Harga paladium berjangka mengalami penurunan hingga di bawah level US$ 1.400 per ons troi. Komoditas ini melemah setelah sempat berada dalam periode stabilisasi singkat.
Dilansir dari Investasi, pergerakan ini terjadi saat investor tengah menilai dampak inflasi yang dipicu oleh kenaikan harga energi. Selain itu, pasar juga mengantisipasi ekspektasi bahwa suku bunga bank sentral kemungkinan tetap bertahan tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama.
Tekanan di pasar diperparah oleh serangan militer Amerika Serikat (AS) terhadap target Iran di dekat Selat Hormuz. Peristiwa tersebut memperdalam kekhawatiran pelaku pasar atas potensi gangguan pasokan energi secara global.
Kondisi geopolitik ini turut mendorong harga minyak mentah Brent melonjak 2% hingga mencapai US$ 96,15 per barel. Lonjakan harga minyak tersebut memperkuat perkiraan bahwa bank sentral utama dunia kemungkinan bakal menunda langkah pelonggaran kebijakan moneter mereka.
Mengutip data Tradingeconomics pada Kamis (28/5), penguatan mata uang dolar AS dan prospek imbal hasil Treasury yang lebih tinggi ikut membebani sentimen pasar. Faktor-faktor tersebut memberikan tekanan tambahan bagi komoditas logam mulia yang tidak menghasilkan imbal hasil.
Kendati demikian, penurunan harga paladium masih tertahan oleh kondisi pasokan fisik yang ketat di pasar global. Tantangan produksi yang berlangsung di Afrika Selatan serta ketidakpastian ekspor dari Rusia menjaga kekhawatiran kelangkaan pasokan tetap tinggi.
Jika melihat tren jangka panjang, harga paladium saat ini sebenarnya masih tercatat 42,87% lebih tinggi dibandingkan dengan posisi pada periode yang sama tahun lalu. Walaupun dalam kurun waktu sebulan terakhir, nilainya sudah terpangkas sebesar 6,19%.