Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengonfirmasi temuan lima kasus Hantavirus yang terjadi di atas kapal pesiar MV Hondius pada Senin (11/5/2026). Peristiwa ini memicu kekhawatiran publik setelah tiga orang dilaporkan meninggal dunia, dengan satu kasus terkonfirmasi positif sementara sisanya masih dalam penyelidikan.
Hantavirus Pulmonary Syndrome merupakan penyakit zoonosis yang menyerang paru-paru dengan hewan pengerat seperti tikus liar sebagai reservoir utamanya. Berdasarkan catatan sejarah yang dilansir dari Lifestyle, virus ini pertama kali diidentifikasi di Korea Selatan pada 1976 dan sempat menyebabkan wabah fatal di Amerika Serikat pada 1993.
Epidemiolog dari Griffith University Dicky Budiman menjelaskan bahwa di Indonesia, virus ini ditemukan pada tikus kota atau rumah, terutama di kawasan rawan seperti pelabuhan.
"Reservoir utama dari hantavirus itu adalah hewan pengerat seperti tikus liar. Kalau di Indonesia juga ditemukan pada tikus kota atau tikus rumah di beberapa lokasi, terutama yang sangat rawan di daerah pelabuhan," kata Dicky Budiman, Epidemiolog Griffith University.
Penularan kepada manusia biasanya terjadi melalui aerosol dari partikel urin, feses, atau air liur tikus yang mengering di udara. Selain itu, kontak dengan permukaan terkontaminasi atau gigitan tikus juga menjadi jalur infeksi yang mungkin terjadi meski lebih jarang ditemukan.
Dicky Budiman menyebutkan bahwa penyakit ini dapat memicu kerusakan pembuluh darah dan gagal napas akut yang menyerupai Acute Respiratory Distress Syndrome.
"Faktor yang mematikan tidak hanya berasal dari virus itu sendiri, tetapi juga akibat respons inflamasi berat yang dipicu tubuh serta kerusakan paru-paru yang berlangsung sangat cepat," jelas Dicky Budiman, Epidemiolog Griffith University.
Ahli epidemiologi penyakit menular WHO Maria Van Kerkhove menegaskan bahwa karakter penyebaran Hantavirus berbeda dengan virus corona karena memerlukan kontak yang sangat dekat.
"I want to make this very clear. This is not SARS-CoV-2. This is not the start of a Covid pandemic. This is an outbreak that we are seeing on a ship," ujar Maria Van Kerkhove, Ahli Epidemiologi Penyakit Menular WHO.
Otoritas kesehatan meyakini pasien pertama kemungkinan besar telah terinfeksi sebelum menaiki kapal pesiar tersebut. Investigasi juga menunjukkan tidak adanya tanda-tanda keberadaan tikus di dalam area kapal MV Hondius.
Juru bicara Uni Eropa Eva Hrcirova menyatakan bahwa risiko penyebaran virus ini kepada masyarakat umum di kawasan Eropa masih dikategorikan rendah.
"I have to repeat that according to the evidence we have so far, the risk for the public in Europe, the risk for European citizens, is low," kata Eva Hrcirova, Juru Bicara Uni Eropa.
Meskipun tingkat fatalitas pada kasus berat dapat mencapai 40 persen, para ahli menilai potensi pandemi sangat kecil. Profesor klinis bidang penyakit menular Michigan Medicine Dr. Emily Abdoler menekankan bahwa skala penyebaran virus ini tidak sebanding dengan pandemi besar lainnya.