Ekstrak umbi bawang bombay atau Allium cepa ditemukan mampu menurunkan kadar gula darah tinggi hingga 50 persen pada subjek diabetes. Penemuan ini dipresentasikan dalam penelitian di San Diego dan dilansir dari Detik Health pada Kamis (14/5/2026).
Uji coba dilakukan terhadap tikus laboratorium yang diinduksi diabetes secara medis dengan pemberian dosis ekstrak bawang yang bervariasi. Hasil penelitian menunjukkan dosis 400 mg per kilogram berat badan memberikan penurunan gula darah puasa yang paling signifikan.
Peneliti utama dari Delta State University di Abraka, Nigeria, Anthony Ojieh, MBBS (MD), MSc, menjelaskan kemudahan akses terhadap komoditas ini sebagai pendukung pengobatan.
"Bawang bombay murah dan mudah didapat serta telah dimanfaatkan sebagai suplemen nutrisi," kata Anthony Ojieh, MBBS (MD), MSc, dari Delta State University di Abraka, Nigeria.
Ojieh juga menekankan kegunaan tanaman ini di masa depan bagi para penderita gangguan metabolisme gula darah.
"Bawang bombay berpotensi digunakan untuk mengobati pasien diabetes," terangnya.
Dalam eksperimen tersebut, tim peneliti membagi subjek ke dalam beberapa kelompok yang menerima dosis 200 mg, 400 mg, dan 600 mg ekstrak bawang bersama metformin. Meskipun efektif menurunkan gula darah pada kelompok diabetes, ekstrak tersebut memicu kenaikan berat badan pada subjek non-diabetes.
Ojieh memberikan catatan mengenai kandungan energi dalam bawang bombay yang memengaruhi pola konsumsi subjek uji coba.
"Bawang bombay tidak tinggi kalori," kata Ojieh.
Peningkatan berat badan tersebut diduga berkaitan dengan perubahan laju metabolisme yang berdampak pada keinginan untuk makan.
"Namun, tampaknya hal itu meningkatkan laju metabolisme dan, dengan demikian, meningkatkan nafsu makan, yang menyebabkan peningkatan konsumsi makanan," tambahnya.
Selain faktor nutrisi, pengelolaan diabetes juga memerlukan perubahan gaya hidup sesuai anjuran medis. Spesialis penyakit dalam, dr Erpryta Nurdia Tetrasiwi, SpPD, memberikan saran terkait durasi aktivitas fisik mingguan yang ideal.
"Kalau bisa paling tidak 150 menit sehari. Dan ini ada catatannya, kalau memungkinkan jangan ada jeda 2 hari berturut-turut, misalnya hari ini olahraga, hari ini olahraga, besok istirahat bentar, boleh deh, tapi kalau bisa usahakan besok olahraga lagi. Seperti itu, dan jangan lupa untuk re-evaluasi berkala, karena kalau sekali doang ya percuma," kata spesialis penyakit dalam dr Erpryta Nurdia Tetrasiwi, SpPD.
Tindakan pencegahan melalui pemeriksaan laboratorium secara rutin menjadi kunci untuk mendeteksi kondisi pra-diabetes maupun diabetes sejak dini.
"Kalau masalah gula harus cek lab, tentu saja. Tidak hanya gula sewaktu, jadi harus diagnosis untuk diabetes melitus itu, paling tidak ada gula darah puasa, atau namanya HbA1c, ya itu adalah rata kadar gula darah 2-3 bulan terakhir, dimana kita jadi tahu, 'oh saya ini aman nggak sih?' Atau saya masuk ke prediabetes, atau saya sudah diabetes, seperti itu," kata dr Erpryta dalam acara detikcom Leaders Forum, Jumat (31/10/2025).