Harga minyak mentah dunia mencatatkan penurunan tajam dalam sepekan hingga Jumat (8/5/2026) meski sempat menguat tipis di akhir perdagangan harian. Pelemahan ini dipicu oleh optimisme pasar terhadap proposal perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran yang dapat meredakan ketegangan di Selat Hormuz.
Data Refinitiv menunjukkan harga minyak Brent ditutup pada level US$101,29 per barel pada Jumat (8/5/2026), atau ambruk 6,36% dalam sepekan. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berakhir di posisi US$95,42 per barel, mencatatkan kejatuhan mingguan sebesar 10,17%.
Kondisi pasar saat ini dinilai sangat bergantung pada kepastian hasil negosiasi kedua negara di Timur Tengah. Mitra di Again Capital, John Kilduff, menyoroti posisi pasar yang sedang menanti terobosan diplomasi di tengah risiko pecahnya kembali konflik fisik.
"Kita saat ini masih bergerak di tempat, dan itu memang wajar. Kita berada di ambang terobosan dalam negosiasi, atau justru di ambang pecahnya kembali pertempuran. Situasi seperti ini sudah sering terjadi." kata John Kilduff, mitra di Again Capital.
Kilduff menambahkan adanya harapan besar dari pelaku pasar bahwa kesepakatan formal akan segera tercapai dalam waktu dekat.
"Ada keyakinan di pasar bahwa kesepakatan akan tercapai, dan kita akan memasuki tahap berikutnya, yaitu periode 30 hari untuk merampungkan perjanjian antara Iran dan Amerika Serikat," tambah Kilduff.
Analis senior di Price Futures Group, Phil Flynn, mengamati bahwa pergerakan harga saat ini sangat reaktif terhadap setiap berita utama yang muncul. Transaksi di pasar bergerak fluktuatif mengikuti perkembangan di lapangan.
"Kita masih memainkan permainan yang digerakkan oleh berita utama. Saat ini pasar hanya bereaksi terhadap perkembangan di pinggiran," kata Phil Flynn, analis senior di Price Futures Group.
Situasi geopolitik sempat memanas ketika Presiden AS Donald Trump melaporkan adanya kontak senjata di Selat Hormuz. Trump mengklaim kapal perang Amerika berhasil menghancurkan armada kecil milik Iran tanpa mengalami kerusakan berarti.
"Tidak ada kerusakan pada ketiga kapal perusak tersebut, tetapi kerusakan besar justru dialami kapal Iran," tulis Trump di akun Truth Social miliknya.
Trump memberikan rincian lebih lanjut mengenai dampak serangan tersebut terhadap kekuatan maritim Iran di kawasan tersebut.
"Mereka hancur total bersama dengan sejumlah perahu kecil," imbuhnya.
Meskipun terjadi bentrokan, Trump menegaskan bahwa upaya gencatan senjata masih diupayakan untuk menjaga kestabilan pasokan energi global. Namun, ia juga tetap melontarkan peringatan keras terkait program nuklir Teheran.
Analis dari PVM Oil Associates, John Evans, mempertanyakan kesiapan pasokan dari negara-negara Teluk jika situasi kembali normal serta dampak sanksi pasca-kesepakatan.
"Seberapa cepat pasokan dari negara-negara Teluk dapat kembali normal, bagaimana kondisi persediaan saat memasuki puncak musim konsumsi bensin, dan seperti apa bentuk sanksi setelah tercapainya kesepakatan merupakan pertanyaan penting," kata John Evans, analis dari PVM Oil Associates.
Di sisi lain, pendiri Vanda Insights, Vandana Hari, menilai pasar cenderung memberikan respons bertahap terhadap setiap pemulihan harga yang terjadi.
"Menariknya, setiap kali harga rebound, kenaikannya berlangsung bertahap dan tidak sepenuhnya pulih, sehingga sinyal-sinyal palsu tersebut tetap cukup efektif," kata Vandana Hari, pendiri Vanda Insights.
Sementara itu, volatilitas pasar diprediksi akan terus berlanjut mengingat adanya pergantian kepemimpinan di pihak Iran. Global Head of Commodities Research Citigroup, Max Layton, menyebut ketidakpastian ini membuat arah pasar sulit ditebak secara konsisten.
"Sulit diprediksi dengan kepemimpinan Iran yang baru, karena pasar akan bergerak ke sana ke mari seperti orang gila," jelas Layton, sebagaimana dikutip dari Bloomberg.
Bersamaan dengan fluktuasi harga, U.S. Commodity Futures Trading Commission (CFTC) kini sedang menyelidiki transaksi short selling minyak senilai US$7 miliar. Transaksi mencurigakan tersebut dilakukan tepat sebelum pengumuman kebijakan penting terkait Iran dikeluarkan oleh pemerintah Amerika Serikat.