HIMKI Dorong Sinergi Kreativitas dan Industrialisasi Modern

HIMKI Dorong Sinergi Kreativitas dan Industrialisasi Modern

Kekuatan industri manufaktur modern berbasis teknologi dan disiplin produksi yang pesat di China menjadi perhatian serius bagi pelaku usaha nasional. Indonesia dinilai perlu bergerak lebih cepat dalam membangun ekosistem manufaktur yang kokoh agar tidak hanya menjadi pasar global.

Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Abdul Sobur menyoroti pesatnya perkembangan industri manufaktur di Negeri Tirai Bambu tersebut, dikutip dari Money. Pandangan ini dikemukakan setelah dirinya melakukan kunjungan ke kawasan industri furnitur dan woodworking machinery di Qingdao, Provinsi Shandong.

Dalam kunjungan tersebut, Abdul Sobur berpartisipasi dalam pameran furnitur serta woodworking machinery. Selain itu, ia juga meninjau langsung pabrik manufaktur mesin woodworking kelas premium.

Langkah ini memberikan gambaran nyata mengenai proses pembuatan mesin-mesin sanding dan finishing berteknologi tinggi yang diproduksi dengan tingkat presisi tinggi. Lini mesin finishing high gloss dan piano finis untuk produk premium dunia menjadi salah satu aspek yang menarik perhatiannya.

“Di lokasi pabrik, saya menyaksikan bagaimana mesin-mesin sanding dan finishing berteknologi tinggi diproduksi dengan presisi yang luar biasa. Salah satu yang menarik perhatian adalah lini mesin untuk finishing high gloss dan piano finis, kualitas permukaan yang biasa digunakan pada produk premium dunia,” ujar Sobur lewat keterangan pers, Jumat (15/5/2026).

Dirinya membandingkan sejarah kemerdekaan kedua negara, di mana Indonesia merdeka pada 1945, sementara China baru berdiri sebagai Republik Rakyat Tiongkok pada 1949. Namun, situasi di Qingdao menunjukkan bahwa kemerdekaan politik tidak serta-merta melahirkan kemerdekaan di sektor industri.

“Namun hari ini, setelah melihat langsung kawasan industri di Qingdao, saya memahami bahwa kemerdekaan politik ternyata tidak otomatis melahirkan kemerdekaan industri,” tukasnya.

Pemerintah China dinilai telah lama menyadari bahwa kekuatan sebuah bangsa modern bertumpu pada penguasaan industri, teknologi, serta disiplin produksi. Hal ini tercermin dari ekosistem industri yang terbangun secara matang di kawasan Qingdao.

Ekosistem tersebut mencakup kawasan manufaktur yang aktif, supply chain yang terintegrasi, serta dukungan pendidikan teknik. Di samping itu, terdapat keberanian investasi teknologi dan budaya kerja yang berorientasi pada efisiensi serta kualitas.

Di sisi lain, Indonesia dipandang memiliki keunggulan berbeda yang tidak kalah besar melalui kreativitas, seni, desain, dan inovasi. Salah satu contoh wilayah yang memiliki banyak talenta kreatif, perajin, serta desainer berbakat dengan kekayaan budaya besar adalah Kota Bandung.

“Di Indonesia, khususnya di Bandung, saya melihat sesuatu yang berbeda namun sama berharganya: kreativitas, seni, desain, dan jiwa inovasi. Kita memiliki banyak talenta kreatif, perajin hebat, desainer berbakat, dan kekayaan budaya yang luar biasa,” kata dia.

Meski memiliki potensi besar, kreativitas tanpa adanya proses industrialisasi dinilai akan sulit berkembang menjadi kekuatan ekonomi dunia. Sebaliknya, proses industrialisasi yang berjalan tanpa sentuhan kreativitas hanya akan menghasilkan produk massal yang tidak memiliki karakter.

Oleh karena itu, masa depan sektor industri Indonesia diharapkan tidak memilih salah satu di antara kedua aspek tersebut. Langkah strategis yang harus diambil adalah mempertemukan kreativitas dan industrialisasi dalam satu kekuatan baru.

Kota Bandung dan wilayah kreatif lainnya di Indonesia diharapkan tidak hanya menjadi tempat lahirnya ide-ide kreatif. Kota-kota tersebut ditargetkan mampu bertransformasi menjadi pusat produksi kreatif modern yang berbasis teknologi, desain, dan manufaktur kelas dunia.

“Bila kreativitas Indonesia dipertemukan dengan keberanian industrialisasi dan konsistensi kebijakan, maka Indonesia tidak hanya bisa menjadi pasar dunia, tetapi juga menjadi salah satu pusat produksi kreatif dunia di masa depan,” lanjutnya.

Artikel terkait

Rekomendasi