Penelitian terbaru dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengonfirmasi bahwa perpaduan tiga ekstrak tanaman asal Indonesia beserta aktivitas luar ruangan di hutan efektif menekan pertumbuhan sel kanker pada Minggu (10/5/2026).
Pusat Riset Bahan Baku Obat dan Obat Tradisional BRIN memanfaatkan kunyit, daun sirsak, serta bekatul beras hitam untuk diuji pada sel kanker payudara T47D dan sel kanker kolon WiDr. Hasil pengujian laboratorium tersebut menunjukkan adanya aktivitas sitotoksik yang kuat untuk menghentikan penyebaran sel.
Berdasarkan data riset, terdapat perbedaan komposisi formula optimal untuk jenis kanker yang berbeda. Kanker payudara membutuhkan dominasi daun sirsak sebesar 86,4 persen, sementara kanker kolon memerlukan konsentrasi kunyit hingga 95,9 persen guna mencapai hasil maksimal.
"Uji sitotoksisitas dilakukan menggunakan metode MTT assay terhadap sel kanker payudara T47D, sel kanker kolon WiDr, serta sel normal Vero. Hasil analisis menunjukkan bahwa ekstrak kunyit, daun sirsak, dan bekatul beras hitam mengandung golongan senyawa fenolik, flavonoid, terpenoid, alkaloid, dan steroid yang berperan dalam aktivitas antikanker," jelas Rizal Maarif Rukmana, Peneliti BRIN.
Rizal menjelaskan bahwa temuan ini dipicu oleh keprihatinan atas tingginya beban kasus kanker di tingkat global yang telah menyentuh angka 32,6 juta orang. Inovasi ini diharapkan mampu memperkuat kemandirian sektor farmasi nasional dengan menghadirkan pilihan terapi yang lebih ekonomis bagi masyarakat.
"Sementara itu, formula terbaik sebagai antikanker kolon diperoleh dari kombinasi ekstrak kunyit 95,9%, daun sirsak 2,6%, dan bekatul beras hitam 1,5% dengan nilai IC50 sebesar 32,18 ± 2,38 µg/mL. Hasil ini menunjukkan bahwa kombinasi bahan alam dapat memberikan aktivitas antikanker yang optimal melalui efek sinergis antar senyawa bioaktif," ungkap Rizal.
Selain pendekatan herbal, studi dari Stanford Lifestyle Medicine menunjukkan bahwa interaksi dengan alam melalui aktivitas berkemah atau forest bathing selama tiga hari mampu mendongkrak aktivitas sel Natural Killer (NK) hingga 50 persen. Sel NK merupakan bagian dari sistem imun yang bertugas menghancurkan sel tumor dalam tubuh.
Paparan ion negatif dan senyawa monoterpen dari pepohonan hutan diketahui mampu menurunkan kadar hormon stres serta memicu produksi protein pelawan kanker seperti perforin dan granzim. Para pakar merekomendasikan interaksi dengan alam minimal dua hingga tiga jam tanpa gangguan gawai untuk mendapatkan manfaat kesehatan ini.
Meskipun hasil riset bahan alam ini menunjukkan potensi besar, BRIN menegaskan bahwa rangkaian uji coba masih harus berlanjut ke tahap pengujian pada hewan dan uji klinis pada manusia. Hal ini diperlukan untuk memastikan standar keamanan dan efikasi sebelum formula tersebut dapat diproduksi serta digunakan secara luas oleh publik.