Konsumsi hidangan tinggi lemak seperti gulai dan rendang kerap meningkat saat momen Idul Adha. Kebiasaan berlebih ini perlu dicermati karena berpotensi memengaruhi kadar kolesterol di dalam tubuh.
Kadar kolesterol tinggi pada wanita dewasa usia 20 tahun ke atas memiliki tolok ukur tersendiri. Dilansir dari Wolipop, kolesterol total dikategorikan tinggi jika menembus angka 200 mg desiliter darah (mg/dL).
Sementara itu, parameter untuk non-HDL berada di atas 130 mg/dL. Untuk kadar LDL atau kolesterol jahat, batas tinggi bermula dari angka 100 mg/dL atau lebih.
Kemunculan kolesterol tinggi pada kaum perempuan dipengaruhi oleh kombinasi faktor usia, kebiasaan harian, hingga kondisi medis tertentu. Beberapa pemicu tersebut ada yang bersifat dapat dikendalikan maupun tidak dapat diubah.
Fluktuasi hormon menjadi salah satu penyebab utama, terutama saat memasuki fase perimenopause dan menopause. Penurunan hormon estrogen memicu kenaikan kolesterol total, trigliserida, dan low-density lipoprotein (LDL).
Kondisi ini berjalan beriringan dengan menyusutnya Anti-Mullerian Hormone (AMH) yang menjadi indikator kesuburan. Perubahan hormonal tersebut patut diwaspadai karena berisiko meningkatkan ancaman penyakit jantung.
Faktor pertambahan usia juga menurunkan efisiensi tubuh dalam membersihkan kolesterol dari aliran darah. Efek penuaan ini bekerja lebih signifikan pada tubuh perempuan karena bersinggungan langsung dengan fase menopause.
Masalah kesehatan tertentu turut andil dalam memicu kerentanan ini, baik akibat penyakit itu sendiri maupun efek samping pengobatan. Beberapa di antaranya meliputi diabetes, penyakit ginjal kronis, lupus, HIV, hypothyroidism, sleep apnea, dan PCOS.
Meskipun mengidap kondisi tersebut, risiko kolesterol tetap dapat ditekan melalui penerapan pola hidup yang sehat. Kebiasaan kurang baik seperti diet tinggi lemak jenuh, stres, minim olahraga, merokok, alkohol, obesitas, dan kurang tidur wajib diperbaiki.
Kenaikan kadar lemak darah ini juga bisa dipicu oleh konsumsi obat-obatan tertentu. Jenis obat seperti steroid, antipsikotik, antikonvulsan, serta imunosupresan seperti siklosporin dan takrolimus memiliki pengaruh signifikan.
Obat jantung dan hipertensi seperti beta-blocker dan diuretik ikut memengaruhi metabolisme lemak. Selain itu, obat aritmia amiodarone, obat diabetes seperti Jardiance dan Farxiga, hingga perawatan kulit berbahan retinol seperti Accutane juga memberikan dampak serupa.
Faktor terakhir bersumber dari garis keturunan atau genetika melalui mutasi yang memicu familial hypercholesterolemia (FH). Akibat kondisi FH ini, kadar LDL dapat terus melonjak seiring usia, di mana wanita sering kali mengalami keterlambatan diagnosis dibanding pria.