Cara generasi muda dalam memandang karier kini mulai mengalami pergeseran. Jika dulu kesuksesan identik dengan jabatan tinggi dan kenaikan posisi yang cepat, banyak pekerja Gen Z dan milenial sekarang lebih memilih jalur karier yang realistis, sehat, dan berkelanjutan.
Laporan Deloitte Global 2026 Gen Z and Millennial Survey, seperti dikutip dari Money, menunjukkan bahwa generasi muda sekarang lebih berhati-hati dalam menentukan arah karier. Hal ini terjadi di tengah tekanan biaya hidup, perubahan teknologi, hingga kekhawatiran soal kesehatan mental.
Survei yang melibatkan lebih dari 22.500 Gen Z dan milenial di 44 negara itu menemukan bahwa posisi kepemimpinan tidak lagi menjadi tujuan utama. Hanya 6 persen Gen Z dan milenial yang menyebut posisi kepemimpinan sebagai tujuan karier utama mereka.
Mayoritas dari kedua generasi tersebut lebih memilih pertumbuhan karier yang stabil dibanding promosi cepat. Sebanyak 44 persen Gen Z dan 45 persen milenial mengaku lebih memilih kemajuan yang stabil dalam karier mereka.
Sementara itu, mereka yang menginginkan pertumbuhan cepat dengan promosi dan kenaikan jabatan hanya mencapai 25 persen Gen Z dan 21 persen milenial. Sekitar 20 persen responden bahkan bersedia berpindah secara lateral atau menerima posisi lebih junior demi pengalaman jangka panjang yang sesuai.
Deloitte menyebut generasi muda mulai mendefinisikan ulang arti kemajuan karier. Kesuksesan tidak lagi diukur dari seberapa tinggi atau cepat seseorang naik jabatan, tetapi apakah perjalanan karier itu dapat dijalani tanpa mengorbankan kehidupan pribadi.
Integrated marketing and communications executive sekaligus adjunct professor Texas Christian University (TCU) dan University of Dallas, Megan Korns Russell, mengatakan bahwa Gen Z dan milenial melihat hidup lebih luas daripada sekadar mengejar posisi di kantor.
"Generasi milenial dan Gen Z sangat menginginkan kesempatan untuk memiliki kehidupan yang utuh, yang bukan hanya tentang meniti karier di perusahaan. Mereka menghargai kesejahteraan," kata Russell dalam laporan tersebut.
Hal senada juga tercermin dari pengakuan para responden survei mengenai kepuasan kerja dan pemisahan kehidupan pribadi.
"Saya ingin pekerjaan yang membuat saya merasa terpenuhi. Saya tidak harus selalu mendapatkan promosi untuk merasa puas. Saya ingin bisa pulang, menjalani hidup, dan punya pemisahan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi," ujar Nita, responden Gen Z.
Responden lain bernama Zeina juga menyebutkan bahwa definisi sukses bagi dirinya kini lebih banyak terkait dengan keseimbangan hidup.
"Kesuksesan memiliki arti yang berbeda bagi setiap orang. Bagi saya, ini semua tentang keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi," terang dia.
Jabatan Tinggi Identik dengan Burnout
Meski tidak menolak kepemimpinan sepenuhnya, banyak Gen Z dan milenial menganggap posisi manajerial identik dengan tekanan besar. Survei Deloitte menunjukkan, alasan utama generasi muda enggan mengejar posisi kepemimpinan adalah stres dan burnout.
Faktor burnout ini disebut oleh 50 persen Gen Z dan 49 persen milenial. Selain itu, 50 persen Gen Z dan 48 persen milenial menilai posisi pemimpin membawa terlalu banyak tanggung jawab, sedangkan kekhawatiran soal keseimbangan hidup menjadi alasan bagi 41 persen Gen Z dan 46 persen milenial.
Global Future of Work Leader Deloitte, Nic Scoble-Williams, mengatakan bahwa rendahnya minat terhadap posisi kepemimpinan bukan berarti generasi muda tidak ingin memimpin.
"Menarik sekali bahwa hanya sedikit yang memprioritaskan kepemimpinan, tetapi saya tidak berpikir itu berarti ‘tidak ada yang ingin memimpin.’ Hanya saja, itu bukan satu-satunya hal yang penting bagi mereka," ujar dia.
Menurut Scoble-Williams, pekerja muda kini tidak lagi melihat posisi manajerial sebagai satu-satunya cara untuk memberikan dampak atau mendapatkan pengakuan.
Namun, minat jangka panjang terhadap posisi kepemimpinan sebenarnya masih cukup tinggi. Sebanyak 76 persen Gen Z dan 67 persen milenial mengaku tertarik mengejar posisi eksekutif atau kepemimpinan senior di masa depan.
Sementara 80 persen Gen Z dan 73 persen milenial tertarik mengambil peran supervisor atau manajerial. Mereka ingin posisi tersebut hadir dengan kondisi kerja yang lebih fleksibel dan sehat.
Global Chief Strategy Officer Deloitte Global, Mike Canning, mengatakan bahwa generasi muda mempertimbangkan rasa aman dan kualitas hidup sebelum memutuskan mengambil posisi pemimpin.
"Peran kepemimpinan masih menarik, tetapi perlu menawarkan fleksibilitas," sebut Canning.
Tekanan Biaya Hidup Pengaruhi Pilihan
Tekanan ekonomi menjadi faktor besar yang membentuk keputusan karier generasi muda. Biaya hidup menjadi kekhawatiran utama Gen Z dan milenial selama lima tahun terakhir, dengan persentase 38 persen Gen Z dan 42 persen milenial.
Tekanan finansial ini membuat banyak generasi muda menunda berbagai keputusan besar dalam hidup. Sebanyak 55 persen Gen Z dan 52 persen milenial mengaku menunda keputusan seperti menikah, punya anak, membuka bisnis, atau melanjutkan pendidikan.
Selain itu, 51 persen Gen Z dan 40 persen milenial merasa tidak mampu membeli rumah. Kondisi tersebut memengaruhi cara mereka memandang stabilitas karier dan pekerjaan.
"Kekhawatiran utama saya adalah biaya hidup. Harga rumah telah meningkat begitu pesat," ujar Mel, responden milenial dalam survei tersebut.
Menurut Mel, banyak pekerjaan yang menawarkan gaji yang tidak lagi sebanding dengan biaya hidup di kota tempat tinggal mereka.
Kecerdasan Buatan Jadi Strategi Bertahan
Di tengah ketidakpastian ekonomi, Gen Z dan milenial semakin aktif mengembangkan keterampilan baru. Deloitte mencatat bahwa kemampuan beradaptasi kini menjadi strategi utama generasi muda untuk menjaga relevansi karier mereka.
Keterampilan yang paling banyak ingin dikembangkan oleh Gen Z antara lain public speaking, kepemimpinan, AI, kemampuan komunikasi, dan kreativitas. Sementara pada milenial, kemampuan AI menjadi keterampilan yang paling banyak ingin dipelajari.
Penggunaan AI juga meningkat tajam dalam dunia kerja. Sekitar 74 persen Gen Z dan milenial kini menggunakan AI dalam pekerjaan sehari-hari, naik signifikan dibanding tahun sebelumnya.
AI tidak hanya dipakai untuk produktivitas kerja, tetapi juga untuk pengembangan karier. Sebanyak 79 persen responden menggunakan AI untuk mencari peluang belajar, sementara sekitar 70 persen memanfaatkannya untuk mencari nasihat karier.
Chief People Officer Eightfold AI, Meghna Punhani, mengatakan bahwa kemampuan paling penting di masa depan bukan hanya soal teknologi, tetapi juga rasa ingin tahu dan kemauan terus belajar.
"Keterampilan yang paling penting untuk masa depan adalah rasa ingin tahu, mengajukan pertanyaan yang tepat, dan kelincahan untuk terus belajar," ucap Punhani.
Bagi banyak Gen Z dan milenial, perubahan dunia kerja yang cepat membuat mereka tidak lagi mengandalkan stabilitas jangka panjang.
"Mengapa saya harus mengharapkan stabilitas? Saya hanya perlu menciptakan jalan saya sendiri," ujar Russell menggambarkan cara pandang generasi muda saat ini.
Survei ini merupakan bagian dari Deloitte Global 2026 Gen Z and Millennial Survey yang telah memasuki edisi ke-15. Deloitte menghimpun pandangan lebih dari 22.500 responden dari 44 negara.
Dalam survei ini, Gen Z didefinisikan sebagai responden yang lahir pada 1995 hingga 2007, sementara milenial merupakan mereka yang lahir pada 1983 hingga 1994.
Deloitte juga melengkapi laporan ini dengan wawancara kualitatif bersama para pemimpin bisnis di berbagai pasar untuk melihat pandangan generasi muda mengenai dunia kerja, kehidupan pribadi, kepemimpinan, hingga perubahan teknologi.