesehatan perempuan.
"Di banyak wilayah Asia, stigma dan sikap bungkam seputar menstruasi masih terus membatasi akses terhadap produk menstruasi maupun informasi kesehatan yang sangat penting," ujarnya.
Menurutnya, ketidakmampuan mengelola menstruasi secara aman dapat meningkatkan kerentanan terhadap HIV dan penyakit IMS lainnya.
Secara global, sekitar 500 juta dari dua miliar orang yang mengalami menstruasi masih menghadapi kemiskinan menstruasi. Fenomena ini meliputi keterbatasan akses pembalut, fasilitas sanitasi layak, hingga lingkungan yang mendukung.
Kondisi tersebut membuat banyak remaja perempuan terpaksa absen dari sekolah. Dalam jangka panjang, hal ini mengganggu kesempatan pendidikan, memperburuk kerentanan ekonomi, dan memperbesar risiko hubungan tidak sehat.
Direktur Rehabilitasi Sosial Korban Penyalahgunaan Napza dan ODHIV Kementerian Sosial RI, Anna Puspasari, menilai literasi kesehatan yang baik merupakan fondasi penting tumbuh kembang remaja.
"Remaja yang cerdas paham akan kesehatan tubuhnya, dan memiliki literasi informasi yang baik, akan memiliki harga diri (self-esteem) yang kuat. Remaja yang percaya diri dan teredukasi cenderung memiliki benteng pertahanan yang kokoh untuk menolak segala bentuk risiko sosial, termasuk bahaya penyalahgunaan Napza dan penularan HIV," tuturnya.
Pengetahuan yang cukup membuat remaja lebih siap menghadapi tantangan sosial di lingkungan sekitar. Upaya menghapus stigma menjadi langkah penting karena menstruasi adalah proses biologis normal yang harus dibicarakan secara terbuka.
Merespons situasi tersebut, AHF Indonesia bersama Kementerian Sosial RI menggelar kegiatan edukatif di Sentra Handayani, Jakarta, pada 25 Mei 2026. Agenda ini dilaksanakan dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Menstruasi yang jatuh setiap 28 Mei.
Acara tersebut melibatkan siswa sekolah menengah pertama dan atas dari Sekolah Rakyat Sentra Handayani dan Sentra Mulya Jaya. Kegiatan dikemas melalui edukasi kesehatan reproduksi, sesi kuis berhadiah, serta siaran langsung di media sosial.
Melalui langkah ini, AHF Indonesia berupaya mendorong peningkatan kesadaran publik dan mengurangi stigma masyarakat. Edukasi tersebut diharapkan dapat memperkuat pemahaman remaja dalam menjaga kesehatan reproduksi dan mencegah HIV sejak usia dini.