PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA) berhasil merebut peringkat kedelapan dalam jajaran sepuluh besar saham dengan nilai kapitalisasi pasar terbesar di Bursa Efek Indonesia pada Rabu (13/5/2026). Emiten infrastruktur telekomunikasi milik Grup Sinar Mas tersebut menggeser posisi PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) setelah mencatatkan nilai kapitalisasi pasar menembus angka Rp 328 triliun.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia yang dilansir dari asatunews.co.id, PT Telkom Indonesia Tbk kini harus menempati urutan kesembilan. Nilai kapitalisasi pasar perusahaan telekomunikasi milik negara tersebut tercatat sebesar Rp 293 triliun.
| Peringkat | Nama Perusahaan (Kode Emiten) | Nilai Kapitalisasi Pasar |
|---|---|---|
| 1 | PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) | Rp 744 triliun |
| 2 | PT DCI Indonesia Tbk (DCII) | Rp 484 triliun |
| 3 | PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) | Rp 468 triliun |
| 4 | PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) | Rp 428 triliun |
| 5 | PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) | Rp 388 triliun |
| 6 | PT Bayan Resources Tbk (BYAN) | Rp 373 triliun |
| 7 | PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) | Rp 372 triliun |
| 8 | PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA) | Rp 328 triliun |
| 9 | PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) | Rp 293 triliun |
| 10 | PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) | Rp 268 triliun |
MORA sendiri merupakan entitas yang terbentuk dari penggabungan usaha antara PT Mora Telematika Indonesia Tbk dan PT Eka Mas Republik yang efektif berjalan sejak 22 April 2026. Sebelum merger, Moratelindo mengoperasikan kabel serat optik sepanjang lebih dari 57 ribu kilometer serta enam pusat data berkapasitas 3,3 megawatt hingga September 2025, sementara MyRepublic Indonesia mengelola jaringan serat optik sepanjang 58 ribu kilometer dengan cakupan 8,7 juta homepass.
Menghadapi persaingan ini, Telkom sedang mempersiapkan pemisahan usaha aset serat optik melalui PT Telkom Infrastruktur Indonesia yang ditargetkan selesai pada kuartal ketiga tahun 2026. Riset dari BRI Danareksa Sekuritas mengungkapkan adanya arahan dari Danantara agar TLKM mengonsolidasikan aset serat optik milik PLN Icon Plus yang memiliki panjang jaringan lebih dari 400 ribu kilometer.
“Kami memperkirakan bahwa penambahan aset serat optik milik PLN akan membantu memulihkan skala bisnis serta memperkuat potensi monetisasi, sehingga lebih menarik bagi investor strategis,” tulis analis BRI Danareksa Sekuritas, Kafi Ananta dan Erindra Krisnawan dalam risetnya.
Langkah konsolidasi aset tersebut saat ini sedang didiskusikan secara intensif oleh pihak-pihak terkait sebagai strategi alternatif dari akuisisi korporasi langsung. Melalui rencana pelepasan 20 persen hingga 30 persen saham Infranexia kepada investor strategis, nilai wajar saham TLKM diproyeksikan mampu meningkat ke rentang Rp 4.100 sampai Rp 4.500.