Gen Z Pilih Resign Cepat Demi Cari Peluang Berkembang

Gen Z Pilih Resign Cepat Demi Cari Peluang Berkembang

Pekerja Gen Z kini menjadi perhatian dalam dunia profesional karena durasi masa kerja mereka yang dinilai semakin singkat. Dilansir dari Money, riset terbaru menunjukkan pergeseran pandangan generasi muda mengenai arti loyalitas dan komitmen berkarier.

Survei Gateway Commercial Finance terhadap 1.000 pekerja Gen Z dan manajer perekrutan mendapati rata-rata generasi ini hanya bertahan 1,8 tahun di satu tempat kerja. Angka tersebut memperkuat pandangan umum mengenai kecenderungan mereka untuk berpindah-pindah pekerjaan.

Fenomena ini mencerminkan sikap tegas generasi muda terhadap lingkungan kerja yang kurang mendukung. Mereka menolak eksploitasi, upah rendah, serta ekosistem kerja yang tidak menghargai karyawan.

Data survei mengungkap sebanyak 47 persen pekerja Gen Z berniat meninggalkan posisi mereka saat ini dalam kurun waktu kurang dari setahun. Bahkan setengah dari responden menyatakan siap mengundurkan diri sewaktu-waktu jika mendapati penawaran yang lebih baik.

Hanya seperempat dari pekerja Gen Z yang merasa terikat untuk bertahan lama di instansi tempat mereka bekerja sekarang. Kurang dari separuh responden yang masih percaya bahwa loyalitas satu tempat kerja memberikan keuntungan di pasar tenaga kerja modern.

Profesor sosiologi University of Illinois Kevin Leicht menjelaskan bahwa perubahan cara pandang ini telah berlangsung selama bertahun-tahun.

"Selama bertahun-tahun kita diberi tahu bahwa karier stabil sudah menjadi masa lalu," kata Leicht, dikutip dari New York Post.

"Era bekerja lebih dari 30 tahun di perusahaan yang sama sudah berakhir," tutur dia.Menurut Kevin Leicht, ketidakpastian ekonomi dan tingginya risiko pemutusan hubungan kerja membentuk pola pikir Gen Z. Hal tersebut membuat mereka melihat hubungan kerja secara lebih transaksional.

Kesehatan Mental dan Ruang Pertumbuhan Jadi Prioritas

Gen Z terbukti lebih selektif dalam memilih kebudayaan kerja dan nilai yang diusung instansi tempat mereka bernaung. Mereka lebih mengutamakan kepuasan kerja, keseimbangan hidup, serta kesejahteraan pribadi dibanding kesetiaan konvensional pada korporasi.

Pola pikir ini mendorong munculnya berbagai tren baru seperti quiet quitting hingga keengganan bekerja lembur tanpa imbalan setimpal. Pekerjaan tidak lagi dianggap sebagai identitas utama, melainkan bagian hidup yang harus berjalan seimbang dengan aspek personal.

Faktor pengembangan kompetensi juga memegang peran krusial dalam keputusan bertahannya pekerja muda. Laporan Youngstown State University mencatat 46 persen pekerja Gen Z bersedia mengundurkan diri demi mendapatkan kesempatan peningkatan karier yang lebih baik.

Pekerja muda aktif mencari perusahaan yang memfasilitasi pelatihan, jenjang karier yang transparan, hingga fleksibilitas peningkatan kemampuan.

"Ketika kesempatan berkembang terbatas, pekerja mulai mempertimbangkan untuk pergi," demikian isi laporan tersebut.

Pete Freeman dari Youngstown State University menyatakan bahwa banyak pekerja Gen Z telah menyiapkan rencana keluar jika ruang pertumbuhan terhambat.

"46 persen Gen Z bersedia resign demi kemajuan karier yang lebih baik," ujar Freeman.

Menariknya, besaran upah bukan menjadi alasan utama di balik keputusan tersebut. Bagi mereka, pengalaman kerja berfungsi sebagai sarana aktualisasi diri.

Definisi Baru Stabilitas Kerja

Meskipun kerap dikaitkan dengan budaya berpindah kantor, generasi muda sebenarnya tetap mendambakan stabilitas dengan pemaknaan berbeda. Studi Admiral menunjukkan 75 persen Gen Z menginginkan kepastian kerja dan berharap bisa bertahan hingga tujuh tahun di satu instansi.

Namun, kesetiaan ini diwujudkan lewat konsep employer for life, bukan job for life. Pekerja bersedia menetap di perusahaan yang sama asalkan diberikan ruang untuk berpindah peran dan menghadapi tantangan baru.

Tantangan Retensi Karyawan bagi Perusahaan

Kecenderungan ini membuat manajemen perusahaan mulai mengevaluasi ulang strategi mempertahankan talenta. Sebanyak 36 persen manajer perekrutan mengaku sempat menghindari pelamar dari Gen Z karena kekhawatiran terhadap riwayat kerja yang singkat.

Kendati demikian, riset yang dipublikasikan dalam ResearchGate menunjukkan keterikatan emosional menjadi aspek paling dominan dalam memicu loyalitas. Program keterlibatan karyawan dan komunikasi internal yang interaktif terbukti mampu menekan angka pengunduran diri.

Perubahan relasi kerja ini didorong pula oleh adaptasi sistem kerja hybrid dan remote working pascapandemi. Majalah TIME melaporkan bahwa faktor lingkungan kerja yang sehat serta fleksibilitas tinggi kini menjadi komoditas utama yang dicari generasi muda selain gaji yang kompetitif.

Artikel terkait

Rekomendasi