Emiten Poultry Cetak Pertumbuhan Solid pada Kuartal I 2026

Emiten Poultry Cetak Pertumbuhan Solid pada Kuartal I 2026

Kinerja emiten sektor peternakan atau poultry mencatatkan pertumbuhan solid dan melampaui ekspektasi pasar pada Kuartal I 2026 akibat tingginya harga ayam hidup serta efisiensi operasional, seperti dilansir dari Investasi pada Jumat (22/5/2026).

Sektor ini mampu bertahan kuat di tengah tekanan kenaikan biaya bahan baku pakan. Penguatan efisiensi tersebut berhasil menekan pertumbuhan beban pokok penjualan di bawah pertumbuhan pendapatan emiten.

Kondisi positif pada awal tahun ini dikonfirmasi oleh Head of Research KISI Sekuritas, Muhammad Wafi, yang menilai pencapaian sektor poultry tersebut cukup memuaskan.

"Kinerja Kuartal I-2026 solid dan di atas ekspektasi. Penopangnya harga live bird dan DOC yang tinggi serta efisiensi operasional yang mampu menekan kenaikan COGS (cost of goods sold) di bawah pertumbuhan pendapatan," ujarnya Muhammad Wafi, Head of Research KISI Sekuritas.

Komponen pakan menyumbang sekitar 50 persen dari total biaya produksi emiten poultry. Mayoritas bahan baku pakan seperti bungkil kedelai dan feed additive masih harus diimpor menggunakan mata uang dolar AS.

"Dampaknya signifikan terhadap struktur biaya dan margin. Emiten terintegrasi seperti CPIN dan JPFA relatif lebih mampu menyerap tekanan dibandingkan MAIN," tambahnya Muhammad Wafi, Head of Research KISI Sekuritas.

Memasuki periode Kuartal II 2026, pergerakan kinerja emiten poultry diproyeksikan akan cenderung bervariasi dengan tantangan kompresi margin.

"Kuartal II akan cenderung mixed. Permintaan masih terjaga, tetapi margin akan terkompresi akibat normalisasi harga ayam pasca high season serta kenaikan biaya bahan baku berbasis dolar AS," kata Muhammad Wafi, Head of Research KISI Sekuritas.

Keterbatasan ruang untuk menaikkan harga jual ke tingkat peternak juga menjadi tantangan operasional berikutnya akibat sensitivitas industri terhadap daya beli masyarakat.

"Kemampuan pass-through terbatas. Harga live bird memang masih tinggi karena suplai terkendali, tetapi ruang menaikkan harga ke peternak sempit," ujar Muhammad Wafi, Head of Research KISI Sekuritas.

Dari sisi ketahanan fundamental, CPIN dinilai menjadi emiten paling tangguh karena didukung oleh posisi kas yang tebal serta tingkat utang yang rendah.

"CPIN paling resilien dengan DER (debt to equity ratio) 0,32 kali, kas Rp7,43 triliun, dan ROE (return on equity) 28%. JPFA juga cukup kuat dari sisi diversifikasi segmen, sementara MAIN relatif lebih rentan terhadap tekanan biaya," jelas Muhammad Wafi, Head of Research KISI Sekuritas.

Pandangan mengenai kekuatan sektor poultry ini juga didukung oleh Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo, yang melihat stabilitas permintaan domestik masih terjaga.

"Kinerja emiten poultry pada Kuartal I-2026 masih solid, didukung membaiknya harga ayam hidup, permintaan domestik yang stabil, serta efisiensi operasional," jelas Abdul Azis Setyo Wibowo, Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia.

Pelemahan nilai tukar rupiah berpotensi meningkatkan biaya pakan hewani karena ketergantungan impor bahan baku yang tinggi sehingga menekan tingkat profitabilitas.

"JPFA relatif paling resilien karena memiliki diversifikasi pendapatan dan eksposur hilir yang cukup besar," ujarnya Abdul Azis Setyo Wibowo, Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia.

Artikel terkait

Rekomendasi