Fitri Ariyani Sukses Kembangkan Sandal Tatag Yogyakarta Hingga Pasar Nasional

Fitri Ariyani Sukses Kembangkan Sandal Tatag Yogyakarta Hingga Pasar Nasional

Niat tulus bersedekah dapat menjadi awal mula terciptanya peluang bisnis yang menjanjikan. Kisah inspiratif ini datang dari Fitri Ariyani, seorang wanita asal Yogyakarta yang sukses membangun usaha kerajinan alas kaki bernama Sandal Tatag sejak tahun 2021.

Seperti dilansir dari Suara, usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang kini memproduksi berbagai jenis sandal custom tersebut awalnya bermula dari sebuah kebiasaan sederhana di tempat ibadah.

Sebelum pandemi Covid-19 melanda, Fitri Ariyani gemar melakukan perjalanan jarak jauh atau touring sepeda motor bersama rekan-rekan komunitasnya ke berbagai daerah. Dalam setiap pelesiran tersebut, mereka kerap singgah di masjid untuk menunaikan ibadah salat.

Namun, Fitri Ariyani sering menghadapi kendala berupa tidak tersedianya alas kaki khusus untuk mengambil air wudhu.

“Awalnya dulu, sebelum covid masih sering touring motoran sama teman-teman. Tiap motoran singgah di kota mana, kebetulan saya muslim, mampir di masjid,” kata Fitri kepada Suara.com.

“Kendalanya sering tidak ada sandal. Kemudian, sama teman-teman tidak sekadar jalan-jalan, paling nggak harus ada impact yang bagus,” lanjutnya.

Guna mengatasi persoalan tersebut, Fitri Ariyani dan rekan-rekannya berinisiatif membawa beberapa pasang sandal setiap kali melakukan touring. Sandal-sandal itu sengaja ditinggalkan di area wudhu masjid agar dapat dimanfaatkan oleh jemaah lain yang membutuhkan.

“Kalau ke kota mana lagi, bawa sandal. Begitu salat ditinggal. Jadi, nanti orang berikutnya kalau mau salat tidak mengalami kekurangan sandal,” tuturnya.

Akan tetapi, muncul persoalan baru karena sandal jepit model biasa yang mereka tinggalkan sering kali hilang atau tertukar akibat bentuknya yang terlalu umum. Fitri Ariyani kemudian berupaya mencari alas kaki dengan desain cutting yang unik agar tidak mudah terbawa oleh orang lain.

Awalnya, produk tersebut dibeli dari luar kota untuk keperluan komunitas. Melihat tingginya permintaan dan potensi pasar yang terbuka, Fitri Ariyani memutuskan untuk menjadi reseller sebanyak 20 pasang, hingga akhirnya memberanikan diri memproduksi mandiri di bawah bendera Sandal Tatag.

“Kalau mau bolang, pesan sandal dulu kemudian saya bawa bolang. Saya pikir-pikir bisa jadi peluang. Luar kota, kalau pesan sedikit kena ongkir. Terus kadang komunitas banyak yang mau nyumbang,” ujar Fitri.

Proses produksi Sandal Tatag dilakukan secara rumahan atau homemade di kawasan Baciro, Yogyakarta. Melalui ruang yang terbatas, seluruh tahapan mulai dari pemotongan bahan, perakitan, hingga pengemasan dikerjakan secara manual.

“Iya homemade. Ini beneran di rumah. Saya punya alat itu 2021 akhir, ternyata ada peluang. Masih beneran manual,” ujar Fitri.

Kini, Sandal Tatag telah bertransformasi menjadi produk custom yang melayani kebutuhan sekolah, komunitas, instansi, hingga perusahaan nasional. Produknya pun telah didistribusikan ke berbagai pusat oleh-oleh ternama seperti Raminten, Krisna, hingga Bandar Udara Internasional Yogyakarta (YIA).

"Sandal ini sudah kirim ke berbagai daerah di Indonesia. Sekarang juga dijual di toko oleh-oleh kayak Raminten, Krisna, sampai YIA," ungkap Fitri.

Perkembangan pesat Sandal Tatag tidak terlepas dari peran fasilitasi PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI. Melalui keterlibatan dalam berbagai pameran berkala sejak tahun 2022, brand lokal ini berhasil memperluas jaringan bisnis ke segmen korporasi maupun yayasan.

“Kalau BRI itu ikut pameran di Mandala Krida, tahun 2022. Pesta Rakyat, ikut pameran di situ. Dapat fasilitas. Dua tahun berturut-turut ikut,” ujar Fitri.

“Enaknya ngejar pameran lebih ke situ. Bukan langsung closing lalu sudah. Entah yang datang yayasan, perusahaan, kampus. Banyak closing yang panjang itu dari pameran,” katanya.

Selain keikutsertaan pameran, Fitri Ariyani memperoleh pembinaan intensif di Rumah BUMN BRI Sagan, Yogyakarta. Saat ini, pelaku UMKM tersebut sedang dipersiapkan untuk menembus pasar digital global melalui program BRIncubator tingkat nasional.

“Kemudian ikut pendampingan di Rumah BUMN di Sagan. Terus kalau yang BRI mau nasional. Hari ini mau dihubungin. Didaftarin ke BRIncubator nasional,” imbuhnya.

Koordinator Rumah BUMN BRI Yogyakarta, Fiera Dwi Hapsari, menjelaskan mekanisme pembinaan terstruktur yang diberikan kepada para pelaku usaha binaan agar siap bersaing di pasar internasional.

"Di BRI itu, inkubasinya ada dua. Pertama, ada BRIncubator lokal itu yang menyediakan Rumah BUMN. Kedua, BRIncubator nasional. Kalau yang tingkat nasional, akan ditangani langsung tim kantor pusat," ujar Fiera.

"Jadi, ada step-stepnya. Teman-teman UMKM mengikuti dulu BRIncubator lokal. Kemudian, akan inkubasi dengan lebih dalam lagi di BRIncubator nasional," lanjutnya.

Fiera Dwi Hapsari menambahkan, para pelaku UMKM yang lolos kualifikasi nasional nantinya akan difasilitasi dalam ajang pameran besar di Jakarta untuk dipertemukan langsung dengan para pembeli dari luar negeri.

"Nanti berkelanjutan juga. Setelah BRIncubator nasional, nanti BRI itu ada BRI UMKM EXPO(RT). Expo besarnya itu. Nanti akan ada expo di Jakarta, BRI mendatangkan buyer-buyer dari luar negeri untuk membantu business matching di sana," tuturnya menambahkan.

Apresiasi dari Sektor Akademis

Langkah ekspansif yang ditunjukkan oleh Sandal Tatag turut mendapat perhatian positif dari kalangan akademisi ekonomi Universitas Sanata Dharma, Devi Farmasita. Ia menilai keberhasilan usaha ini didorong oleh konsistensi yang kuat dari sang pemilik.

"Menurut saya sudah sangat bagus ya. Di zaman sekarang itu jarang sekali ada yang memulai bisnis dari nol, perlahanan menggunung," kata Devi.

"Intinya hanya niat. Kalau kita ada niat berbisnis. Mau modal berapapun akan jadi. Tidak memikirkan modal terlalu besar. Apapun bisnisnya, rumahan, umkm, maupun kecil-kucilan. Kuncinya konsisten," imbuhnya.

Devi Farmasita juga memaparkan bahwa pemanfaatan ekosistem digital pada masa kini memberikan fleksibilitas tinggi bagi para pelaku usaha kecil untuk dapat tumbuh tanpa kendala keterbatasan ruang fisik.

“Kita usaha di zaman sekarang memang tidak harus tempat yang luas, tidak perlu buat toko dan sebagainya. Sekarang digital juga banyak. Diupload bisa laku,” ujar dosen program studi manajemen tersebut.

Bagi sektor pendidikan, pola pengembangan usaha berbasis industri rumahan seperti yang dijalankan Fitri Ariyani dapat diadopsi sebagai rujukan nyata bagi para pelajar maupun mahasiswa yang ingin merintis dunia wirausaha.

“Keren banget. Itu UMKM yang mungkin bisa ditiru kalangan pelajar atau mahasiswa yang modalnya minim, bahkan mungkin tidak punya modal, tapi mau berkembang. Mungkin bisa menjadi usaha yang besar nantinya,” tuturnya menambahkan.

Artikel terkait

Rekomendasi