Gojek dan Grab Hapus Layanan Hemat untuk Pengemudi Ojol

Gojek dan Grab Hapus Layanan Hemat untuk Pengemudi Ojol

PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GoTo) dan Grab Indonesia resmi menghentikan program langganan hemat bagi pengemudi ojek online guna menciptakan ekosistem yang lebih berkelanjutan, seperti dilansir dari Megapolitan pada Selasa (19/5/2026).

Kebijakan penutupan layanan bertarif murah tersebut disambut gembira oleh sejumlah mitra pengemudi di Tangerang karena dinilai membebani pendapatan harian dan memicu biaya operasional yang tidak sebanding.

Direktur Utama GoTo Hans Patuwo menjelaskan bahwa skema bagi hasil GoRide Hemat ke depannya akan dialihkan mengikuti GoRide Reguler dengan potongan sebesar 8 persen per perjalanan.

"Kami memutuskan untuk menghentikan program langganan tersebut, efektif dalam waktu dekat," ujar Direktur Utama GoTo Hans Patuwo.

Langkah penyesuaian potongan ini juga menjadi tindak lanjut dari arahan pemerintah yang sebelumnya telah menetapkan penurunan potongan bagi hasil pengemudi ojek online dari sebesar 20 persen per perjalanan.

Sejalan dengan langkah GoTo, Grab Indonesia turut mengumumkan penutupan Program Langganan Akses Hemat bagi mitra pengemudi GrabBike.

"Kami menilai diperlukan penyesuaian yang lebih baik lagi. Penutupan program langganan ini juga dilakukan guna menciptakan ekosistem yang berkelanjutan bagi seluruh pihak," ujar Neneng Goenadi, CEO Grab Indonesia.

Merespons kebijakan tersebut, seorang pengemudi ojek online di Pondok Aren, Tangerang Selatan bernama Cecep (45) menyatakan dukungannya terhadap keputusan aplikator.

"Saya pribadi bergembira dengan keputusan Grab dan Gojek menghentikan program ini. Mudah-mudahan setelah layanan Hemat dihentikan, penghasilan driver bisa naik lagi dan lebih sesuai dengan aturan dalam Perpres," kata Cecep.

Ia menaruh harapan besar agar penghapusan program ini mampu memberikan dampak positif secara langsung terhadap pemulihan pendapatan para mitra pengemudi.

"Putusan ini bisa menguntungkan driver, terutama dari sisi pendapatan. Dengan tidak adanya tarif yang terlalu murah, diharapkan order yang masuk memiliki nilai yang lebih layak bagi pengemudi," ujar Cecep.

Meski demikian, Cecep mengaku regulasi baru ini tidak memberikan dampak yang terlalu signifikan bagi dirinya secara personal.

"Saya lebih nyaman ambil order biasa, ya sesuai aja sama kondisi kerja dan penghasilan yang saya harapkan,” ujar Cecep.

Dukungan senada turut diutarakan oleh pengemudi ojek online lainnya, Anjas (29), yang mengeluhkan sistem program hemat karena mewajibkan driver membayar biaya tertentu kepada pihak aplikator.

"Kalau hemat itu berbayar. Kita bayar buat masuk ke Bike Hemat, ke argo-argo hemat," kata Anjas.

Anjas memaparkan bahwa besaran potongan biaya harian yang dibebankan kepada pengemudi sangat bergantung pada akumulasi jumlah pesanan yang mereka terima dalam sehari.

"Kalau di Grab tergantung orderan. Misalnya satu sampai dua order itu Rp 3.000, dua sampai empat order Rp 8.500, terus maksimal sehari bisa sampai Rp 20.000," jelas Anjas.

Ia menyayangkan pemotongan dana operasional tersebut karena seharusnya bisa dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan harian para pengemudi di lapangan.

"Harusnya bisa buat beli bensin, harusnya bisa buat beli makan, malah jadi kepotong ke aplikasi karena program hemat," kata Anjas.

Walaupun mendukung penuh penghapusan program tersebut, Anjas tetap menyimpan kekhawatiran tersendiri mengenai potensi berpindahnya pelanggan ke platform pesaing akibat penyesuaian tarif.

"Harapannya hemat dihapus, tapi orderan tetap ada terus," ucap Anjas.

Artikel terkait

Rekomendasi