Harga Emas Dunia Dongkrak Laba Emiten Tambang Kuartal I-2026

Harga Emas Dunia Dongkrak Laba Emiten Tambang Kuartal I-2026

Lonjakan harga emas global berhasil memperkuat pendapatan dan laba bersih sejumlah emiten pertambangan di Indonesia sepanjang kuartal I-2026 meskipun di tengah ketidakpastian suku bunga Amerika Serikat. Dilansir dari Investasi, tren solid ini terjadi pada perusahaan tambang yang memiliki basis pasar domestik maupun pasar ekspor.

PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) membukukan pendapatan sebesar Rp 29,32 triliun dengan kontribusi lini emas mencapai Rp 23,89 triliun atau sekitar 81 persen. Laba bersih perusahaan pelat merah ini melonjak hingga hampir 60 persen secara tahunan menjadi Rp 3,41 triliun dengan volume penjualan emas 8.464 kilogram.

Selanjutnya, PT Bumi Resources Minerals (BRMS) mengantongi pendapatan sebesar US$ 69,47 jua yang ditopang oleh penjualan emas senilai US$ 66,73 juta. Sementara itu, PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) mencatatkan kenaikan laba bersih 187,9 persen menjadi US$ 30,19 juta, dan PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) mulai mendapat sentimen positif dari fase produksi proyek emas Pani.

Analis Riset Bumiputera Sekuritas Muhammad Thoriq Fadilla menilai prospek kinerja emiten emas hingga paruh pertama tahun ini masih berpotensi tumbuh positif secara tahunan akibat besarnya harga jual rata-rata.

"Dengan demikian, hingga akhir semester I-2026, kinerja emiten emas masih berpeluang tumbuh positif secara tahunan. Namun, pertumbuhan kuartal II - 2026 kemungkinan tidak sekuat kuartal I - 2026 secara kuartalan karena harga emas mulai terkoreksi dari level puncaknya dan pasar mulai kembali memperhitungkan risiko suku bunga tinggi," ujar Thoriq pada Jumat (22/5/2026).

Thoriq menambahkan bahwa penguatan mata uang dolar Amerika Serikat dapat ikut mendorong margin keuntungan perusahaan tambang karena komoditas emas menggunakan acuan harga internasional.

"Namun, efek positif ini tidak otomatis penuh karena sebagian biaya juga bisa berbasis dolar, seperti alat berat, bahan kimia, suku cadang, pinjaman valas, royalti, dan biaya energi," jelas Thoriq.

Menurut pantauan Thoriq, emiten tambang tidak harus menjadi eksportir murni untuk mengamankan keuntungan dari fluktuasi kurs mata uang asing dan harga dunia karena pasar domestik tetap berkaca pada nilai internasional.

"Jadi, faktor terpenting bukan hanya ekspor atau domestik, melainkan apakah harga jual emiten terekspos pada harga emas global dan apakah struktur biayanya efisien," ucap Thoriq.

Meski begitu, pihak sekuritas tetap memberikan catatan terhadap aturan devisa hasil ekspor yang berpeluang membatasi pergerakan arus kas bagi para pelaku industri tambang.

"Jadi, basis ekspor tetap positif, tetapi perlu dilihat bersama risiko regulasi dan kebutuhan modal kerja masing-masing emiten," imbuh Thoriq.

Di sisi lain, tantangan makroekonomi global berupa kebijakan moneter dari bank sentral Amerika Serikat atau The Fed diprediksi masih menjadi penentu utama pergerakan sektor ini ke depan.

"Penguatan indeks dolar (DXY) menambah tekanan. Di sisi operasional, kenaikan biaya produksi harus diimbangi peningkatan volume agar margin terjaga," terang Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi.

Dari sudut pandang pelaku pasar modal, dinamika geopolitik global dan arah suku bunga merupakan faktor yang harus dicermati karena sangat memengaruhi pergerakan aset aman.

"Secara keseluruhan, sentimen utama yang diperkarakan akan memengaruhi kinerja sektor emas tetap berasal dari arah kebijakan moneter Amerika Serikat," ucap Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Adrian Djie.

Thoriq memberikan rekomendasi beli untuk saham ANTM di area 3.100–3.120 dengan target harga Rp 3.300, serta saham BRMS di area 630-635 dengan target Rp 700 per saham. Sementara itu, Wafi merekomendasikan beli saham ANTM dengan target Rp 4.250, BRMS dengan target Rp 820, ARCI dengan target Rp 1.550, dan menyarankan wait and see untuk saham MDKA.

Artikel terkait

Rekomendasi